PREPARASI MATERIAL NANOKOMPOSIT KARBON BERPORI/POLIANILIN SEBAGAI AMINE-RICH ADSORBENT UNTUK PENJERAPAN CO2 DAN ION FOSFAT DALAM AIR LIMBAH
Henra Gurning, Prof. Ir. Imam Prasetyo, M.Eng., Ph.D.; Dr. Ing. Ir. Teguh Ariyanto, S.T., M.Eng., IPM, ASEAN Eng.
2024 | Tesis | S2 Teknik Kimia
Adsorben karbon berpori telah banyak digunakan pada
proses water treatment dan pollution removal dari udara, namun
adsorben karbon berpori memiliki keterbatasan, seperti afinitas yang relatif
kurang baik terhadap senyawa atau molekul tertentu. Oleh karena itu, tujuan
dari penelitian ini adalah mengembangkan adsorben yang permukaannya memiliki
gugus fungsional tertentu, salah satunya adalah penambahan gugus amina atau
yang biasa disebut amine-rich adsorbent. Amine-rich adsorbent dibuat dengan cara mengkompositkan karbon
berpori dengan polianilin (PANI) melalui proses in-situ polimerisasi
yang akan meningkatkan afinitas terhadap beberapa molekul dan sebagai studi
kasus pada penelitian ini adalah ion fosfat dan gas karbon dioksida.
Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap
pertama digunakan dalam penelitian ini adalah karbonisasi hidrotermal (HTC)
yang akan menghasilkan hydrochar. Metode HTC dipilih karena prosesnya
menggunakan suhu yang lebih rendah dan terkendali, serta berlangsung dalam
medium berair dan tekanan autogenus yang memungkinkan degradasi kitosan
untuk membentuk struktur karbon aromatik yang lebih stabil. Kemudian hydrochar
tersebut diaktivasi dengan metode gasifikasi parsial dengan steam
sebagai activating agent, yang bertujuan untuk menciptakan pori-pori
baru pada material hydrochar sehingga meningkatkan luas permukaan dan
meningkatkan reaktivitas karbon. Tahap berikutnya adalah pengkompositan antara
karbon berpori dengan polianilin (PANI) untuk menambahkan gugus fungsi aktif
amina pada permukaan karbon berpori dengan persentasi berat PANI 3%, 5%, 10%.
Selanjutnya dilakukan karakterisasi dari material nanokomposit menggunakan Thermogravimetric
Analysis (TGA), Analisis adsorpsi-desorpsi N2, SEM-EDX mapping
analysis, dan Fourier Transform Infrared (FTIR) analysis. Tahap
selanjutnya adalah uji kesetimbangan dan kinetika dari nanokomposit yang
dihasilkan pada gas karbon dioksida dan ion fosfat dalam air limbah.
Hasil
karakteristik SEM menunjukkan karbon berpori dari kitosan memiliki permukaan
berongga dan tidak teratur, sedangkan nanokomposit karbon berpori/PANI terlihat
berongga dan teraglomerasi karena terembannya PANI. EDX menunjukkan peningkatan
unsur N pada material nanokomposit, dan FT-IR menunjukkan peak gugus
N-H, C=C, dan N=C=N (kuinoid dan benzenoid) sebagai identitas PANI. BET menunjukkan penurunan luas
permukaan spesifik karbon berpori setelah dikompositkan dengan PANI.
Selanjutnya, hasil TGA menunjukkan karbon berpori lebih stabil pada temperatur
tinggi, sehingga berpotensi sebagai prekursor nanokomposit. Jumlah PANI yang
paling optimum yang diembankan dalam karbon berpori dari kitosan pada pengujian
ion fosfat dalam air limbah menunjukkan PANI 3% pada pH 3 optimal, dengan nilai
Cµ berturut-turut 4,02 mg/g; 7,47 mg/g; 6,21 mg/g pada konsentrasi larutan uji
fosfat 10 ppm. Komposit karbon berpori dan PANI meningkatkan adsorpsi ion
fosfat dibanding karbon berpori saja. Adsorpsi CO2 menunjukkan nilai
Cµmax mengikuti model Langmuir
sebesar 13,35 mmol/g; 3,94 mmol/g; 10,30 mmol/g, dengan kinerja karbon berpori
dari kitosan optimal tanpa PANI.
Porous carbon adsorbents have been widely utilized in
water treatment processes and air pollution removal; however, these materials
possess limitations, such as relatively poor affinity toward certain compounds
or molecules. Thus, the objective of this research is to develop an adsorbent
with specific functional groups on its surface to enhance its affinity, one of
which involves the addition of amine groups, referred to as amine-rich
adsorbents. These amine-rich adsorbents are synthesized by compositing porous
carbon with polyaniline (PANI) through an in-situ polymerization process,
aiming to increase the affinity toward specific molecules, particularly
phosphate ions and carbon dioxide in this study.
This research was conducted in several stages. The
first stage involved hydrothermal carbonization (HTC) to produce hydrochar. HTC
was chosen due to its lower and controlled processing temperature, aqueous
medium, and autogenous pressure, which facilitates chitosan degradation into a
more stable aromatic carbon structure. The chitosan-derived carbon was then
activated through partial steam gasification, aiming to create new pores in the
hydrochar, thereby increasing surface area and reactivity. The subsequent step
involved compositing porous carbon with PANI to introduce amine functional
groups on the carbon surface, using 3%, 5%, and 10% weight percentages of PANI.
Physical and chemical characterizations of the nanocomposite materials were
conducted using Thermogravimetric Analysis (TGA), N2 adsorption-desorption
analysis, SEM-EDX mapping, and Fourier Transform Infrared (FTIR) analysis. The
final step involved equilibrium and kinetic studies of the nanocomposites for
the adsorption of carbon dioxide gas and phosphate ions in wastewater.
SEM characterization revealed that the porous carbon derived from
chitosan exhibited a hollow and irregular surface, while the porous carbon/PANI
nanocomposites appeared hollow and agglomerated due to the presence of PANI.
EDX analysis of the nanocomposites indicated an increase in nitrogen content on
the surface, and FTIR results identified peaks corresponding to N-H, C=C, and
N=C=N (quinoid and benzenoid) groups, characteristic of PANI. BET analysis
showed a reduction in the specific surface area of the chitosan-derived porous
carbon after compositing with PANI. Furthermore, TGA results demonstrated that
the mass loss rate of the chitosan-derived porous carbon was more stable,
indicating its potential as a nanocomposite precursor material. The optimal amount
of PANI incorporated into the chitosan-derived porous carbon for phosphate ion
adsorption was found to be 3%, with an optimal pH of 3 (acidic). The Cµ values
for chitosan-derived porous carbon, PANI, and 3% porous carbon/PANI
nanocomposites were 4.02 mg/g, 7.47 mg/g, and 6.21 mg/g, respectively, showing
that PANI compositing improved phosphate adsorption performance compared to
porous carbon alone. The Cµmax values following the Langmuir model for CO2 gas
adsorption were 13.35 mmol/g, 3.94 mmol/g, and 10.30 mmol/g, respectively,
indicating that the chitosan-derived porous carbon performed optimally in CO2
capture without the need for PANI compositing.
Kata Kunci : Amine-rich adsorbent, Karbon berpori; Nanokomposit; Polianilin