Modifikasi Mineral Trioksida Agregat Dari Silika Abu Sekam Padi Dan Kalsium Karbonat Cangkang Telur Dengan ZnO Dan Kitosan Sebagai Kandidat Material Endodontik
MARIYAM, Prof. Dr.rer.nat. Nuryono, M.S.; Prof. Dr. drg. Siti Sunarintyas, M.Kes.
2024 | Disertasi | S3 Ilmu Kimia
Mineral
trioksida agregat (MTA) adalah serbuk hidrofilik yang terdiri dari trikalsium
silikat (Ca3SiO5), dikalsium silikat (Ca2SiO4),
dan trikalsium aluminat (Ca3Al2O6). Walaupun biokompatibel,
MTA memiliki beberapa kelemahan seperti harga jual yang tinggi, kemampuan
penutupan (sealing) dan antibakteri yang rendah serta pembentukan pori saat
hidrasi yang menurunkan kekerasan semen. Dalam penelitian ini telah disintesis MTA
yang dimodifikasi dengan ZnO dan dihidrasi menggunakan larutan kitosan. MTA disintesis
menggunakan prekursor murni/komersial dan dari bahan alam yaitu cangkang telur
(CT) sebagai sumber kalsium karbonat terendap (precipitated calcium
carbonate, PCC) dan silika (SiO2) dari abu sekam padi (ASP). Modifikasi
MTA dengan ZnO dilakukan dengan memvariasikan komposisi (b/b) ZnO (x=5%, 10%,
dan 15%) dan Bi2O3 (18-x%), sedangkan persentase komponen
lain konstan (CaO 60%, SiO2 20%, dan Al2O3 2%).
ZnO ditambahkan bersamaan dengan pembuatan MTA diawali dengan metode sol-gel
dan dilanjutkan dengan kalsinasi pada suhu 1000 °C selama 3 jam. Fasa cair yang digunakan
untuk hidrasi MTA adalah larutan kitosan 2%, 4?n 6%. MTA terhidrasi diuji
karakteristiknya melalui dilakukan uji sifat adhesi (kerekatan antarmuka
dentin-MTA), kuat tekan, radiopasitas, waktu ikat semen, pelepasan Ca2+
dan Zn2+, pH, % pengurangan massa, antibakteri dan sitotoksisitas.
Keberhasilan sintesis MTA ditunjukkan
oleh keberadaan mineral
trikalsium silikat (Ca3SiO5), dikalsium silikat (Ca2SiO4),
dan trikalsium aluminat (Ca3Al2O6) oleh data FTIR, XRD, dan SEM-EDX. Keberhasilan
modifikasi MTA dengan ZnO diketahui dari kemunculan karakteristik puncak ZnO
dan seng silikat (Zn2SiO4) pada data XRD. MTA dari bahan
komersial (kMTA) dan MTA dari bahan alam (nMTA) yang dimodifikasi dengan ZnO
10?n dihidrasi dengan larutan kitosan 4% meningkatkan nilai kuat tekan
masing-masing menjadi 28,29 MPa (naik 61,4%) dan 35,75 MPa (naik 103%) setelah
14 hari hidrasi. Penggunaan larutan kitosan 4% untuk hidrasi memperkecil celah
antarmuka dentin-MTA. Hasil uji radiopasitas, pH, pelepasan Ca2+ dan
persentase pengurangan massa menunjukkan nMTA yang dimodifikasi ZnO 10?n
kitosan 4% (nMTA-Zn10/Ch4) memenuhi standard ISO sebagai material endodontik. Uji
antibakteri nMTA-Zn10/Ch4 menunjukkan zona hambat sebesar 11,19
±0,43 mm (kategori kuat) dan 8,89 ± 0,92 mm (kategori sedang) masing-masing
terhadap P. aeruginosa dan E. faecalis. Berdasarkan nilai IC50
(1170 µg/mL), nMTA-Zn10/Ch4 tergolong pada material yang
bersifat nontoksik.
Mineral trioxide
aggregate (MTA) is a hydrophilic powder consisting of tricalcium silicate (Ca3SiO5),
dicalcium silicate (Ca2SiO4), and tricalcium aluminate
(Ca3Al2O6). While MTA exhibits biocompatibility, it is
associated with certain limitations, including high cost, low sealing and
antibacterial properties, and the formation of pores during the hydration
process, which can adversely affect the cement's hardness. This
research investigated the synthesis of MTA and its modification with ZnO and chitosan.
MTA was synthesized using pure commercial precursors as
well as natural materials, specifically eggshells as a source of precipitated
calcium carbonate and silica derived from rice husk ash. The modification of
MTA with zinc oxide (ZnO) was carried out by varying the weight-to-weight (w/w)
composition of ZnO (x = 5%, 10%, and 15%) and Bi2O3? (18-x%). The
proportions of the other components were maintained constant with 60?O,
20% SiO2, and 2% Al2O3.
The modification was conducted simultaneously with the synthesis of MTA via the
sol-gel method, followed by calcination at 1000 °C for 3 hours. The liquid phase used for MTA hydration was a chitosan
solution with concentrations of 2%, 4%, and 6%. The properties
of hydrated materials were evaluated, including the
dentin-MTA interface, mechanical strength, radiopacity, setting time, Ca2+ and Zn2+
ion release, pH, weight loss, antibacterial properties, and cytotoxicity.
The successful synthesis of MTA was confirmed
by the formation of Ca3SiO5,
Ca2SiO4, and Ca3Al2O6 phases
confirmed by FTIR, XRD, XRF dan SEM-EDX data. The effective modification of MTA
with ZnO was verified by the appearance of ZnO and zinc silicate (Zn2SiO4) in
the XRD data. MTA synthesized from commercial precursors
(kMTA) and natural materials (nMTA) modified with 10% ZnO and hydrated with 4%
chitosan exhibited increased compressive strength values of 28.29 MPa (a 61.4%
increase) and 35.75 MPa (a 103% increase), respectively, after 14 days of
hydration. Hydration with a 4% chitosan solution
reduced dentin-MTA gap formation. The radiopacity test results of nMTA modified
with 10% ZnO and 4% chitosan (nMTA-Zn10/Ch4) complied with ISO standards for an endodontic
material. The antibacterial activity of nMTA-Zn10/Ch4 showed an inhibition zone of
11.19±0.43 mm (strong) and 8.89±0.92 mm (medium) against P. aeruginosa
and E. faecalis, respectively. Based on the IC50 value (1169.77
µg/mL), nMTA-Zn10/Ch4 is a non-toxic material.
Kata Kunci : mineral trioksida agregat, silika, CaCO3, kitosan, ZnO, antibakteri