Epidemi penyakit patik (Cercospora nicotianae) pada tembakau
TANTAWI, Ahmad Rafiqi, Promotor Prof.Dr.Ir. Bambang Hadisutrisno, D.A.A
2003 | Disertasi | S3 Ilmu PertanianPenyakit patik yang disebabkan oleh Cercospora nicotianae Ell. et Ev. merupakan penyakit penting pada tembakau cerutu. Penyakit ini sudah ditemukan sejak tahun 1900 di perkebunan tembakau di Indonesia, tetapi epidemiologi penyakit ini belum banyak diteliti. Penelitian mengenai epidemiologi penyakit patik bertujuan untuk mengetahui agihan dan insidensi penyakit patik di dua sentra tembakau di Pulau Jawa, yakni tembakau besuki di Jember dan tembakau vorstenland di Klaten, dan untuk mengetahui pengaruh unsur-unsur cuaca terhadap pemencaran patogen dan perkembangan penyakit di lapangan, serta meletakkan dasar untuk pola-pola monitoring perkembangan penyakit, terutama untuk penentuan tindakan pengelolaan penyakit secara dini berdasarkan data hubungan perkembangan penyakit dan unsur cuaca. Untuk mengetahui agihan penyakit patik, dilakukan survei di daerah produksi utama tembakau di Jawa Timur dan Jawa Tengah pada bulan Juni sampai Agustus 2001. Pengamatan pemencaran konidium, perkembangan penyakit, dan pengamatan unsur-unsur cuaca dilakukan bersamaan pada bulan September sampai Oktober di Jember, dan bulan November sampai Desember di Klaten. Hasil survei menunjukkan bahwa penyakit patik tersebar di semua pusat pertanaman tembakau di Jawa dengan agihan acak. Penyakit patik sudah dapat ditemukan pada tanaman yang baru dipindah dari pesemaian. Dari hasil penangkapan konidium, diketahui bahwa konidium C. nicotianae dapat dipencarkan oleh angin. Konidium dapat tertangkap pada siang hari dengan wind vane rotary spore trap tipe Kiyosawa pada ketinggian 1-2 m dari permukaan tanah. Pada bulan kering dan lembap, konidium mulai tertangkap pada pagi hari pukul 06.00 dan mencapai puncak pada siang hari pukul 14.00-18.00, sedangkan pada bulan basah, mencapai puncak pada pukul 10.00-14.00. Cuaca selama penelitian menunjukkan keadaan bulan kering pada fase prapanen dan bulan lembap pada fase panen di Jember, serta bulan basah selama penelitian di Klaten. Pada bulan kering, kecepatan angin merupakan unsur cuaca utama untuk pemencaran konidium. Terpencarnya konidium pada bulan kering didukung oleh tingginya kecepatan angin, suhu, intensitas dan lama penyinaran matahari, serta rendahnya kelembapan udara. Pada bulan lembap pemencaran konidium didukung oleh kecepatan angin dan suhu yang tinggi serta kelembapan udara yang rendah. Intensitas dan lama penyinaran matahari serta curah hujan tidak menunjukkan peranan penting. Sebaliknya, pada bulan basah, kecuali angin, semua unsur cuaca tidak mendukung pemencaran konidium. Pemencaran konidium pada umumnya berlangsung pada keadaan udara kering, yakni RH lebih rendah dari 70%, dan jumlah konidium yang tertangkap juga menurun dengan meningkatnya kelembapan udara. Pada bulan kering, konidium tertangkap sebanyak 0,20-2,40 konidium dengan rerata keadaan cuaca harian kecepatan angin antara 0,92-1,95 m/det; suhu 27,50-30,50oC; kelembapan udara 65,50-77,00%; dan matahari bersinar sepanjang hari dengan rerata intensitas 110,30-228,30 footcandle. Pada bulan lembap, konidium tertangkap sebanyak 1,40-18,80 konidium dengan rerata keadaan cuaca harian kecepatan angin 0,66-1,73 m/det; suhu 27,30-29,80oC; kelembapan udara 68,7-81,7%; matahari bersinar sepanjang hari selama 3,50-9,50 jam dengan rerata intensitas 176,70-366,70 footcandle, dan pada hari itu tidak ada hujan. Pada bulan basah, konidium tertangkap sebanyak 0,40-153,40 konidium pada rerata kecepatan angin harian terendah 0,20-1,33 m/det; suhu 24,70-30,30oC; kelembapan udara 73,30-96,00%; matahari bersinar sepanjang hari selama 0,00- 8,00 jam dengan rerata intensitas 122,70-308,30 footcandle, dan curah hujan 0,00- 119,20 mm/hari. Sebagai sumber penular penyakit, konidium berpengaruh kecil pada