Manajemen Risiko pada Usaha Tani Beras Merah di Kabupaten Sleman
Richard Preben Hezer Hawu Lado, Dr. Jangkung Handoyo Mulyo, M.Ec ; Prof. Dr. Ir. Masyhuri ; Arini Wahyu Utami, S.P., M.Sc., Ph.D
2024 | Tesis | S2 Magister Manj.Agribisnis
Beras merah merupakan beras produksi khas Kabupaten Sleman. Beras merah sebagai produk lokal perlu dijaga kelestariannya karena bermanfaat untuk kesehatan misalnya (diabet dan diet) memenuhi permintaan masyarakat yang mulai mengkonsumsi beras merah karena alasan kesehatan. Namun demikian usahatani cukup berisiko terutama dari sisi produksi. Oleh karena itu perlu dikaji mengenai risiko produksi beras merah, sehingga dapat dicarikan solusi penyelesaiannya. Kemudian bagaimana petani sebagai pelaku usaha mempersepsikan risiko dan memilih perlakuan terhadap risiko. Responden dalam penelitian ini ditentukan berjumlah 100 orang responden dengan metode judgemental sampling dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan menggunakan Ordinary Least Square (OLS), koefisien variasi, risk matrix dan membandingkan frekuensi dan koefisien variasi pada pilihan manajemen risiko. Hasil penelitian menunjukan bahwa luas lahan, penggunaan benih beras merah, pestisida dan pendidikan petani berpengaruh positif dalam peningkatan produksi beras merah di Kabupaten Sleman. Sedangkan tenaga kerja berpengaruh negatif bagi peningkatan produksi beras merah. Usaha tani beras merah termasuk usaha tani berisiko tinggi ditunjukan dengan nilai koefisien variasi 0,8592. Hasil penelitian menunjukan persepsi petani menempatkan beberapa risiko kedalam kategori high risk pada risiko produksi terdapat risiko kenaikan harga sarana produksi,ketidakpastian musim hujan dan bencana alam; sedangkan pada risiko tenaga kerja tidak ada; pada risiko pasar terdapat risiko persaingan produk serupa dan permintaan pasar tidak stabil; serta pada risiko keuangan ada risiko kekurangan modal yang menjadi prioritas risiko yang perlu ditangani. Terkait manajemen risiko pada tahap ex-ante, interactive dan ex-post disesuaikan dengan opsi yang menunjukan risiko lebih rendah.
Brown rice is a distinctive rice production from Sleman Regency. As a local product, brown rice needs to be preserved due to its health benefits, such as for diabetes and diet, and to meet the growing consumer demand driven by health concerns. However, rice farming is quite risky, particularly from the production side. Therefore, it is important to examine the risks associated with brown rice production to find potential solutions. Additionally, it is crucial to understand how farmers, as business operators, perceive these risks and choose risk management strategies. In this study, 100 respondents were selected using judgmental sampling, and the data were analyzed using multiple linear regression with Ordinary Least Squares (OLS), coefficient of variation, risk matrix, and comparisons of frequency and coefficient of variation in risk management options. The results indicate that land area, use of brown rice seeds, pesticides, and farmer education positively affect brown rice production in Sleman Regency. Conversely, labor negatively impacts brown rice production. Brown rice farming is considered a high-risk venture, as shown by the coefficient of variation value of 0.8592. The study reveals that farmers categorize some production risks as high risk, including rising input prices, uncertain rainy seasons, and natural disasters; no high risks were identified for labor. Market risks include competition from similar products and unstable market demand, while financial risks include insufficient capital, which is a priority risk that needs to be addressed. Risk management strategies in the ex-ante, interactive, and ex-post stages should be adjusted according to options that indicate lower risk levels.
Kata Kunci : faktor penentu produksi, OLS, risiko produksi, coefficient of variation, risk matrix, beras merah/production determinants, OLS, production risk, coefficient of variation, risk matrix, brown rice