Pengaruh Pemberian Mulsa Organik dan Kedalaman Lubang Tanam terhadap Pertumbuhan Cemara Udang Umur Empat Bulan di Pesisir Samas Yogyakarta
SEKARAROEM, Ir. Adriana, M.P.; M. Gunawan Wibisono, S.Hut., M.Hum., M.Sc.
2024 | Skripsi | KEHUTANAN
Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki garis pantai yang panjang. Pemanfaatan lahan pesisir seperti di sepanjang Pantai Samas, Bantul, Yogyakarta merupakan salah satu contoh pemanfaatan lahan untuk aktivitas pertanian. Hal ini bermanfaat untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar. Namun demikian, beberapa area yang dulunya telah ditanami cemara udang (C. equisetifolia) sebagai windbreak mengalami kerusakan oleh hempasan angin laut. Hal ini berdampak pada penurunan produksi pertanian yang dikelola oleh masyarakat. Oleh karena itu, penanaman cemara udang di Pantai Samas perlu dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian mulsa organik, kedalaman lubang tanam, dan interaksi kedua perlakuan terhadap pertumbuhan cemara udang umur empat bulan di Pesisir Samas. Rancangan penelitian ini menggunakan Randomized Complete Block Design (RCBD) dengan 2 perlakuan, yaitu pemberian mulsa sabut kelapa (tanpa mulsa (M0), diberi mulsa 3 sabut kelapa (M1), diberi mulsa 6 sabut kelapa (M2)) dan kedalaman lubang tanam (15 cm (L1), 30 cm (L2)). Terdapat 3 blok sebagai ulangan. Setiap blok terdapat 6 kombinasi perlakuan yaitu M0LI, M0l2, M1L1, M1L2, M2L1, dan M2L2. Setiap perlakuan terdapat 5 tanaman. Paramater yang diamati dan diukur adalah tinggi, diameter dan lebar tajuk tanaman. Pemberian mulsa sabut kelapa, kedalaman lubang tanam, dan interaksi kedua perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman cemara udang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut mengindikasikan bahwa penelitian yang dilakukan pada musim penghujan mempengaruhi suhu dan kelembaban tanah yang relatif sama antar perlakuan sehingga pertumbuhan tanaman tidak berbeda signifikan. Umur tanaman yang diamati dalam jangka waktu yang singkat diduga juga berpengaruh terhadap efek yang dtimbulkan dari perlakuan yang diberikan.
Indonesia is a maritime country with a long coastline. The use of coastal land along the Samas Coast in Bantul, Yogyakarta, is an example of the coastal land used for agricultural activities to increase the income of the local community. However, some of the land is disturbed by sea breezes, damaging crops because some areas were previously planted with C. equisetifolia as windbreaks exposed. This has an impact on decreasing agricultural productivity. Therefore, it is necessary to plant C. equisetifolia on Samas Beach. The study aimed to determine the effect of organic mulch, the depth of planting holes, and the interaction between both treatments on the growth of C. equisetifolia plants at four months of age in Samas Beach. This research design was a randomized complete block design with 2 treatments, namely mulching (without mulch (M0), with 3-coir mulch (M1), with 6-coir much (M2)) and depth of planting holes (15 cm (L1), 30 cm (L2)). There were 3 blocks as replications. Each block consisted of 6 treatment combinations (M0LI, M0l2,M1L1, M1L2, M2L1, M2L2). Each treatment contained 5 plants. The parameters measured were the height, diameter, and width of the crown.The mulching, the depth of the planting hole, and the interaction between bothtreatments had no significant effects on the plant growth of C. equisetifolia. Based on the results of this study indicate that research carried out in the rainy season affected the temperature and soil moisture which were relatively the same between treatments so plant growth did not differ significantly. The age of plants observed in a short period also supposedly affects the effects caused by the treatment given.
Kata Kunci : pesisir, Casuarina equisetifoilia, windbreak, mulsa sabut kelapa, kedalaman lubang tanam