KERTAS SARING SEBAGAI MEDIA TRANSPOR SAMPEL VIRUS TUMBUHAN UNTUK DETEKSI PENGUJIAN SECARA QUANTITATIVE PCR (q-PCR)
Kristiana Ika Rini, Dr. Ir. Sedyo Hartono, M.P.; Tri Joko, S.P., M.Sc., Ph.D
2024 | Tesis | S2 Fitopatologi
Penyakit virus pada tanaman
memiliki dampak yang signifikan terhadap produktivitas pertanian. Pengambilan
sampel tanaman yang terinfeksi virus di lapangan memerlukan penanganan khusus
untuk menghindari kerusakan sampel saat pengujian untuk tujuan deteksi dan
identifikasi penyakit virus. Pengujian dengan metode molekuler quantitative PCR
(q-PCR) menjadi pilihan alternatif, mengingat kebutuhan saat ini akan deteksi
dan identifikasi yang cepat, efisien, dan akurat. Metode alternatif penyimpanan
sampel, seperti menggunakan kertas saring untuk menyimpan cairan dari tanaman
yang sakit di lapangan, perlu dievaluasi untuk teknik q-PCR. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui apakah kertas saring dapat digunakan sebagai media
penyimpanan sampel virus tanaman, yang selanjutnya dapat diangkut dalam jarak
jauh untuk pengujian q-PCR. Sebanyak 3 sampel kertas saring yang telah dilekati
dengan sap cairan daun tanaman bergejala virus dari lapangan, yaitu cabai,
kacang panjang, dan mentimun, yang dilekatkan pada kertas saring, dikirim ke
Lampung, Bandung, dan Timika. Setelah sampel dikembalikan sampel dari Lampung,
Bandung, dan Timika, langsung dilakukan isolasi DNA. DNA yang diisolasi dari
setiap sampel diukur menggunakan spektrofotometer UV/Vis nanodrop dalam satuan
konsentrasi ng mL-1. Konsentrasi DNA tertinggi dari isolasi
total jaringan tanaman yang sakit diperoleh dari tanaman cabai. Kemurnian DNA
yang baik dari isolasi sampel segar menghasilkan nilai 1,737 untuk cabai segar
dan 1,704 untuk mentimun segar. Namun, tanaman kacang panjang segar memiliki
nilai kemurnian hanya 1,135. Konsentrasi DNA tertinggi dari isolasi kertas
saring diperoleh dari kertas saring yang telah terkena cairan dari tanaman
kacang panjang yang sakit dan dikirim ke Timika, dengan nilai 13,2. Kemurnian
DNA yang baik dicapai pada semua sampel kecuali kacang panjang segar. Secara
keseluruhan, baik kuantitas maupun kualitas asam nukleat yang diperoleh dari
sampel segar dan sampel kertas saring dianggap sesuai untuk digunakan sebagai
templat dalam amplifikasi DNA menggunakan q-PCR. Deteksi Begomovirus menggunakan
q-PCR dengan primer B-Rev dan B-Fow menggunakan DNA template hasil isolasi
tanpa mengubah konsentrasi DNA menunjukkan amplifikasi positif dengan
fluoresensi yang muncul pada siklus PCR. Di antara sampel segar yang digunakan,
sampel mentimun segar memiliki nilai Cq terendah yaitu 18,17, diikuti oleh
kacang panjang segar yaitu 32,95, dan cabai segar yaitu 37,8. Untuk sampel
kertas saring yang dikirim melalui pos, sampel kacang panjang Timika memiliki
nilai Cq terendah yaitu 17,57, sedangkan nilai Cq tertinggi ditemukan pada
sampel cabai Lampung yaitu 33,05
The virus diseases in plants
have a significant impact on agricultural productivity. Sampling virus-infected
plants in the field requires special handling to avoid sample damage during
testing for the purpose of virus disease detection and identification. Testing
with the molecular method Quantitative PCR (q-PCR) has become an alternative
choice, considering the current need for rapid, efficient, and accurate
detection and identification. An alternative method of storing samples, such as
using filter paper to store fluid from diseased plants in the field, needs to
be evaluated for q-PCR techniques. This study aims to determine whether filter
paper can be used as a storage medium for plant virus samples, which can then
be transported over long distances for q-PCR testing. A total of 3 samples of
virus-symptomatic plants from the field, namely chili pepper, long bean, and
cucumber, attached to filter paper, were sent to Lampung, Bandung, and Timika.
After receiving the samples back from Lampung, Bandung, and Timika, DNA
isolation was immediately performed. The DNA isolated from each sample was
measured using a UV/Vis nanodrop spectrophotometer in units of concentration ng mL-1. The highest concentration of DNA from
total isolation of diseased plant tissue was obtained from chili pepper plants.
Good DNA purity from fresh sample isolations yielded a value of 1.737 for fresh
chili peppers and 1.704 for fresh cucumbers. However, fresh long bean plants
had a purity value of only 1.135. The highest DNA concentration from filter
paper isolations was obtained from the filter paper that had been exposed to
fluid from diseased long bean plants and sent to Timika, with a value of 13.2.
Good DNA purity was achieved in all samples except for fresh long beans.
Overall, both the quantity and quality of nucleic acids obtained from fresh
samples and filter paper samples were deemed suitable for use as templates in
DNA amplification using q-PCR. Detection of Begomovirus using q-PCR with
primers B-Rev and B-Fow using DNA templates from isolation without altering DNA
concentration showed positive amplification with fluorescence appearing in the
PCR cycles. Among the fresh samples used, fresh cucumber samples had the lowest
Cq value at 18.17, followed by fresh long bean at 32.95, and fresh chili
peppers at 37.8. For the filter paper samples sent via mail, the Timika long
bean sample had the lowest Cq value at 17.57, while the highest Cq value was
found in the Lampung chili pepper sample at 33.05
Kata Kunci : Begomovirus quantitative Polymerase Chain Reaction (q-PCR), SYBR Green, Kertas saring Whatman 42