Keuntungan dan keunggulan komparatif usahatani tebu sebagai bahan baku industri gula jawa
ISMOYOWATI, Dyah, Promotor Prof.Dr.Ir. Sri Widodo, MSc
2004 | Disertasi | S3 Ilmu PertanianPerubahan kebijakan tahun 1998 mempengaruhi industri gula di Jawa karena tidak ada lagi jaminan bahan baku dengan dihapuskannya program TRI. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menghitung tingkat keuntungan yang diterima petani dalam melakukan usahatani tebu sebagai bahan baku industri gula di Jawa, (2) Mengetahui keunggulan komparatif sistem produksi tersebut, (3) Menghitung insentif atau proteksi yang diterima petani tebu dan industri gula di Jawa, dan (4) Melakukan analisis sensitivitas sistem produksi terhadap berbagai perubahan variabel yang penting bagi keuntungan dan keunggulan usahatani tebu. Penelitian dilakukan pada lima industri gula di Jawa pada berbagai pengelolaan meliputi TS dan TR, lahan sawah dan tegal, serta tanaman baru dan tunas. Data usahatani tebu sebagai bahan baku industri gula didapatkan dari 300 contoh kebun yang terdiri dari 185 petani dan 115 kebun milik pabrik gula (PG). Selain menggunakan harga CIF gula tahun 2002 senilai US$220 per ton sebagai ukuran efisiensi, digunakan juga harga produksi rata-rata dunia dari produsen gula yang kompetitif sebagai pendekatan bagi harga gula dunia tanpa distorsi senilai US$280 per ton. Secara total Jawa, pada musim giling 2002, usahatani tebu sebagai bahan baku industri gula merugi baik secara finansial maupun ekonomi (sosial). Dari analisis finansial nampak bahwa penggunaan faktor produksi domestik dalam sistem produksi tersebut tidak kompetitif (PCR 1,10). Demikian juga dari sisi ekonomi, usahatani tebu tersebut tidak memiliki keunggulan komparatif (DRC 1,13). Apabila harga gula dunia tanpa distorsi yang digunakan sebagai ukuran efisiensi, maka Jawa masih memiliki keunggulan komparatif pada jangka panjang (DRC 0,89). Namun demikian, ternyata keuntungan masih diraih Jawa pada pola pengusahaan TR, sawah dan tanaman tunas. Lebih khusus lagi, keuntungan juga didapat oleh usahatani TS di timur-2 dan tengah-1, TR di timur-1 dan barat, sawah di timur-1, dan timur-2, tegal di timur-1, tengah-1, dan barat, tanaman baru di barat, dan tunas di timur-1, timur-2, dan tengah-2. Usahatani tebu sebagai bahan baku industri gula di Jawa menikmati perlindungan pemerintah pada outputnya sekitar 11%. Dilain pihak, petani tebu dan industri gula harus menghadapi kenyataan bahwa perlindungan pemerintah terhadap input yang diperlukannya lebih besar yakni sekitar 20%. Dengan demikian, perlindungan pemerintah terhadap sistem produksi ini hanya berkisar 9% secara efektif. Sistem produksi ini sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada upah tenaga kerja, biaya tebang angkut, harga gula, harga pupuk dan harga tetes secara berurutan mulai dari yang paling berpengaruh terhadap keuntungan. Keunggulan komparatif paling sensitif terhadap nilai tukar rupiah, harga bayangan gula dan produktivitas, kemudian terhadap upah tenaga kerja dan biaya tebang angkut. Dengan demikian, pengembangan usahatani tebu di Jawa masih mungkin dilakukan tanpa harus memaksa keseragaman pengelolaan karena ada kekhasan potensi keuntungan setiap daerah. Proteksi melalui tarif masih diperlukan sampai harga dunia mencapai tingkat US$280 per ton gula. Sementara itu, proteksi terhadap input usahatani ini masih perlu ditingkatkan. Program akselerasi sebagai upaya memperbaiki produktivitas tanaman perlu segera disertai program perbaikan produktivitas proses pengolahan di pabrik gula dalam pencapaian industri gula Indonesia yang kompetitif, khususnya di Jawa.
Policies change in 1998 influenced Java sugar industry’s existence because there was no more obligation to plant sugarcane. This study aims to identify (1) sugarcane farming system’s profitability, (2) comparative advantage of the system, (3) incentive or protection available for the farmers, and (4) sensitivity analysis on relevant sugar dynamics. Five sugar industry samples spread over Java were chosen i.e. east-1, east-2, centre-1, centre-2, and west. The primary data for profitability analysis covered 300 units originated from 185 farmers and 115 industry’s plantation units in a proportional spreading. In addition to the sugar CIF of US$220 per ton in 2002, this study applied a non-distorted efficiency measure approached by the average production cost of competitive and efficient countries of US$280 per ton to identify comparative advantage in the long run. The finding exhibits three alternatives of sugarcane procurement: (1) partnership with farmers based on minimum return on land, (2) partnership with farmers as the industry provides assistance, and (3) purchasing sugar from free farmers. Using data in 2002, the whole Java in average failed gaining profit (PCR 1.10). It did not have comparative advantage, as well (DRC 1.13). But, in the long run Java is still having comparative advantage (DRC 0.89) whenever world sugar price is free from distortion. Profitability was financially earned by Java through its specific arrangement of TR (non-factory farming), irrigated land, and ratoon. To be more regional specific, some regions were profitable for certain farming i.e. TS (factory owned farming) in east-2, and centre-1, TR in east-1 and west, irrigated land in east-1 and 2, non-irrigated land in east-1, centre-1 and west, plant cane in west, and ratoon in east-1, east-2 and centre-2. Sugarcane farming was protected upon its output at about 11%. On the other hand, its input industry was even more protected at about 20%. Eventually, the farmers enjoy only 9% of effective protection. Analysis resulted in Java sugarcane farming’s profitability was sensitive toward changes in wage, transfer cost, and prices of sugar, fertilizer, and molasses in its rank from the most influential one. Comparative of the system was sensitive mostly upon changes in exchange rate, sugar world price, and its productivity; then, upon wage and transfer cost. The results imply policies as following. The development of sugarcane farming in Java should not apply uniform pattern on different regions. Every region has its unique profitability potential. Protection is better provided until the sugar world price approaching the level of US$280 per ton. Meanwhile, incentive through input needs to be increased. The acceleration program to improve sugarcane productivity has to be completed by efforts on factory’s productivity improvement to achieve competitive sugar industry in Java.
Kata Kunci : Usahatani Tebu, Industri Gula, Keunggulan Komparatif