Optimasi Recovery Besi Oksida Dari Red Mud Sebagai Pigmen Anorganik Menggunakan Metode Gravitasi Dengan Shaking Table
Muhammad Hammam Zufar Annafie, Prof. Dr. Ir. Edia Rahayuningsih, MS., IPU. ; Prof. Himawan Tri Bayu Murti Petrus, S.T., M.E., D.Eng.
2024 | Tesis | S2 Teknik Kimia
Upaya untuk
mengatasi permasalahan lingkungan pada limbah red mud yang memiliki
jumlah sangat banyak saat ini sedang dicari alternatifnya. Red mud
merupakan limbah padat yang berasal dari residu pemurnian alumina bijih bauksit
dengan proses Bayer menggunakan natrium hidroksida (NaOH). Red mud
memiliki alkalinitas tinggi dengan pH 10-12, salah satu cara untuk mengatasi
permasalahan lingkungan tersebut yaitu dengan memanfaatkan kandungan besi
oksida yang tinggi dalam red mud sebagai pigmen anorganik. Metode yang
digunakan yaitu gravity concentration dengan menggunakan alat shaking
table. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari kondisi optimum perolehan recovery
besi oksida menggunakan shaking table sebagai alat pengkonsentrasi
dengan berbagai variasi kemiringan meja, ukuran partikel, dan kecepatan aliran
air. Komunisi berperan penting dalam pembebasan (liberasi) mineral berharga
dari mineral pengotornya serta untuk mereduksi ukuran red mud hingga
kecil dan seragam. Hasil konsentrasi menggunakan shaking table berupa concentrate
side (heavy mineral) dan tailing side (light mineral).
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi sebagai alternatif bahan baku
dalam pembuatan pigmen anorganik sekaligus menggantikan pewarna sintesis yang
kurang ramah lingkungan. Parameter yang digunakan adalah variasi kemiringan meja
(3o, 5o, 7o), ukuran partikel (-60+100 mesh,
-100+150 mesh, -150+200 mesh), dan kecepatan aliran air (6 L/menit. 8 L/menit,
dan 10 L/menit). Analisis XRD dan XRF dilakukan untuk mengetahui kandungan awal
besi oksida dalam red mud sebelum ditingkatkan konsentrasinya
menggunakan shaking table. Selain itu, pengukuran warna diperlukan
dengan menggunakan FRU-WR-10 Colorimeter untuk mengetahui warna sebenarnya
yang ditentukan dengan sistem koordinat ruang warna CIE-L*a*b*. Untuk
mengetahui kondisi perolehan recovery besi oksida optimum, dilakukan
pengolahan data dengan rancangan statistik berupa Design of Experiment
(DOE) yaitu Response Surface Methodology (RSM) menggunakan software
Design Expert 13. Nilai grade tertinggi yaitu pada percobaan 26 dengan
kondisi operasi kemiringan meja 7o, ukuran partikel -100+150 mesh,
dan kecepatan aliran air 8 L/menit dengan nilai 88,89%. Sedangkan untuk perolehan
recovery besi oksida yang tertinggi yaitu pada percobaan 4 dengan
kondisi operasi kemiringan meja 3o, ukuran partikel -100+150 mesh,
dan kecepatan aliran air 6 L/menit dengan nilai 15,76%. Hasil analisis variansi
(ANOVA) diperoleh p-value dari model sebesar 0,000 yang lebih kecil
dibandingkan derajat signifikasi (?) sebesar 0,05 sehingga menunjukkan bahwa
model yang digunakan adalah signifikan. Hasil analisis warna pada sampel concentrate
pada percobaan 26 memiliki nilai kecerahan (lightness) yang paling
rendah dengan nilai L* sebesar 31,53 yang menandakan warna tampak lebih gelap
(hitam).
Strategies are
currently being sought to overcome environmental problems in red mud waste,
which has a very large amount. Red mud is a solid waste derived from the
residue of bauxite ore alumina refining with the Bayer process using sodium
hydroxide (NaOH). Red mud has high alkalinity with a pH of 10-12, one way to
overcome these environmental problems is to utilize the high iron oxide content
in red mud as an inorganic pigment. The method used is gravity concentration
using a shaking table. The purpose of this study is to find the optimum conditions
for iron oxide recovery using a shaking table as a concentrating device with
various variations in table slope, particle size, and water flow velocity.
Comminution plays an important role in the liberation of valuable minerals from
impurity minerals and to reduce the size of red mud to small and uniform. The
result of concentration using shaking table is concentrate side (heavy mineral)
and tailing side (light mineral). This research is expected to provide
solutions as an alternative raw material in the manufacture of inorganic
pigments while replacing synthetic dyes that are less environmentally friendly.
The parameters used were variation of table slope (3o, 5o,
7o), particle size (-60+100 mesh, -100+150 mesh, -150+200 mesh), and
water flow speed (6 L/min. 8 L/min, and 10 L/min). XRD and XRF analysis were
conducted to determine the initial iron oxide content in red mud before
increasing the concentration using a shaking table. In addition, color
measurement was required using FRU-WR-10 Colorimeter to determine the actual
color determined by CIE-L*a*b* color space coordinate system. To determine the
optimum iron oxide recovery conditions, data processing was carried out with a
statistical design in the form of Design of Experiment (DOE), namely Response
Surface Methodology (RSM) using Design Expert 13 software. The highest-grade
value was in experiment 26 with operating conditions of 7o table
slope, particle size -100 + 150 mesh, and water flow velocity of 8 L/min with a
value of 88.89%. As for the highest iron oxide recovery, it is in experiment 4
with the operating conditions of table slope 3o, particle size -100
+ 150 mesh, and water flow velocity 6 L/min with a value of 15.76%. The results
of the analysis of variance (ANOVA) obtained a p-value of the model of 0.000
which is smaller than the degree of significance (?) of 0.05, thus indicating
that the model used is significant. The results of color analysis on
concentrate samples in experiment 26 had the lowest lightness value with an L*
value of 31.53, indicating that the color looks darker (black).
Kata Kunci : Red Mud, Metode Gravitasi, Shaking Table, Recovery, Pigmen Anorganik