Laporkan Masalah

Pekerja sektor informal asal Jawa Timur di kotamadya Denpasar : Kasu di kecamatan Denpasar Barat

Gusti Ayu Ketut Surtiari, Dr. Tadjuddin Noer Effendi, M.A.

1997 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Sektor informal semakin mampu menunjukkan peranannya dalam membantu penduduk dalam memecahkan masalah kesempatan kerja di kota. Selama arus mobilitas desa kota tetap berlangsung, maka sektor informal tidak dapat diabaikan dalam perumusan kebijakan oleh pemerintah. Penelitian dengan judul Pekerja Sektor Informal Asal Jawa Timur Di Kotamadya Denpasar (Kasus di Kecamatan Denpasar Barat) bertujuan untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi dan demografi, mengetahui proses adaptasi di daerah tujuan serta hubungannya terhadap daerah asal. Konsep yang digunakan dalam menentukan pekerja sektor informal adalah pendekatan trisektor (sektor formal, semi informal dan sektor informal) dan konsep mobilitas yang digunakan merupakan pengembangan teori migrasi yaitu menekankan pada proses terjadinya mobilitas selain batasan administratif dan waktu. Responden dipilih secara random sampling setelah dilakukan survey pendahuluan untuk menentukan kriteria responden yang diharapkan. Jumlah yang digunakan 201 dengan pertirnbangan homogenitas populasi. Analisa yang digunakan sebagian besar adalah uji t-test untuk uji beda terhadap rata-rata variabel, uji kai kuadrad digunakan untuk uji beda terhadap variabel nominal serta uji korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan yang antara dua variabel sebagai pendukung analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pekerja sektor informal asal Jawa Timur di Kotamadya Denpasar memiliki ciri yang sedikit berbeda dibandingkan dengan pekerja sektor informal pada umumnya. Pendapatan yang diperoleh dalam satu minggu rata-rata berada diatas UMR yang berlaku yaitu Rp. 35.375 / minggu. Hasil serupa juga ditemukan pada jam kerja, sebagian besar responden memiliki rata-rata jam kerja diatas normal yang berlaku di Indonesia yaitu 35 jam / minggu. Sedangkan mobilitas pekerjaan yang dilihat melalui frekwensi ganti pekerjaan, menunjukkan kurang adanya variasi. Rata-rata responden berganti pekerjaan dua kali selama berada di daerah tujuan. Berkaitan dengan pengeluaran, ditemukan bahwa rata-rata responden mengeluarkan 54,98 % pendapatan mereka di daerah tujuan. Kondisi tempat tinggal di daerah tujuan sebagian besar semi permanen. Sistem jaringan dalam hubungan kekerabatan sangat berperan dalam proses memasuki daerah tujuan. Pekerja yang datang atas bantuan kerabat akan menunggu pekerjaan lebih singkat dibandingkan dengan datang tanpa bantuan. Pekerja yang tergolong pelaku mobilitas non permanen cenderung dibantu oleh kerabat di daerah tujuan dalam perolehan pekerjaan serta tempat tinggal. Sedangkan pelaku mobilitas non permanen lebih dominan melakukannya sendiri. Intensitas pulang ke daerah asal dan remitan yang dikirim rata-rata lebih dominan dilakukan oleh pekerja pelaku mobilitas non permanen daripada pekerja pelaku mobilitas permanen. Remitan yang dikirim ke daerah asal untuk kedua jenis pelaku mobilitas rata-rata 50,65 % dari pendapatannya di daerah tujuan dalam satu minggu. Partisipasi di daerah tujuan yang terdiri dari keaktifan mengikuti kegiatan kemasyarakatan lebih di dominasi oleh pekerja pelaku mobilitas permanen.

-

Kata Kunci : Pekerja sektor informal,Denpasar,Bali

  1. S1-1997-89439-Gusti_Ketut_Surtiari_abstract.pdf  
  2. S1-1997-89439-Gusti_Ketut_Surtiari_bibliography.pdf  
  3. S1-1997-89439-Gusti_Ketut_Surtiari_tableofcontent.pdf  
  4. S1-1997-89439-Gusti_Ketut_Surtiari_title.pdf