Simulasi penggunaan lahan sebagai upaya untuk memperbaiki imbangan air di sub Das Temon dan DAS Wader Wonogiri
Qurniati Fajar, Drs. Soenarso Simoen
2000 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANSub-DAS Temon dan Sub-DAS Wader termasuk Sub-DAS Sub-DAS dari DAS Solo, dimana DAS Solo termasuk salah satu DAS prioritas. Penetapan DAS Prioritas salah satunya adalah dilihat dari kondisi hidrologis yang kritis yang ditandai dengan besarnya perbandingan antara debit minimum dan debit maksimum (rasio debit). Kondisi hidrologis tersebut sangat dipengaruhi oleh karak-teristik DAS seperti tanah, penggunaan lahan, topografi, dan lereng. Penggunaan lahan terutama adalah besarnya daerah yang bervegetasi (hutan). Persentase luas hutan di kedua DAS tersebut sangat keell yaitu sebesar 13,7% di DAS Temon dan 5,7% di DAS Wader jauh dari yang dianjurkan pemerintab yaitu minimum Sehingga bagaimakah kondisi imbangan air di kedua DAS Tersebut. Mengingat hanya faktor penggunaan lahan dan lereng yang dapat direkayasa oleh manusia sehingga kedua hal tersebut menjadi fokus aktivitas perencanaan. Maka dapatkah imbangan air di kedua. DAS tersebut diperbaiki dengan simulasi penggunaan lahan ? Tujuan penelitian ini ialah menghitung/mengkaji imbangan air di DAS Temon dan DAS Wader dan menentukan metode imbangan air yang sesuai untuk DAS tersebut. Serta menghitung/mengkaji imbangan air hasil sirnulasi penggunaan lahan sehingga diperoleh imbangan air yang baik dari DAS tersebut Metode yang digunakan pada penelitian ini ndalah metode imbangan air Thornthwaite-Mather Konvensional dan Metode Thornthwaite-Mather Modifikasi Donker. Perbedaan kedua metode tersebut adalah dimasukkannya parameter aliran langsung (DRO), koefisien tanaman serta persentase run-off yang berbeda sesuai dengan karakteristik DAS pada Metode Thornthwaite-Mather Modifikasi Donker. Pengujian kedua metode tersebut, menggunakan data tiga tahun yaitu Tahun 1991, Tahun 1994 dan Tahun 1997. Ketiga tahun data tersebut diterapkan daiam kedua metode tersebut selanjutnya diuji kesesuaiannya dengan uji korelasi dan T-test Kemudian metode yang paling sesuai diterapkan pada simulasi penggunaan lahan yang dilakukan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa Metode Thornthwaite-Mather Konvensional lebih sesuai diterapkan di DAS Temon, sedangkan Metode Thornthwaite-Mather Modifikasi Donker lebih sesuai diterapkan di DAS Wader. Hasil sirnulasi penggunaan lahan menunjukkan bahwa semakin luas daerah berhutan maka imbangan air yang dihasilkan akan semakin baik yang ditandai dengan menurunnya rasio debit Alternatif-1 yang dibuat berdasarkan arahan penggunaan lahan dan dlharapkan mampu memperbaiki imbangan air dapat terbukti di DAS Temon, sedangkan di DAS Wader kondisi tersebut tidak terbukti. Alternatif yang optimum diterapkan baik di DAS Temon dan DAS Wader adalah alternatif-6, dimana aiternatif tersebut niengubah 50% luas tegalan menjadi hutan. Pada alternatif ini dihasilkan rasio debit kecil dan produksi lahan yang mampu untuk znemenuhi kebutuhan minimum penduduk di DAS, walaupun produksi lahannya sedikit menurun dibandingkan kondisi sekarang. Perubahan penggunaan lahan yang paling maksimal di DAS Temon tetap tidak mampu untuk memperbaiki imbangan air di DAS (menurunkan rasio debit ke kategori normal).
-
Kata Kunci : penggunaan lahan ,Imbangan air,Wonogiri,Jawa Tengah