Upcycling Center di Kabupaten Bantul dengan Pendekatan Edukasi Rekreatif
ALYA TARA ANJANI, Ardhya Nareswari, S.T., M.T., Ph.D.
2024 | Skripsi | ARSITEKTUR
Isu penumpukan volume sampah menjadi permasalahan yang belum teratasi dan kian serius di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini karena Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kepadatan penduduk cukup tinggi dan terus bertambah setiap tahunnya. Seiring dengan bertambahnya sampah, maka pengelolaan sampah mesjadi suatu hal yang krusial. Menurut data dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) D.I. Yogyakarta, volume produksi sampah di D.I. Yogyakarta pada tahun 2023 mencapai 1.231,55 ton/ hari dengan volume sampah tertangani sebesar 757,72 ton/ hari. Artinya persentase sampah yang tertangani hanya sebesar 61,5%. Kabupaten Bantul juga menjadi penyumbang bertambahnya volume sampah ini. Kemampuan masyarakat dalam mengelola sampah dalam skala rumah tangga dirasa masih kurang.
Perancangan Upcycling Center di Kabupaten Bantul dengan Pendekatan Edukasi Rekreatif akan memberikan edukasi informal bagi terkait proses daur ulang sampah dan pengolahannya hingga menjadi produk yang layak guna. Selain itu juga akan memberikan edukasi dan mewadahi potensi para komunitas pengrajin kriya daur ulang di Kabupaten Bantul. Pendekatan edukasi rekreatif dipilih karena pengalaman rekreatif akan membantu pengguna dalam menerima edukasi secara menyenangkan dan interaktif.
The issue of accumulation of waste volume is an unresolved and increasingly serious problem in the Special Region of Yogyakarta. This is because the Special Region of Yogyakarta is one of the provinces in Indonesia which has a fairly high population density and continues to increase every year. As waste increases, waste management becomes crucial. According to data from the Regional Development Planning Agency (BAPPEDA) D.I. Yogyakarta, the volume of waste production in D.I. Yogyakarta in 2023 will reach 1,231.55 tonnes/day with a volume of waste handled of 757.72 tonnes/day. This means that the percentage of waste handled is only 61.5%. Bantul Regency is also a contributor to the increasing volume of this waste. It is felt that the community's ability to manage waste on a household scale is still lacking.
The design of an Upcycling Center in Bantul with a Recreational Education Approach will provide informal education regarding the process of recycling waste and processing it into products that are suitable for use. Apart from that, it will also provide education and accommodate the potential of the community of recycled craft craftsmen in Bantul Regency. The recreational educational approach was chosen because the recreational experience will help users receive education in a fun and interactive way.
Kata Kunci : upcycling center, edukasi rekreatif, daur ulang sampah