Pendugaan Laju Erosi dan Runoff Menggunakan Model Soil and Water Assessment Tool (SWAT) di Daerah Tangkapan Air Karangkobar Kabupaten Banjarnegara
YOSAPHAT HERJUNO BAGASKORO, Dr.Agr.Sc. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU., ASEAN Eng.
2024 | Skripsi | KEHUTANAN
Manusia sebagai salah satu komponen DAS berperan dalam penentuan pola penggunaan lahan pada suatu wilayah DAS yang akan menyebabkan bertambahnya lahan kritis, tingginya laju aliran permukaan, dan meningkatnya erosi tanah. DTA Karangkobar merupakan salah satu bagian hulu sub DAS Merawu yang terletak di Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah. Alih fungsi lahan menjadi pertanian dan bangunan fisik oleh masyarakat mengakibatkan sering terjadi bencana tanah longsor. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui besaran nilai erosi dan runoff serta merancang rekomendasi teknik konservasi tanah dan air di DTA Karangkobar.
Penelitian ini dilaksanakan menggunakan model Soil and Water Assessment Tool (SWAT). Simulasi model SWAT dilakukan selama 10 tahun (2013-2022), diawali proses warming up pada 2 tahun pertama lalu running pada 8 tahun berikutnya. Hasil data berupa besaran erosi dan runoff yang diperoleh akan dijadikan rancangan teknik konservasi tanah dan air yang disesuaikan pada setiap penggunaan lahan.
Hasil penelitian ini menunjukkan nilai rerata erosi di DTA Karangkobar sebesar 35,9 ton/ha/tahun, dengan rerata erosi tertinggi berada pada penggunaan lahan pertanian intensif. Klasifikasi tingkat bahaya erosi (TBE) yang mendominasi wilayah DTA Karangkobar yaitu sangat ringan, ringan, dan sedang. Sementara itu, nilai rerata runoff di DTA Karangkobar sebesar 105,71 mm/tahun dengan rerata runoff tertinggi berada pada penggunaan lahan sawah irigasi serta koefisien limpasan bernilai 68,3 %. Rekomendasi teknik konservasi tanah dan air (KTA) yang tepat untuk diterapkan di wilayah DTA Karangkobar yaitu pengolahan lahan menurut kontur (contouring) yang mampu mengurangi besaran erosi hingga 65,6 ?n besaran runoff hingga 27,8 %.
Humans as one of the watershed components play a role in determining land use patterns in a watershed area that will lead to increased critical land, high surface flow rates, and increased soil erosion. Karangkobar catchment is one of the upstream parts of Merawu sub-watershed located in Banjarnegara Regency, Central Java Province. Land conversion into agriculture and physical buildings by the community is resulting in frequent landslides. The purpose of this research is to determine the magnitude of erosion and runoff values and to design recommendations for soil and water conservation techniques in the Karangkobar catchment.
This research was conducted using the Soil and Water Assessment Tool (SWAT) model. The SWAT model simulation was carried out for 10 years (2013- 2022), starting with the warming up process in the first 2 years and then running for the next 8 years. The results of the data in the form of the amount of erosion and runoff obtained will be used as the design of soil and water conservation techniques adapted to each land use.
The results of this research show that the average value of erosion in Karangkobar catchment is 35.9 tons/ha/year, with the highest erosion rate in intensive agricultural land use. The domination classification of erosion hazard level (TBE) is very light, light, and medium. Meanwhile, the average runoff value is 105.71 mm/year with the highest runoff average being in the irrigated rice field land use and the runoff coefficient is 68.3 %. Recommendations for soil and water conservation (KTA) that are appropriate to be applied in the Karangkobar catchment are contouring which can reduce the amount of erosion by 65.6 % and the amount of runoff by 27.8 %.
Kata Kunci : Erosi, Runoff, KTA, SWAT, DTA Karangkobar