Membangun Kekuatan di Tengah Kekerasan: Analisis Kisah Penyintas Kekerasan Berbasis Gender Online
AMANDA DIVA NARESWARI, Dr. Suzie Handajani, M.A.
2024 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Penggunaan perangkat teknologi telah mengalami peningkatan yang signifikan, terutama sejak pandemi COVID-19. Hal ini turut berkontribusi pada Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang semakin merajalela. Namun, KBGO bukan semata-mata muncul sebagai fenomena era digital. Kekerasan berbasis gender sudah ada sejak berabad-abad lalu dan dilanggengkan oleh sistem patriarki dalam masyarakat. Meskipun dapat terjadi kepada siapa saja, perempuan memiliki kecenderungan lebih besar untuk menjadi korban KBGO. Adanya pembatasan ruang privat dan ruang publik bagi perempuan, ketidaksetaraan peran gender, ketimpangan relasi kuasa, misogini, dan berbagai faktor lain telah membuat perempuan tidak aman di ruang digital.
Tidak hanya berlangsung di dunia digital, KBGO dapat berlanjut menjadi kekerasan secara langsung. Peristiwa ini tentu membawa trauma yang mendalam bagi setiap korbannya, baik secara mental maupun fisik. Tidak sampai di situ saja, korban KBGO memiliki kemungkinan sangat besar untuk kembali menjadi korban saat mereka sedang mencari pertolongan. Kemampuan individu dalam melakukan strategi resiliensi dan dukungan sosial menjadi komposisi vital bagi setiap korban untuk dapat bangkit atau justru semakin jatuh dalam keterpurukan. Meskipun demikian, tidak sedikit perempuan penyintas KBGO berhasil keluar dari belenggu kekerasan dan menjadi resilien.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis problematika KBGO dengan menggunakan perspektif penyintas yang dituliskan secara deskriptif. Melalui wawancara mendalam bersama tiga orang perempuan penyintas KBGO, penelitian ini diharapkan mampu memberikan perspektif segar dalam memahami dampak dan strategi pemulihan dari KBGO. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa KBGO menjadi tanggung jawab bersama di mana kolaborasi dukungan sosial dan strategi resiliensi tidak hanya membantu korban untuk melakukan pemulihan, tetapi juga berkontribusi dalam memutus rantai KBGO.
The use of technology has seen a significant increase, especially since the COVID-19 pandemic. This surge has contributed to the growing prevalence of Online Gender-Based Violence (OGBV). However, OGBV is not merely a phenomenon of the digital era. Gender-based violence has existed for centuries and has been perpetuated by patriarchal systems within society. Although it can happen to anyone, women are more likely to become victims of OGBV. Factors such as the restriction of private and public spaces for women, gender role inequality, power imbalances, misogyny, and other issues have made women vulnerable in digital spaces. OGBV not only occurs in the digital realm but can also escalate into direct physical violence. Such incidents bring deep trauma to victims, both mentally and physically. Furthermore, OGBV victims are at high risk of being re-victimized when seeking help. The ability of individuals to employ resilience strategies and access social support becomes crucial in determining whether they can recover or fall deeper into despair. Nevertheless, many female OGBV survivors have successfully broken free from the cycle of violence and shown resilience. This study employs a qualitative approach to analyze the issues of OGBV from a survivor's perspective, presented descriptively. Through in-depth interviews with three female OGBV survivors, this research aims to provide fresh insights into the impact and recovery strategies related to OGBV. The findings indicate that addressing OGBV is a collective responsibility, where the combination of social support and resilience strategies not only aids victims in their recovery but also contributes to breaking the cycle of OGBV.
Kata Kunci : KBGO, korban, penyintas, resiliensi, dukungan sosial, OGBV, victims, survivors, resilience, social support