Laporkan Masalah

Analisis Kesesuaian Tata Ruang dan Bentuk Adaptasi terhadap Ancaman Banjir Rob di Kawasan Pesisir Kota Semarang

MIFTAHUL ULUMI, Ratna Eka Suminar, S.T., M.Sc.

2024 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Kota Semarang sebagai kota pesisir sangat rentan terjadi bencana banjir rob yang ditandai dengan tergenangnya daratan sekitar sebagai akibat dari pasang air laut. Hal ini diperburuk dengan kondisi topografi rendah, curah hujan tinggi, penurunan tanah, dan perubahan guna lahan. Kondisi tersebut memengaruhi peningkatan frekuensi banjir rob yang terjadi setiap tahunnya. Untuk itu, perlu diketahui bagaimana peran tata ruang dalam mengakomodasi bencana tersebut yang dapat berpengaruh pada terbentuknya adaptasi masyarakat pesisir dalam rangka menyesuaikan diri di lingkungan rawan banjir rob. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian tata ruang dan bentuk adaptasi terhadap ancaman banjir rob di kawasan pesisir Kota Semarang menggunakan pendekatan deduktif kualitatif dengan data sekunder untuk pemetaan dan data primer hasil wawancara.

Berdasarkan analisis, didapatkan hasil 11,45% atau 705,6 hektar kawasan lindung, baik yang tidak terancam maupun yang terancam banjir rob, justru difungsikan sebagai lahan budi daya pada eksistingnya. Hal ini menunjukkan adanya pelanggaran tata ruang, dimana pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan rencana tata ruangnya.  Di samping itu, diketahui pula 67,3% atau 4.147,44 hektar kawasan budi daya menurut RTRW terancam banjir rob dan eksistingnya difungsikan sebagai lahan budi daya, seperti permukiman, perikanan, transportasi, perdagangan dan jasa, serta wisata. Hal ini mengindikasikan bahwa RTRW Kota Semarang belum sepenuhnya memberikan arahan yang tepat terkait penataan ruang dengan pertimbangan ancaman bencana. Akibatnya, potensi ancaman banjir rob semakin meningkat sehingga menuntut masyarakat untuk melakukan adaptasi dalam rangka meminimalisir dampak kerugian yang ditimbulkan, terdiri dari tahap mitigasi (pencegahan), respon (saat terjadi bencana), dan pemulihan pascabencana. Bentuk adaptasi yang dilakukan masyarakat disesuaikan dengan jenis penggunaan lahan dan intensitas banjir rob pada masing-masing area yang bertujuan untuk mempertahankan eksistensi dan lingkungannya.

Semarang City, being a coastal city, is highly vulnerable to tidal flood disasters, marked by the inundation of surrounding land due to rising sea levels. This is exacerbated by low topography, high rainfall, land subsidence, and changes in land use. These conditions affect the increase in the frequency of tidal flood that occurs every year. Therefore, it is important to understand the role of spatial planning in accommodating such disaster, as it can influence the formation of adaptations by coastal communities to adjust to environment prone to tidal flood. This study aims to determine the spatial suitability and forms of adaptation to the threat of tidal flood in the coastal area of Semarang City using a qualitative deductive approach with secondary data for mapping and primary data from interviews.

Based on the analysis, it was found that 11.45% or 705.6 hectares of protected areas, both those not threatened and those threatened by tidal flood, are currently used as development land. This indicates a violation of spatial planning regulations, where land use does not align with the spatial plan. Additionally, it was found that 67.3% or 4,147.44 hectares of development areas according to the regional spatial plan (RTRW) are threatened by tidal flood and are currently used as development land, including housing, fisheries, transportation, trade and service, as well as tourism. This indicates that the RTRW of Semarang City has not fully provided appropriate guidance related to spatial planning with consideration of disaster threats. As a result, the potential threat of tidal flood continues to increase, demanding the community to adapt in order to minimize the resulting losses, consisting of mitigation (prevention), response (during the disaster), and post-disaster recovery phases. The forms of adaptation carried out by the community are tailored to the type of land use and the intensity of tidal flood in each area, with the goal of maintaining their existence and environment.

Kata Kunci : Kesesuaian, rencana tata ruang wilayah, Kota Semarang, banjir rob, adaptasi

  1. S1-2024-460133-abstract.pdf  
  2. S1-2024-460133-bibliography.pdf  
  3. S1-2024-460133-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2024-460133-title.pdf