bulan kering, tetapi pada bulan lembap pengaruhnya sangat besar, sedangkan pada bulan basah konidium tidak menunjukkan peranan yang berarti. Intensitas dan perkembangan penyakit penyakit patik berbeda pada bulan kering, lembap dan basah akibat perbedaan keadaan cuaca. Pada bulan kering dan basah, perkembangan penyakit patik meningkat mengikuti garis linier, sedangkan pada bulan lembap peningkatannya lebih cepat dan mengikuti garis eksponensial. Penyakit berkembang linier dengan nilai laju infeksi yang rendah pada bulan kering. Sebaliknya, pada bulan lembap, penyakit berkembang secara eksponensial yang cepat, dan pada bulan basah penyakit berkembang secara linier dengan perkembangan penyakit yang cepat. Intensitas penyakit patik tertinggi pada bulan kering sebesar 2,90%, bulan lembap sebesar 32,29%, dan bulan basah sebesar 65,67%. Meskipun pada bulan kering pengaruh jumlah konidium terhadap intensitas penyakit tampak lebih besar dibandingkan dengan pada bulan basah, tetapi semua unsur cuaca menunjukkan pengaruh yang sangat kecil. Hal ini menyebabkan lambatnya perkembangan penyakit pada bulan kering. Laju infeksi penyakit patik sangat berfluktuasi, dan cenderung menurun dengan meningkatnya penyakit patik. Laju infeksi berfluktuasi di antara 0,05-0,15 unit/hari. Selain itu, lama periode daun basah yang sangat singkat menyebabkan pembentukan infeksi tidak optimal. Pada bulan basah, tingginya intensitas penyakit patik dipengaruhi oleh meningkatnya kecepatan angin dan pemencaran konidium, diikuti oleh penurunan suhu, kelembapan udara, serta intensitas dan lama penyinaran matahari. Keadaan ini mendukung baik infeksi awal maupun perkembangan miselium yang ekstensif di dalam jaringan daun. Hujan tidak menyebarkan penyakit kepada tanaman yang berjauhan. Adanya angin ketika terjadi hujan meningkatkan skala serangan pada daun-daun yang terletak di atas sehingga serangan patik tidak mesti berawal dari daun tua, dan daun yang lebih bawah tidak selalu menunjukkan skala serangan yang lebih tinggi dibanding daun yang di atasnya. Posisi daun mempunyai hubungan dengan peluang kemungkinan daun terinfeksi patogen. Daun yang mempunyai posisi relatif tegak lebih besar kemungkinannya terinfeksi C. nicotianae pada bulan kering dibandingkan dengan pada bulan lembap dan basah. Konidium yang jatuh (landing) pada daun yang membentuk posisi mendatar, hanya pada bulan lembap yang nyata mendukung terjadinya infeksi, sedangkan pada bulan kering dan basah lebih tahan. Sebaliknya, daun agak miring, pada bulan basah, lebih rentan terhadap penyakit patik. Kerugian akibat patik pada daun tembakau cerutu yang ditanam pada musim kemarau dan dipanen pada musim hujan, dengan periode pemetikan selama bulan lembap, menimbulkan kerugian mencapai rerata 69,50%, sedangkan yang ditanam dan dipanen pada bulan basah mencapai 91,40%. Model dugaan persamaan untuk menggambarkan hubungan antara intensitas penyakit dengan unsur-unsur cuaca adalah sebagai berikut: (a) pada bulan kering: Y = 2,152 – 0,197X1 –0,042X2 + 0,001X4 + 0,108X7; (b) pada bulan lembap: Y = 2,511 – 0,030X2 + 0,005X3 – 0,024X5 + 0,074X7, dengan X1= kecepatan angin, X2= suhu, X3= kelembapan udara, X4= intensitas sinar matahari, X5 = lama sinar matahari, dan X7 = jumlah konidium yang tertangkap; (c) pada bulan basah: Y = 2,171 + 0,399X (X = kecepatan angin). Dari persamaan tersebut, meningkatya penyakit patik pada bulan kering perlu diwaspadai apabila terjadi kecepatan angin dan suhu yang rendah serta intensitas sinar matahari dan pemencaran konidium yang tinggi, sedangkan pada bulan lembap, hal yang perlu diperhatikan adalah rendahnya suhu dan lama penyinaran matahari serta meningkatnya kelembapan dan jumlah konidium yang tertangkap. Sebaliknya, pada bulan basah, tingginya kecepatan angin pada saat tersebut perlu diperhatikan
Available in Fulltext
Kata Kunci : Penyakit Tanaman Tembakau,Epidemi Penyakit Patik