Laporkan Masalah

Upaya perbaikan produktivitas tanah sulfat masam

NOOR, Muhammad, Promotor Prof.Dr.Ir. KPH. Tejoyuwono Notohadikusumo

2004 | Disertasi | S3 Ilmu Tanah

Rangkaian penelitian telah dilaksanakan terdiri atas percobaan laboratorium, rumah kaca, dan lapangan. Penelitian laboratorium dilaksanakan masing-masing di Lab.Tanah BPTP Yogyakarta dan Fak. Pertanian Kuningan UGM. Percobaan rumah kaca (pot) dilaksanakan di Rumah Kaca Fak. Pertanian Kuningan UGM. Cuplikan tanah sulfat masam berasal dari wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, yaitu Tabunganen, Sungai Puntik, Basarang dan Palingkau. Adapun percobaan lapangan dilaksanakan di lahan usahatani UPT Tabunganen dan UPT Palingkau. Tujuan penelitian secara umum adalah untuk mendapatkan pola atau langkah-langkah perbaikan dalam pengelolaan tanah sulfat masam untuk budidaya tanaman pangan. Tujuan secara khusus untuk memahami (1) kesudahan reklamasi (penggenangan, pengeringan, pengatusan, dan pelindian) terhadap perubahan sifat-sifat kimia tanah, (2) kemampuan air laut (payau) sebagai penukar ionik yang dikombinasi dengan pemberian pupuk kandang, kapur dan batuan fosfat alam sebagai upaya perbaikan sifat kimia tanah dan peningkatan produktivitas lahan. Hasil penelitian (laboratorium) menunjukkan bahwa pembasahan berulang secara berselang (W1) meningkatkan pH larutan cuplikan, terutama pada tanah reaktif lemah (R1), menurunkan kadar kemasaman dan kadar unsur terlarut lainnya. Pembasahan yang diikuti pengeringan (W2) menurunkan kadar kemasaman dan unsur-unsur terlarut lainnya yang lebih besar dibandingkan dengan tanpa pengeringan (W1), terutama pada tanah reaktif kuat (R3). Hasil penelitian rumah kaca (pot) menunjukkan pelindian pada tanah reaktif kuat (R3) membebaskan sekitar 50% potensi kemasaman tanah dan menurunkan kadar pirit dari 5,94% menjadi 1,45%. Pelindian dengan air payau (P2) menghasilkan air lindian dengan pH larutan lebih rendah, Al3+ terlarut, kemasaman total terlarut, sulfat terlarut, dan besi terlarut lebih tinggi, terutama pada kondisi tanah berdaya alir baik (A3). Hasil penelitian di rumah kaca menunjukkan pelindian dengan air payau (P2) menampilan tinggi tanaman, berat kering tajuk, dan serapan hara K nisbi lebih tinggi dibandingkan dengan pelindian air tawar (P1). Pertumbuhan padi pada tanah reaktif kuat (RK) sangat merana dan sebagian mati, kecuali yang diberi kapur. Hasil percobaan lapangan di lahan usahatani Tabunganen menunjukkan penampilan tinggi tanaman dan berat pipilan jagung pada pelindian dengan air payau (P1) lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa pelindian (P0). Hasil percobaan di lahan usaha tani ini tertinggi dicapai pada kombinasi antara pelindian dengan air payau (P2) dan pemberian kapur, yaitu 2,17 t pipilan kering ha-1. Pengolahan tanah intensif (O2) sebagai upaya perbaikan aerasi pada lahan usahatani memberikan hasil padi rata-rata 20% lebih tinggi dibandingkan dengan pengolahan tanah minimum (O1) yang rata-rata mencapai hanya 2,18 t GKG ha-1. Hasil lainnya menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang 5 t ha-1 dan 2,5 t ha-1 tidak berbeda antara dengan selisih hasil gabah kering sekitar 7%. Percobaan lapangan di lahan sulfat masam Palingkau menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang tidak berbeda antara 5 t ha-1 (K2) dengan 2,5 t ha-1 (K1) terhadap hasil gabah kering giling dengan selisih hasil 8%. Hasil serupa diperoleh pada percobaan jagung di lahan yang sama dengan selisih hasil 7%, sedang di lahan sulfat masam Tabunganen menunjukkan perbedaan hasil antara diberi pupuk kandang dengan tanpa sebesar 6%. Pemberian kapur tidak berpengaruh terhadap hasil padi. Pemberian kapur tidak berpengaruh terhadap hasil padi. Hasil padi pada pemberian kapur mencapai 2,73 t GKG ha-1, sedang pada pemberian fosfat alam mencapai 2,48 t GKG ha-1 pada takaran pupuk kandang 5 t ha-1. Pemberian kapur memberikan hasil jagung rata-rata 4,21 t pipilan kering ha-1 lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian fosfat alam yang mencapai rata-rata 3,45 t pipilan kering ha-1 di lahan sulfat masam Palingkau. Hasil jagung tertinggi dicapai pada kombinasi pupuk kandang 2,5 t ha-1 (K1) dan kapur (L) yaitu 4,37 t pipilan kering ha-1. Hasil percobaan lapangan di lahan usahatani Tabunganen menunjukkan pemberian kapur memberikan hasil ratarata 1,85 t pipilan kering ha-1 nisbi lebih tinggi dibandingkan pemberian fosfat alam hanya mencapai 1,44 t pipilan kering ha-1. Penduga terbaik terhadap berat kering tajuk padi umur 6 minggu dari sifatsifat kimia hasil analisis tanah hanya Mg yang dapat digunakan sebagai penduga terhadap hasil berat kering tajuk menurut persamaan linear berikut, yaitu Y = 15,46** + 7,05**X1, r2 = 0,49**, yang Y = berat kering tajuk (g.pot-1) dan X1 = Mg tertukar (cmol (+). kg-1).

