Pemberian ASI dan makanan pendamping ASI pada bayi 0-6 bulan oleh ibu-ibu Suku Banjar di Perkotaan dan Pedesaan di Kalimantan Selatan
FATHURRAHMAN, Toto Sudargo, SKM.,M.Kes
2004 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Penyapihan bayi sudah mulai tampak berubah terutama di kota-kota besar dan pinggiran kota. Umur penyapihan semakin muda dan ibu cenderung memberikan susu botol dan makanan pendamping lainnya secara dini. Tujuan: Mengetahui perbedaan pemberian ASI dan MP-ASI pada bayi 0-6 bulan oleh ibu-ibu Suku Banjar di pekotaan dan pedesaan serta factor-faktor yang mempengaruhinya. Metode: Jenis penelitian adalah cross-sectional. Populasi adalah ibu-ibu Suku Banjar yang mempunyai bayi 0-6 bulan di Kalimantan Selatan. Sampel berjumlah 436 orang, terdiri dari 222 orang di perkotaan wilayah Kota Banjarmasin dan 217 orang di pedesaan wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sampel dikelompokkan berdasarkan strata umur 0-<1 bulan, 1- <2 bulan, 2-<3 bulan, 3-<4 bulan, 4-<5 bulan, dan 5-<6 bulan. Analisis data menggunakan uji Mantel Haenszel. Hasil: Sebagian besar bayi pernah diberi ASI, namun pada saat penelitian proporsi bayi yang masih diberi ASI sedikit berkurang. Tidak ada perbedaan pemberian ASI pada bayi 0-6 bulan di perkotaan dan pedesaan (p>0,05). Pemberian MP-ASI pada kelompok umur 0-<1 bulan sampai dengan 2-<3 bulan lebih tinggi di perkotaan, tetapi setelah umur 3 bulan ke atas tidak berbeda. Secara keseluruhan ada perbedaan pemberian MP-ASI pada bayi 0-6 bulan di perkotaan dan pedesaan (p<0,05). Jenis MP-ASI yang diberikan di perkotaan umumnya berupa susu/makanan formula, sedangkan di pedesaan adalah makanan tradisional. Adapun faktor yang berhubungan dengan pemberian MP-ASI di perkotaan adalah sikap dan pendidikan ibu, sedangkan di pedesaan adalah sikap dan jumlah anak. Kesimpulan: Pemberian ASI pada bayi 0-6 bulan di perkotaan tidak berbeda dengan pedesaan, sedangkan pemberian MP-ASI berbeda pada kedua wilayah tersebut. Faktor yang berhubungan dengan pemberian MP-ASI di perkotan adalah sikap dan pendidikan ibu, sedangkan di pedesaan adalah sikap dan jumlah anak. Saran: Perlu peningkatan promosi pemberian ASI eksklusif secara berkesinambungan melalui televisi, radio, surat kabar, dan media lainnya. Khusus di pedesaan, perlu pendekatan terhadap tokoh masyarakat, terutama pada dukun kampung yang sering menolong persalinan.
Background: Weaning has begun to become different especially in big cities and outskirts of the city. Weaning age of babies is younger and mothers tend to formula feed and other complementary food early. Objectives: To identify difference between breast feeding and complementary feeding on babies 0-6 months old of Banjar family in urban and rural areas and factors influencing it. Methods: This research was a cross sectional study. Subjects were 436 mothers of Banjar family having babies 0-6 months old, consisting of 222 mothers in urban areas of Banjarmasin and 217 mothers in rural areas of Hulu Sungai Selatan regency. The subjects were grouped on age strata of 0-<1 months, 1-<2 months, 2-<3 months, 3-<4 months, 4-<5 months, 5-<6 months. Data was analyzed with Mantel Haenszel test. Result: Most babies have been ever breast fed, but in this study period, prevalence of breast feeding decreased slightly. There was no difference between breast feeding on babies 0-6 month old in urban and rural (p>0.05). The prevalence of complementary feeding on 0-<1 to 2-<3 months groups in urban was higher than rural areas (p<0.05), but on >3 months groups it was indifferent. Entirely, there was difference between complementary feeding on babies 0-6 months old in urban and rural (p<0.05). Among mothers who complementary fed, infant formula feeding was the most in uban area, while in rural area it was traditional food (porridge, ketupat, banana, etc.). Factors related complementary feeding in urban were attitude and education level of mothers, while in rural were attitude and amount of children. Conclusion: Breast feeding on babies 0-6 months old in urban and rural was not different, while complementary feeding was different. Factors related complementary feeding in urban was attitude and education level of mother, and in rural were attitude and amount of child.
Kata Kunci : Gizi Anak Balita,ASI dan MP ASI