UJI DAYA TERIMA KUE PUTU MAYANG MODIFIKASI BERBASIS GASTRONOMI MOLEKULER SEBAGAI ALTERNATIF SNACK PADAT GIZI BAGI LANSIA
RIEZMA PRASIWI, Dr. Rio Jati Kusuma, S.Gz., MS; Agus Santoso, S.Gz., MPH., RD
2024 | Skripsi | GIZI KESEHATAN
Latar Belakang: Lanjut usia merupakan
kelompok yang rentan mengalami kekurangan gizi karena pada usia tersebut terjadi
penurunan fungsi fisiologis seperti penurunan respon indra pengecap, kesulitan
mengunyah, dan kesulitan menelan. Salah satu upaya untuk mencegah dan mengatasi
kekurangan gizi pada lansia adalah memberikan makanan yang padat gizi. Inovasi
teknik gastronomi molekuler yang dapat mempertahankan kandungan gizi,
meningkatkan tekstur serta tampilan makanan memiliki potensi dalam pengembangan
makanan padat gizi bagi lansia, salah satunya dalam bentuk kue putu mayang. Kue
putu mayang memiliki keterbatasan yakni mengandung nilai gizi yang rendah,
sehingga peneliti melakukan modifikasi dengan penambahan ubi ungu, isolat
protein kedelai, dan alpukat serta penggunaan teknik gastronomi molekuler untuk
menjadikannya sebagai snack padat gizi yang dapat diterima baik oleh
lansia.
Tujuan: Mengetahui daya terima lansia terhadap kue putu mayang modifikasi berbahan
ubi ungu, isolat protein kedelai, dan alpukat berbasis gastronomi molekuler.
Metode: Penelitian ini merupakan
penelitian eksperimental yang terdiri dari tiga kelompok perlakuan yakni
perlakuan control (A0), perlakuan tanpa teknik gastronomi molekuler (A1), dan
perlakuan dengan teknik gastronomi molekuler (B1). Seluruh kelompok perlakuan
dilakukan uji daya terima kepada lansia kemudian sisa makanan diukur
menggunakan metode food weighing.
Hasil: Terdapat perbedaan daya
terima kue putu mayang pada lansia yang dilihat dari sisa makanan dan asupan
dengan p<0>. Terdapat perbedaan antar
kelompok perlakuan (p<0>, tetapi antar kelompok
perlakuan A0 dan B1 tidak berbeda secara signifikan (p>0,05). Kue putu mayang berbasis gastronomi molekuler (B1) memiliki
daya terima yang lebih baik dan memberikan asupan gizi yang lebih tinggi dibandingkan
dengan kue putu mayang perlakuan lainnya.
Kesimpulan: Terdapat perbedaan daya
terima kue putu mayang pada lansia. Teknik gastronomi molekuler meningkatkan
daya terima dan asupan gizi pada kue putu mayang.
Background: The elderly are a group that
is vulnerable to malnutrition because of declining in physiological functions
such as decreased taste response, difficulty in chewing, and difficulty in
swallowing. One effort to prevent and overcome malnutrition in the elderly is
to provide nutritious food. Innovation in molecular gastronomy technique that
can maintain nutritional content, improve texture and appearance of food has
the potential to develop nutritious food for the elderly, one of which is in
the form of putu mayang cake. Putu mayang cake has limitations, that it
contains low nutritional value, so researcher modified it by adding purple
sweet potato, soy protein isolate, and avocado as well as using molecular
gastronomy technique to make it a nutritious snack which is well accepted by
the elderly.
Objective: To determine the elderly's
acceptance of modified putu mayang cake made from purple sweet potato, soy
protein isolate, and avocado based on molecular gastronomy.
Method: This study is an
experimental study consisting of three treatment groups, namely control
treatment (A0), treatment without molecular gastronomy technique (A1), and
treatment with molecular gastronomy technique (B1). All treatment groups were
tested for their acceptance to the elderly, then the remaining food was
measured using the food weighing method.
Results: There is a difference in
acceptability of putu mayang cake in the elderly as seen from the remaining
food and intake
p<0>.
There is a difference between treatment groups (p<0>, but there is no significant difference between treatment
groups A0 and B1 (p>0,05). Molecular gastronomy-based
putu mayang cake (B1) has better acceptability and provides higher nutrient
intake compared to other putu mayang cake treatments.
Conclusion: There is a difference in
acceptability of putu mayang cake in the elderly. Molecular gastronomy
technique increases acceptability and nutrient intake in putu mayang cake.
Kata Kunci : daya terima, kue putu mayang, gastronomi molekuler