The experiments were conducted at laboratorium, pot (greenhouse) and field. Laboratory experiments and pot experiments were conducted at Soil Laboratory BPTP Yogyakarta and Department of Soil Science, Faculty of Agriculture of Gadjah Mada University, Yogyakarta. Soil samples were taken from South Kalimantan and Central Kalimantan, i.e. Tabunganen, Sei Puntik, Palingkau, and Basarang respectively. While field experiments were conducted at two location i.e. Tabunganen (South Kalimantan) and Palingkau (Central Kalimantan) respectively. The research aimed to find the stage of improvement of acid sulphate soils management for food crops. The specifics aims research were to studied i.e. (1) the effects of reclamation (wetting, drying, drainage, and leaching) on soil chemical properties, and (2) the capacities of seawater to be leached as ionic exchanger to improve soil chemical properties of acid sulphate soils, and the combined with the cow’s manure, lime, and rocks phosphate as ameliorant to improve soil chemical properties and increase of soil productivity on acid sulphate land. Result of experiments shows that the continuous wetting intermeten (W1) on acid sulphate soils (ASS) increase the pH of soil sulotion, especialy of the soil weak reactive (R1), decrease the total acidity and soluble elements else. The continuous wetting that follow drying (W2) decrease the total acidity and soluble element else also, but more high to compare to without drying (W1), especially on soil strong reactive (R3). Result of laboratorious experiment also show that leaching in soil strong reactive has released reaching up 50% of potential of soil acidity and decrease of pyrite contense of 5,94% become to 1,45% on soil. The brackish water leahing (P2) has given leachetes i.e. pH low, soluble Al3+, total soluble acidity, soluble sulphate, and soluble iron high, especialy of soil well drain (A3). Result pot experiments also show that leaching can improve of soil chemical properties especially showed by quality of leache tes i.e. decreasing pH water of leaching (leachetes). Result pot experiment show that brackish water leacing (P2) have given better crop growth like high plant, dry weight of upper trunk, and nutrient (potasiium) uptake than fresh water leaching (P1). The rice growth in soil strong reactive (RK) was very poor and part of plant has dead, except that has given lime. The field experiment of Tabunganen show that high plant and yield corn with brackish water leaching (P1) more better that without leaching (P0). Maximum yield was reached on combination brackish leaching (P2) and lime application (L) up 2,17 t dry seed ha-1. Field experiment show that soil intensive tillage (O2) as effort to improve soil aeration on farmland has given yield more high about 20% than soil minimum tillage (O1) that reaching about only 2,18 t ha-1. Field experiment also show that applied manure of 5 t ha-1 has given rice growth as same as on manure applied of 2.5 t ha-1 with different rice yield about 8%. The applied of manure 2.5 t ha-1 on acid sulphate soils Palingkau also just has only increased of corn yield of 7%, while the field experiment of Tabunganen show difference yiled about 6%. Lime applied has given rice yield higher about 2.73 t ha-1 than rock phosphate applied only reach up 2.48 t ha-1 with 5 t ha-1 manure in the field experiment of ASS, Palingkau. Lime applied has given corn yield mean 4.21 t ha-1 better than of rock phosphate applied just has only reach up 3.45 t ha-1 in the field experiment of ASS, Palingkau. Maximum yield of corn was reached on combination manure 2,5 t ha-1(K1) and lime (L) application have given up 4,37 t dry seed ha-1. Lime applied in Tabunganen experiment has given yield reach up 1.85 t ha-1 more better than rock phosphate applied just only reach up 1.44 t ha-1. The good predictor on dry weight of upper trunk off all characteristics of the soil chemicals analysis, just only exchangeable Mg can used as the predictors that follow a regression linear as Y = 15,46** + 7,05**X1, r2 = 0,49**, that Y = dry weight of upper trunk (g.pot-1) and X1 = exchangeable Mg (cmol (+). kg-1).

Kata Kunci : Ilmu Tanah,Tanah Sulfat Masam,Perbaikan Produktivitas


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.