Evaluasi pengadaan obat di Rumah Sakit Umum Daerah Propinsi Sulawesi Tenggara
YUSUF T., Nur Insan, dr. Sulanto S. Danu, SpFK
2004 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar belakang: Pengadaan obat di RSUD Prop. Sultra tahun 1999 dilakukan secara tender sedang tahun 2001 secara langsung oleh IFRS. Dimana masih terjadi inefisien dalam penyediaan obat, dengan demikian mutu pelayanan obat perlu ditingkatkan khususnya pengadaan obat. Sehingga dilakukan evaluasi pengadaan obat di RSUD Prop. Sultra. Penelitian dilakukan untuk mengetahui permasalahan dan tingkat efisiensi pengadaan obat secara langsung dan secara tender di RSUD Prop. Sultra. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi informasi dalam penyusunan perbaikan manajemen pengelolaan obat di rumah sakit. Metode: Penelitian non eksperimental dengan deskriptif analitik, bersifat eksploratif pada pelaksanaan pengadaan obat di RSUD Prop. Sultra dengan data retrospektif. Pengumpulan data dengan observasi dokumen (kuantitatif) dan wawancara (kualitatif) di analisis secara deskriptif. Disusun upaya perbaikan manajemen pengelolaan obat. Data kuantitatif disajikan dalam bentuk tabel dan data kualitatif disajikan dalam bentuk tekstual berupa narasi. Hasil penelitian: Diperoleh 1) Anggaran yang tersedia untuk belanja obat: Dari tahun 1999 pengadaan tender ke tahun 2000 dan tahun 2001 pengadaan langsung menurun disebabkan anggaran hanya berasal dari dana bergulir bantuan pemerintah daerah; Prosentase anggaran obat terhadap anggaran rumah sakit dari tahun 1999 pengadaan tender drastis menurun pada tahun 2000 merupakan masa transisi; perencanaan kebutuhan obat tahun 1999 pengadaan tender, tahun 2001 pengadaan langsung tidak dilakukan; Obat termasuk DOEN tahun 1999 pengadaan tender lebih tinggi dari tahun 2001, 2) Frekuensi pengadaan: Tahun 2001 pengadaan langsung lebih tinggi dari tahun 1999 pengadaan tender. 3) Penyimpanan: Tahun 1999 = tahun 2001 dengan sistim FIFO dan FEFO. 4. a) waktu tunggu: Tahun 1999 pengadaan tender lebih lama dari tahun Tahun 2001 pengadaan langsung; b) Harga obat: Tahun 1999 pengadaan tender lebih mahal dari tahun 2001 pengadaan langsung; over stok, obat kadaluarsa, stok mati, biaya penyimpanan dan biaya pesan setelah EOQ lebih besar tahun 1999 pengadaan tender dari tahun 2001 pengadaan langsung; TOR tahun 1999 pengadaan tender lebih rendah dari tahun 2001 pengadaan langsung. 5) Personalia: Tahun 1999 pengadaan tender melibatkan dalam pengadaan lebih besar dari tahun 2001 pengadaan langsung. 6) Upaya efisiensi pengadaan obat: Dengan penerapan EOQ disertai ROP penghematan biaya persediaan lebih besar tahun 2001 pengadaan langsung dari tahun 1999 pengadaan tender, dengan analisis ABC tahun 2001 pengadaan langsung dengan jumlah item lebih efisien dari tahun 1999, dengan prosentase komulatif pembelian tidak berbeda secara signifikan. Kesimpulan: Sistim pengadaan langsung lebih efisien dari pengadaan tender. Perbaikan manajemen pengelolaan obat untuk menigkatkan efisiensi pengadaan obat di RSUD Prop. Sultra dengan penerapan EOQ disertai ROP dapat menghemat biaya persediaan.
Background: Drug procurement in general hospital of Sultra Province in 1999 was held by tender whereas in 2000 was held directly by pharmacies installation. Inefficiency of drug procurement was happened, so that the quality of drug service should be impressed especially in drug procurement. Based on that fact, evaluation in drug procurement in general hospital of Sultra Province is needed. Research was done to know the problems and the efficiency of drug procurement both by tender and directly in general hospital of Sultra province. The results are expected to be the information in reorganizing drug procurement management. Method: It was used descriptive analytical exploration toward the drugs procurement in general hospital of Sultra province wich was based on retrospective data. Data collecting was held by document observation (quantitative data) and interview with official as qualitative datum. Quantitative datum are presented tabling and qualitative datum are presented narrative textually. Results: 1) Budget for drug in 1999-2000 (by tender) and in 2001 (directly) is decrease. It was caused by limited budget: only from the institution of general hospital, in 1999 was decrease. In 2000, is transitional era: drug in DOEN in 1999 (by tender) is higher than 2001 (directly). 2) Drug procurement frequency, in 2001 (directly) is higher than in 1999 (by tender). 3) Drug caring, both in 1999 and 2001 are used FIFO and FEFO system. 4.a) Lead time in 1999 (by tender) is longer than in 2001 (directly). b) Drug cost in 1999 (by tender) is more expensive than in 2001 (directly). In 1999 (by tender), over stock expired drug static stock for storage cost after EOQ, ordering cost after EOQ are higher than 2001 directly; TOR in 1999 (by tender) is lower than in 2001 (directly). 5) Official in 1999 9by tender) involve more people than in 2001 (directly). 6) Procurement efficiency is reached by using EOQ together with ROP. The retrenchment in 2001 (directly) is better than in 1999 (by tender). The number of item using ABC analysis in 2001 is more efficient than in 1999, cumulative percentage of drug cost is not difference significantly. Conclusion: The system of drug procurement directly is more efficient than by tender. Reorganizing of drug procurement management is needed to increase the efficiency of drug procurement. With using EOQ, together with ROP wich can retrench stock cost.
Kata Kunci : Manajemen Obat,Pengadaan di Rumah Sakit,Drug procurement, evaluation, tender, directly, ABC analytical