Pengaruh Belanja Fungsi Kesehatan dan Afiliasi Politik dalam Penurunan Prevalensi Stunting di Indonesia Era Pemerintahan Joko Widodo
Lestari, Heni Wahyuni, S.E., M.Ec.Dev., Ph.D; Wisnu Setiadi Nugroho, S.E., M.Sc., M.A., Ph.D.
2024 | Tesis | S2 Magister Ek.Pembangunan
Indonesia sebagai negara
berkembang menghadapi berbagai masalah seperti kemiskinan, pendidikan, dan
kesehatan. Era Pemerintahan Joko Widodo merupakan periode yang fokus terhadap
penurunan stunting, dengan menetapkan stunting sebagai isu prioritas nasional
dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020—2024, dengan
target penurunan prevalensi stunting sebesar 14 persen pada 2024. Meskipun
berbagai program pencegahan stunting telah dijalankan, prevalensi stunting di
Indonesia masih tinggi, melebihi rata-rata global atau standar WHO yang di
bawah 20 persen. Tantangan ini semakin besar mengingat target RPJMN yang
memerlukan penurunan rata-rata stunting sebesar 2,7 persen per tahun hingga
2024. Di sisi lain, belanja fungsi kesehatan pemerintah terus mengalami
peningkatan.
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh belanja fungsi kesehatan dan afiliasi
politik dalam penurunan prevalensi stunting di Indonesia selama era
pemerintahan Joko Widodo tahun 2015—2022. Fungsi produksi kesehatan model
Grossman digunakan untuk memperkirakan bagaimana berbagai faktor sosioekonomi,
demografi, lingkungan, dan kecukupan pangan mempengaruhi prevalensi stunting
pada anak di bawah lima tahun. Analisis panel dinamis melalui GMM digunakan
untuk mengatasi kemungkinan adanya endogenitas dalam penelitian ini.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ketika belanja fungsi kesehatan diukur sebagai
rasio realisasi belanja terhadap total APBD, tidak ditemukan pengaruh
signifikan terhadap penurunan prevalensi stunting di seluruh provinsi. Namun,
hasil yang berbeda ditemukan ketika belanja fungsi kesehatan diukur sebagai
rasio realisasi belanja terhadap total populasi penduduk, di mana belanja
fungsi kesehatan memiliki pengaruh signifikan terhadap penurunan prevalensi
stunting. Selain itu, variabel dummy afiliasi politik juga berpengaruh, di mana
kepala daerah yang memiliki afiliasi politik yang sama dengan pemerintah pusat
cenderung lebih efektif dalam alokasi anggaran kesehatan, yang berdampak pada
penurunan prevalensi stunting. Penelitian ini menegaskan bahwa efektivitas
belanja kesehatan memerlukan distribusi yang merata dan program yang tepat
serta kepemimpinan yang kuat untuk benar-benar berdampak pada penurunan
stunting
Indonesia, as a
developing country, faces various issues such as poverty, education, and
health. The Joko Widodo administration has focused on reducing stunting,
designating it as a national priority in the 2020–2024 National Medium-Term
Development Plan (RPJMN) with a target to reduce stunting prevalence to 14
percent by 2024. Despite various stunting prevention programs, the prevalence
of stunting in Indonesia remains high, exceeding the global average or the WHO
standard of under 20 percent. This challenge is compounded by the RPJMN target,
which requires an average annual reduction in stunting of 2.7 percent until
2024. On the other hand, government health spending has continued to increase.
This study aims to
determine the impact of health expenditure and the political affiliation on
reducing stunting prevalence in Indonesia during the Joko Widodo administration
from 2015 to 2022. The Grossman health production function model is used to
estimate how various socioeconomic, demographic, environmental, and food
sufficiency factors affect stunting prevalence among children under five. A
dynamic panel analysis using GMM was employed to address potential endogeneity
issues in this study.
The results show that
when health expenditure is measured as a ratio of actual spending to total
regional budget (APBD), there is no significant impact on reducing stunting
prevalence across provinces. However, different results were found when health
expenditure was measured as a ratio of actual spending to the total population,
where health expenditure had a significant impact on reducing stunting
prevalence. Additionally, the political affiliation dummy variable also
influenced the outcome, with regional heads aligned with the central government
being more effective in allocating health budgets, leading to a reduction in
stunting prevalence. This study emphasizes that the effectiveness of health
spending requires equitable distribution, appropriate programs, and strong
leadership to truly impact stunting reduction.
Kata Kunci : Stunting, Belanja Fungsi Kesehatan, Afiliasi Politik, GMM