Laporkan Masalah

Integrasi Strategi Coping Pemerintah dan Masyarakat Terhadap Tata Kelola Banjir; Sub-DAS Kemang

Ayu Feby Safitry, Retno Widodo Dwi Pramono, S.T., M.Sc., Ph.D

2024 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah

Perkotaan menghadapi risiko banjir yang meningkat akibat perubahan iklim dan urbanisasi. Jakarta, dengan lonjakan penduduk mencapai 133,24%, mengalami perubahan tata ruang yang signifikan, seperti penyusutan Sub-DAS Kemang di Jakarta Selatan. Untuk mengatasi masalah ini, baik pemerintah maupun masyarakat mengimplementasikan berbagai strategi coping. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi efektivitas penanganan banjir melalui integrasi strategi coping pemerintah dan masyarakat dalam tata kelola banjir

Metode penelitian yang digunakan adalah analisis spasial, yang mencakup analisis peta dan analisis strategi coping di area Sub-DAS Kemang. Analisis peta mengungkap area yang tidak sesuai dengan potensi dan kejadian banjir. Data potensi banjir kemudian di-overlay dengan peta tren untuk mengidentifikasi area yang mengalami banjir dari 2018 hingga 2022. Area yang banyak melakukan inisiatif strategi coping namun gagal dalam penanganan banjir disebut area anomali. Analisis ini dinilai menggunakan matriks penilaian integrasi strategi coping pemerintah dan masyarakat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terintegrasinya strategi coping belum tentu efektif mengatasi banjir, sedangkan tidak terintegrasinya strategi coping belum tentu tidak efektif. Hal ini berkaitan dengan integrasi yang terbentuk pada tahap proses, yaitu integrasi non-struktural, yang belum mencapai tahap sistem. Area anomali memberikan pemahaman penting tentang kapasitas atau kemampuan yang harus dimiliki aktor dalam tata kelola banjir. Kesimpulannya, integrasi harus mencapai tahap sistem, yaitu integrasi secara struktural, khususnya dalam kapasitas teknis, untuk menghasilkan performa yang mampu mengatasi banjir secara efektif.

Cities face increasing flood risks due to climate change and urbanization. Jakarta, with a population increase of 133.24%, is experiencing significant spatial changes, such as the shrinkage of the Kemang Sub-watershed in South Jakarta. To overcome this problem, both the government and the community implement various coping strategies. This research aims to identify the effectiveness of flood management through the integration of government and community coping strategies in flood governance.

The research method used is spatial analysis, which includes map analysis and coping strategy analysis in the Kemang Sub-watershed area. Map analysis revealed areas that did not match flood potential and occurrence. Potential flood data was then overlaid with trend maps to identify areas that experienced flooding from 2018 to 2022. Areas that undertake many coping strategy initiatives but fail in flood management are called anomalous areas. This analysis was assessed using the government and community coping strategy integration assessment matrix.

The results show that the integration of coping strategies is not necessarily effective in overcoming flooding, while the non-integration of coping strategies is not necessarily ineffective. This is related to the integration formed at the process stage, namely non-structural integration, which has not yet reached the system stage. The anomalous area provides an important understanding of the capacity or ability that actors must have in order to cope with flooding.

Kata Kunci : Strategi Coping , Tata Kelola Banjir, Integrasi Pemerintah dan Masyarakat, Area Anomali, Potensi dan Kejadian Banjir  

  1. S2-2024-502159-abstract.pdf  
  2. S2-2024-502159-bibliography.pdf  
  3. S2-2024-502159-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2024-502159-title.pdf