Penyusunan Pedoman Evaluasi Penggunaan Obat: Aksesibiltas, Kualitas Penanganan, dan Rasionalitas (Studi Kasus: Penggunaan Obat Hipertensi dan Diabetes Mellitus Pada Puskesmas dan Rumah Tangga di Provinsi Lampung)
ATIKA DALILI AKHMAD, Prof. Dr. apt. Satibi, M. Si; Dr. apt. Dwi Endarti, S.F., M.Sc.; Prof. Dr. apt. Susi Ari K, S. Farm., M. Kes.
2024 | Disertasi | S3 Ilmu Farmasi
Penelitian
ini bertujuan menyusun pedoman evaluasi penggunaan obat yang berfokus pada tiga
komponen: aksesibilitas, kualitas penanganan, dan rasionalitas bagi fasilitas
kesehatan kemudian dilanjutkan evaluasi penggunaan obat pada rumah tangga untuk
melihat dampak penggunaan obat di fasilitas kesehatan khususnya pada hipertensi
dan diabetes mellitus.
Penelitian
ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama menggunakan metode mix-methods
diawali studi literatur, Focus Goup Discussion (FGD) dan wawancara serta
konsensus Delphi termodifikasi untuk mendapatkan indikator final kemudian
disusun menjadi pedoman evaluasi. FGD dan wawancara melibatkan 10 orang
narasumber ahli, sementara konsensus Delphi diikuti 13 orang responden ahli.
Tahap kedua adalah survei cross-sectional untuk mengevaluasi penggunaan
obat di tujuh puskesmas diikuti survei penggunaan obat terhadap 506 rumah
tangga terpilih di Provinsi Lampung yang ditentukan dengan purposive
sampling.
Pedoman
evaluasi hasil penelitian terdiri dari 23 indikator utama yaitu 7 indikator
aksesibilitas, 8 indikator kualitas penanganan, dan 8 indikator rasionalitas.
Hasil evaluasi menemukan adanya ketidaksesuaian penggunaan obat di puskesmas
pada beberapa indikator tersebut. Penelitian ini juga menemukan bahwa
ketersediaan obat pada rumah tangga di Kabupaten Lampung Barat lebih rendah
dibandingkan lokasi lain (p = 0,000; ? = -2,272; OR = 0,013), selain itu
ketersedian obat juga lebih rendah pada rumah tangga yang memiliki anggota
lebih sedikit (p = 0,016; ? = -1,832; OR = 0,160). Memiliki anggota keluarga
dengan penyakit kronis juga ternyata tidak meningkatkan ketersediaan obat
dirumah (p = 0,032; ? = -0,756; OR = 0,470), namun pengaruh positif ditemukan
pada waktu tempuh fasilitas kesehatan pemerintah ? 15 menit terhadap peningkatan
ketersediaan obat di rumah tangga (p = 0,000; ? = 0,902; OR = 2,464).
Hasil penelitian secara keseluruhan menunjukkan perlunya perbaikan
aksesibilitas terutama pada indikator pengelolaan obat, memastikan kesesuaian
penyimpanan obat dengan indikator untuk meningkatkan kualitas penanganan obat, dan
peningkatan peran apoteker untuk mewujudkan perbaikan pelayanan sehingga meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap pengobatan.
This study aims to develop a drug use
evaluation guideline focusing on three components: accessibility, handling
quality, and rationality for healthcare facilities, followed by an evaluation
of drug use in households to assess the impact of drug use at healthcare
facilities, particularly for hypertension and diabetes mellitus.
The study was conducted in two stages. The
first stage employed a mix-methods approach, beginning with a literature
review, Focus Group Discussions (FGD), interviews, and a modified Delphi
consensus to determine the final indicators, which were then compiled into an
evaluation guideline. FGDs and interviews involved 10 experts, while the Delphi
consensus was followed by 13 experts. The second stage was a cross-sectional
survey to evaluate drug use in seven public health centers (puskesmas),
along with a survey on drug use in 506 selected households in Lampung Province,
determined through purposive sampling.
The evaluation guideline consists of 23 main
indicators, including 7 accessibility, 8 handling quality, and 8 rationality.
The evaluation revealed disparities in drug use at puskesmas across
numerous indicators. The study also found that household drug availability in
West Lampung District was lower than in other areas (p = 0.000; ? = -2.272; OR
= 0.013), In addition, the availability of drugs was also lower in households
with fewer members (p = 0.016; ? = -1.832; OR = 0.160). Having family members
with chronic illnesses did not significantly increase household drug
availability (p = 0.032; ? = -0.756; OR = 0.470), furthermore, a positive
effect was observed for travel time to government healthcare facilities of ? 15
minutes on household drug availability (p = 0.000; ? = 0.902; OR = 2.464).
This study highlights the need for
improvements in drug management to enhance accessibility. Ensuring proper drug
storage according to standards is crucial for better handling quality. Additionally,
empowering pharmacists to take a more active role in service delivery will
improve public access to treatment.
Kata Kunci : aksesibilitas, kualitas penanganan, rasionalitas, puskesmas, rumah tangga