Laporkan Masalah

Upaya perbaikan perencanaan dan distribusi obat Puskesmas melalui monitoring-training-planning di Kabupaten Kolaka

MASIRRI, Harun, Dr. Sri Suryawati

2004 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang : Perencanaan dan distribusi obat di puskesmas Kabupaten Kolaka belum terlaksana dengan baik, disebabkan karena pengetahuan dan keterampilan pengelola obat kurang. Upaya perbaikan pengelolaan obat yang telah dilakukan adalah supervisi 1 kali setahun dan pelatihan pengelolaan obat, namun belum membawa hasil yang lebih baik. Untuk itu diperlukan suatu pendekatan intervensi edukatif yang efektif. Monitoring-Training-Planning (MTP) merupakan bentuk intervensi edukatif dengan pendekatan inovatif meliputi komponen pemantauan, pendidikan dan pemecahan masalah, dan perencanaan dalam suatu proses berkesinambungan melalui pembelajaran mandiri. Penelitian dilakukan dengan membandingkan supervisi 1 kali, supervisi 3 kali dan MTP 3 kali. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengelola obat sehingga dapat memperbaiki perencanaan dan distribusi obat di puskesmas dengan intervensi MTP. Metode : Penelitian dilakukan dengan rancangan pre-post with control design. Dari 20 puskesmas yang ada dipilih 18 puskesmas terdiri dari 6 puskesmas perawatan dan 12 puskesmas non perawatan, dibagi 3 kelompok dengan ciri seimbang secara acak. Kelompok I sebagai kontrol dengan intervensi supervisi dan umpan balik 1 kali, kelompok II dengan intervensi supervisi dan umpan balik 3 kali, dan kelompok III dengan intervensi MTP 3 kali. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner yang terdiri dari soal pilihan ganda dan soal benar-salah. Keterampilan diukur menggunakan indikator perencanaan dan distribusi obat meliputi persentase ketepatan perencanaan, obat dengan tingkat aman, ketepatan distribusi, rata-rata bobot variasi persediaan, obat kadaluwarsa, dan obat rusak; serta pengamatan menggunakan daftar tilik pengelolaan obat. Analisis data menggunakan uji t dan perbandingan secara visual. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pengetahuan yang bermakna terjadi pada ketiga kelompok sebelum dan sesudah intervensi (p=0,000). Peningkatan pengetahuan kelompok III lebih baik bila dibandingkan dengan kelompok I dan II, baik pada tipe soal pilihan ganda (2,91 vs 1,91 dan 2,81), maupun pada tipe soal benar-salah (2,27 vs 1,91 dan 2,21). Hasil ini menunjukkan kemampuan menganalisis dan mengingat materi serta pengambilan keputusan lebih baik pada MTP 3 kali dibanding supervisi 3 kali dan supervisi 1 kali. Keterampilan pengelola obat meningkat selama intervensi pada kelompok I dan II, tetapi setelah selesai intervensi langsung menurun dan cenderung kembali pada keadaan semula. Dengan intervensi MTP 3 kali peningkatan terjadi saat dan selama intervensi kemudian relatif menetap. Ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku dapat dipertahankan walaupun intervensi telah selesai. Analisis biaya menunjukkan bahwa bila MTP digunakan untuk menggantikan supervisi, penghematan dapat diperoleh sebesar ±Rp. 80 juta pertahun. Kesimpulan: Intervensi MTP 3 kali meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengelola obat sehingga dapat memperbaiki perencanaan dan distribusi obat di puskesmas. Intervensi MTP 3 kali lebih efektif dan efisien serta bertahan lama dibanding supervisi 3 kali maupun supervisi 1 kali. Dengan fasilitator tenaga pengelola obat di puskesmas, biaya menjadi lebih efisien, sehingga Intervensi MTP potensial untuk diperapkan di puskesmas untuk mengatasi masalah kesehatan.

Background: Planning and distribution of medicine in public health center in Kolaka Regency was not carried out well due to lack of knowledge and skill of drug organizers. Some efforts to improve drug management process have been done, for example annual supervision and drug training management program, but have not brought better result. Therefore it is necessary to have an effective educative approach to this problem. Monitoring-Training-Planning (MTP) represents is an innovative approach that comprises monitoring, education and problem-solving and planning in a continual process through self-study. Research is conducted by comparing 1 time supervision, 3 times supervision and 3 times MTP. The purpose of the research is to improve knowledge and skill of drug organizer so that they can improve drug planning and distribution in public health center using MTP intervention. Method: Research is conducted using pre-post with control design. Of 20 existing public health centers, we have randomly selected 18 health centers that consist of 6 treatment health centers and 12 non-treatment health centers, which are divided into 3 groups with well-balanced characteristics. Group I acts as control with 1 time supervision and feedback intervention, group II with 3 times supervision and feedback intervention, and group III with 3 times MTP intervention. Knowledge is measured using questioners that consist of multiple-choice and true-false questions. Skill is measured using the indicator of drug planning and distribution that covers the percentage of planning accuracy, drugs availability at adequate level, distribution accuracy, the average weight of supply variation, statute-barred drugs, and damaged drugs; and also perception using the drug management observation list. Data is analyzed with test of t and compared visually. Result: Research result shows a significant knowledge improvement in all groups before and after intervention (p=0,000). The increase of knowledge of group III is better than those of group of I and II, not only at multiple-choice questions (2,91 vs 1,91 and 2,81) but also at true-false questions (2,27 vs 1,91 and 2,21). This result shows that analysis skill, material recalling ability and decision making skills of 3 times MTP are better than those of 1 times supervision and 3 times supervision. Drug organizer skill of group I and II increases during intervention, but degrades to the previous level afterward. With 3 times MTP intervention, the improvement occurs at the moment and during intervention and remains relatively the same afterward. This indicates that behavioral change persists even though the intervention has been finished. Cost analysis indicates that if MTP is used to replace the supervision, there will be obtainable retrenchment that equals to ± Rp 80 millions a year. Conclusion: Intervention of 3 times MTP improves the knowledge and skill of drug organizers so that they can improve drug planning and distribution process in public health centers. This method is more effective and efficient has longer effect compared to 3 times supervision and also 1 times supervision. With the aid of drug organizer in public health center, drug expense becomes more efficient. Hence, MTP intervention is feasible to be implemented in public health centers to overcome the health problems.

Kata Kunci : Manajemen Obat,Perencanaan dan Distribusi,Puskesmas


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.