Laporkan Masalah

Analisis linear programming usaha ternak sapi potong dalam sistem rumah tangga tani berdasarkan tipologi wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta

WIDIATI, Rini, Promotor Prof.Dr.Ir. Sri Widodo

2003 | Disertasi | S3 Ilmu Pertanian

Lebih dari 90 % peternakan sapi potong di Indonesia diusahakan oleh petani di pedesaan dalam sistem rumahtangga tani sebagai peternakan rakyat, dicirikan dengan skala kecil, luas lahan sempit dan modal lemah sehingga perkembangannya lamban. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengkaji pengembangan ternak sapi potong dalam sistem rumahtangga tani menggunakan model Linear programming (LP). (2) Menentukan alokasi optimal sumberdaya petani sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sekaligus memaksimumkan pendapatan menurut kasus empat tipologi wilayah di DIY , dan (3) Mengkaji pemanfaatan teknologi pakan, bibit unggul dan kebijakan kredit serta harga output yang memungkinkan dapat mendukung pengembangan usaha ternak sapi potong rakyat Penelitian dilakukan di empat tipologi wilayah DIY dengan lokasi contoh (1) Tipologi wilayah pegunungan gunung api Cangkringan,Sleman (PGA), (2) Tipologi wilayah dataran aluvial gunung api Bambanglipuro,Bantul (DAGA), (3) Tipologi wilayah pegunungan gunung gamping Playen,Gunung Kidul (PGG), dan (4) Tipologi wilayah dataran pantai/pesisir Panjatan,Kulon Progo (DPP). Materi penelitian adalah rumahtangga tani ternak sapi potong dengan sampel di masing-masing lokasi contoh diambil secara purposive-quota sampling sebanyak 50 responden. Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan dengan metode survei menggunakan kuesioner. Selanjutnya data dianalisis dengan analisis diskriptif kualitatif dan kuantitatif menggunakan model linear programming (LP) diikuti analisis sensitivitas dengan bantuan program BLPX 88. Validasi model menggunakan interval konfidensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Analisis LP dapat memberikan hasil solusi optimal yang menunjukkan pengembangan sapi potong dalam sistem rumahtangga tani (farm household) dapat meningkatkan pendapatan dibanding kondisi saat ini. Peningkatan pendapatan diperoleh dari kait mengkait antara pola tanam optimal, pola usaha sapi potong dengan umur jual optimal , hasil adopsi teknologi pemberian pakan konsentrat dan pemanfaatan kredit operasional. (2) Peningkatan pendapatan paling tinggi di lokasi PGA 1,8 kali lipat selanjutnya berturut-turut lokasi PGG, DAGA dan paling rendah DPP yaitu hanya 1,1 kali lipat, (3) Rumput unggul sebagai komoditi komersial yang mempunyai harga khusus sebagai pola tanam optimal hanya di lokasi PGG, (4) Berdasarkan contoh kasus lokasi PGG penggunaan teknologi pakan konsentrat hanya direkomendasikan untuk pemeliharaan sapi bibit unggul. (%) Kebijakan kredit komersiil untuk pengembangan usaha melalui penambahan investasi sapi induk dengan tingkat bunga 19 %Ith tidak dapat direkomendasikan sedangkat kredit operasional dengan tingkat bunga _.12 % diperlukan. (6) Pada kondisi optimal pendapatan masih meningkat ketika ada penurunan harga ternak setiap musim 3 atau kemarau sampai 20 %, sedangkan kenaikan harga sapi pada setiap musim 1 dan 2 sampai 20 % dapat meningkatkan pendapatan petani, tetapi masih lebih rendah dibanding kondisi optimum jika ada tambahan input teknologi pakan konsentrat untuk sapi bibit unggul. Hasil analisis linear programming dapat digunakan lebih lanjut untuk memilih program-progam penunjang lainnya yang sesuai guna mengembangkan ternak sapi potong dalam sistem rumahtangga tani.

Available in Fulltext

Kata Kunci : Usaha Ternak Sapi Potong,Sistem Rumah Tangga Petani,Tipologi Wilayah


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.