Upaya Restrukturasi Utang Sri Lanka di Bawah Pemerintahan Ranil Wingkremesinghe tahun 2020-2024
Silvia Cristine Hasianta Manurung, Dr. Siti Muti'ah Setiawati, MA
2024 | Tesis | S2 Ilmu Hubungan Internasional
Tesis ini akan mendiskusikan upaya restrukturasi utang negara Sri Lanka di masa pemerintahan Ranil Wingkremesinghe pada tahun 2020-2023. Ragam peristiwa seperti pandemi COVID-19, invasi Rusia di Ukraina, hingga perang dagang Amerika dan Tiongkok menimbulkan dinamika yang mempengaruhi tren dagang dan perekonomian dunia, terlebih Sri Lanka. Fenomena ini mengakibatkan kelangkaan bahan pokok seperti pangan, sandang, hingga bahan bakar dan listrik yang mengakibatkan penurunan kualitas hidup masyarakatnya. Sebagai negara berkembang, keadaan tersebut menimbulkan peningkatan anggaran belanja negara yang diikuti oleh pesatnya peurunan cadangan devisa sebagai imbas dari twin deficit negara. Sebagai sousi, pemerintah Sri Lanka di bawah pemerintahan Ranil Wingkremesinghe megupayakan restrukturasi utang dengan pihak kreditor mereka. Hal ini tidak mudah karena rendahnya nilai jual Sri Lanka dalam menarik perhatian pada kreditor, berikut dengan masih berlangsungnya perang sipil di negara mereka. Tidak hanya masalah keamanan, pihak kreditor juga keberatan dengan permohonan Sri Lanka dalam memangkas hampir setengah dari persentase keuntungan mereka. Dengan alotnya proses restrukturasi ini, pemerintah Sri Lanka berpacu dengan waktu agar dapat mengamankan kesejahteraan negaranya di tengah krisis ekonomi yang beruntun.
This thesis will discuss Sri Lanka's attempt in restructuring their debt under Ranil Wingkremesinghe's administration from 2020-2023. Various events such as COVID-19 pandemic, Russia's intervention over Ukraine, and the America and Chinese trade war have created dynamics that affect world trade and economic trends, especially Sri Lanka. This phenomenon resulted in a decline in the life quality of the people. As a developing country, this situation has resulted in an increase in the state budget followed by rapid decline in foreign exchange reserves which has impacted the country's twin deficits. As solution, the Sri Lankan government under Ranil Wingkremesinghe designed their debt restructuring attempt towards their creditors, coupled with the on-going civil war in their country. Not only due to security concerns, creditors also objected Sri Lanka's request to cut almost half of their profit percentage. With this tough restructuring process, the Sri Lankan government is racing against time to secure their country's prosperity in the midst of successive economic crises.
Kata Kunci : Dependensi, Sri Lanka, IMF, Restrukturasi Utang, Utang Luar Negeri, Paris Club