Dinamika Konflik Agraria dan Pengorganisasian Masyarakat dalam Kelompok Kepentingan: Studi pada Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (GEMPADEWA)
Muhammad Yasin, Drs. Suparjan, M.Si.
2024 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Rencana penambangan batuan andesit di Desa Wadas telah memicu terjadinya konflik agraria yang kompleks antara pemerintah, yang memiliki otoritas (superordinasi), dengan masyarakat, yang tidak memiliki otoritas (subordinasi). Pemerintah memiliki kepentingan untuk menciptakan sarana penunjang kebutuhan air bagi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur. Sementara masyarakat di Desa Wadas memiliki kepentingan untuk mempertahankan kelestarian alam yang menjadi sumber kehidupan. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mengkaji dinamika fluktuasi konflik agraria yang terjadi di Desa Wadas, dan (2) membedah upaya-upaya pengorganisasian masyarakat di Desa Wadas dalam membentuk dan menjalankan kelompok kepentingan.
Penelitian berjudul Dinamika Konflik Agraria dan Pengorganisasian Masyarakat dalam Kelompok Kepentingan: Studi pada Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (GEMPADEWA) dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Sementara untuk menangkap objek secara terperinci dan mendalam, penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Adapun, unit analisis dalam penelitian ini adalah individu atau kelompok yang tergabung dalam GEMPADEWA. Pengumpulan data dilakukan dengan terjun langsung pada arena konflik agraria di Desa Wadas melalui wawancara dan observasi serta dokumentasi sebagai pendukung.
Penelitian ini berpendapat bahwa distribusi otoritas yang terkonsentrasi pada satu pihak memberikan kesempatan bagi pemerintah untuk memaksakan kepentingan dalam pembangunan, termasuk pengerahan kekuatan secara berlebih. Sementara itu, pihak yang berada di luar sirkulasi otoritas menyadari pentingnya pengorganisasian masyarakat dalam suatu kelompok kepentingan. Dalam hal ini, skema pengadaan tanah digunakan untuk mengalihkuasakan tanah masyarakat kepada otoritas negara dengan alasan kepentingan umum. Serangkaian kekerasan terjadi pada arena konflik agraria di Desa Wadas dan menimbulkan dampak traumatik yang mendalam bagi masyarakat.
Sebagai kesimpulan, penelitian ini mengungkap bahwa dinamika konflik agraria di Desa Wadas dengan pertentangan kepentingan dan keterlibatan otoritas merupakan fakta yang tidak dapat dihindarkan. Pengorganisasian masyarakat menjadi proses fundamental yang dilakukan untuk menjaga kepentingan kelompok dan mengonsolidasi dukungan positif dari masyarakat luas. Kendati demikian, upaya penyelesaian menjadi tidak efektif karena aspek pengendalian konflik tidak terpenuhi dengan adanya perubahan dan penyelewengan rules of the game.
The andesite mining plan in Wadas Village has triggered a complex agrarian conflict between the government, which holds authority (superordination), and the community, which lacks authority (subordination). The government has an interest in creating facilities to support the water needs of Borobudur National Tourism Strategic Area (KSPN). Meanwhile, the Wadas community has an interest in preserving the natural environment that sustains their livelihood. The objectives of this research are: (1) to examine the dynamics of agrarian conflict fluctuations in Wadas Village, and (2) to explore the community organizing efforts in Wadas Village in forming and operating interest group.
The research entitled The Dynamics of Agrarian Conflict and Community Organizing in Interest Group: A Study on the Wadas Village Nature Concern Movement (GEMPADEWA) employs a descriptive qualitative approach. To capture the object in detail and depth, this research uses a case study method. The unit of analysis in this research is individuals or groups involved in GEMPADEWA. Data collection was conducted by directly entering the agrarian conflict arena in Wadas Village through interviews, observations, and supporting documentation.
This research argues that the distribution of authority which is concentrated in one party allows the government to impose its interests in development, including the excessive use of force. Meanwhile, parties outside the circulation of authority realize the importance of organizing the community into an interest group. In this case, the land acquisition scheme is used to transfer community land to state authorities for public interest purposes. A series of violent incidents have occurred in the agrarian conflict arena in Wadas Village, causing deep traumatic impacts on the community.
In conclusion, this research reveals that the dynamics of agrarian conflict in Wadas Village, with conflicting interests and authority involvement, are unavoidable facts. Community organizing becomes a fundamental process to protect group interests and consolidate positive support from the wider community. However, conflict resolution efforts remain ineffective due to changes and deviations from the rules of the game.
Kata Kunci : Dinamika Konflik Agraria, Pengorganisasian Masyarakat, Kelompok Kepentingan.