Matinya Kepakaran Agama Digital dalam Perspektif Arkeologi Pengetahuan Michel Foucault
Siti Roisadul Nisok, Prof. Drs. M. Mukhtasar Syamsuddin, Ph.D of Arts.
2024 | Tesis | S2 Ilmu Filsafat
Di era postmodernisme yang ditandai dengan digitalisasi dalam segala
aspek kehidupan manusia telah memberikan implikasi tersendiri, khususnya pada
ranah agama. Melalui perkembangan teknologi dan media kontemporer, agama
telah termediasi olehnya, sehingga muncul sebuah terminologi baru yang disebut
sebagai “Agama Digital”. Agama digital hadir sebagai tipologi yang berkembang
dalam kehidupan beragama manusia. Di dalamnya muncul beragam paradigma
baru dalam praktik dan produksi pengetahuan keagamaan termasuk partisipasi
Artificial Intelligence. Ironisnya kondisi yang sedemikian telah memengaruhi
perubahan otoritas dan pengetahuan keagamaan yang terpusat.
Bertolak dari fenomena tersebut, penelitian tesis ini merupakan penelitian
kualitatif yang mengkaji agama digital melalui lensa arkeologi pengetahuan Michel
Foucault. Arkeologi pengetahuan digunakan untuk melihat retakan dalam sejarah
(diskontinuitas). Dalam hal ini adalah diskontinuitas dalam agama. Konsep-konsep
kunci dalam arkeologi pengetahuan meliputi; arsip, diskursus, dan episteme
bermain dalam melihat agama digital. Diskursus agama digital yang beroperasi
dalam kerangka epistem yang baru, menantang batas-batas otoritas lama dan
membuka jalan bagi logika pengetahuan yang lebih inklusif namun kompleks.
Arsip digital, sebagai tempat penyimpanan memori kolektif, yang menyimpan
jejak-jejak diskontinuitas yang mengartikan ulang makna otoritas di era digital.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis agama digital melalui
arkeologi pengetahuan Michel Foucault membentuk intension dari makna matinya
kepakaran otoritas agama digital dengan adanya demokratisasi pengetahuan dan
shifting authority. Matinya kepakaran agama digital tidak hanya mencerminkan
kematian otoritas tradisional, tetapi juga kelahiran bentuk-bentuk baru otoritas yang
lebih cair dan tedesentralisasi.
In the era of postmodernism, which is marked by digitalization in all aspects of human life, it has its own implications, especially in the realm of religion. Through the development of technology and contemporary media, religion has been mediated by it, so that a new terminology has emerged called "Digital Religion". Digital religion is present as a typology that develops in human religious life. In it, various new paradigms emerge in the practice and production of religious knowledge, including the participation of Artificial Intelligence. Ironically, such conditions have influenced changes in centralized religious authority and knowledge.Starting from this phenomenon, this thesis research is a qualitative research that examines digital religion through the lens of Michel Foucault's archaeology of knowledge. The archaeology of knowledge is used to see cracks in history (discontinuity). In this case, it is discontinuity in religion. Key concepts in the archaeology of knowledge including; archive, discourse, and episteme come into play in looking at digital religion. Digital religious discourse operates within a new epistemic framework, challenging old boundaries of authority and paving the way for a more inclusive yet complex logic of knowledge. Digital archives, as repositories of collective memory, hold traces of discontinuity that redefine the meaning of authority in the digital age. The results show that the analysis of digital religion through Michel Foucault's archaeology of knowledge forms the intension of the meaning of the death of digital religious authority expertise with the democratization of knowledge and shifting authority. The death of digital religious expertise not only reflects the death of traditional authority, but also the birth of new forms of authority that are more fluid and decentralized.
Kata Kunci : Kepakaran, Agama, Digital, Arkeologi, Pengetahuan