Laporkan Masalah

ANALISIS FINANSIAL SISTEM BAGI HASIL PENGELOLAAN HUTAN BERSAMA MASYARAKAT (PHBM) (Studi Kasus BKPH Slarang KPH Pemalang Desa Surajaya)

HERMITA WIDI NUGRAHARENI, Dr.Ir. Wahyu Andayani, MS

2007 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

PHBM diterapkan KPH Pemalang sejak tahun 2001. PHBM memberikan akses kepada masyarakat luas untuk ikut serta dalam kegiatan pengelolaan hutan dengan jiwa berbagi pengorbanan dan manfaat Penelitian bertujuan unuk mengetahui keuntungan finansial KPH Pemalang dengan menerapkan PHBM serta mengetahui distribusi input dan output pihak yang terlibat. Penelitian dilakukan di wilayah hutan BK.PH Slarang, KPH Pemalang dengan bonita 3,5. Daur jati yang digunakan dalam analisis adalah 60 tahun. Jumlah sampel pesanggem Desa Surajaya adalah 30 orang dengan stratifikasi sebagai berikut: a) strata I yaitu pesanggem dengan luas andil 0, 1 - 0,24 Ha sejumlah 14 pesanggem, b) strata II yaitu pesanggem dengan luas andil 0,25 - 0,49 Ha sejumlah 11 pesanggem, c) strata III yaitu pesanggem dengan luas andil 0,5 Ha ke atas sejumlah 5 pesanggem. Metode analisis yang digunakan adalah analisis ekonomi dengan konsep present value. Kriteria investasi yang digunakan adalah Net Present Value, Benefit-Cost Ratio, dan Internal Rate of Return. Hasil penelitian pada tingkat suku bunga riil 9,51 % adalah sebagai berikut: a) Strata I, pesanggem memperoleh pendapatan dari usahatani dan bagi hasil kayu sebesar Rp 8.387.545, 79/Ha/daur, sedangkan untuk Perhutani NPV sebesar Rp 423.394,28/Ha/daur, BCR 0,66 dan IRR 7,79%, b) Strata Il, pesanggem memperoleh pendapatan dari usahatani dan bagi basil kayu sebesar Rp 16.935.896, 78/Ha/daur, sedangkan untuk Perhutani NPV sebesar Rp - 897.411,74/Ha/daur, BCR 0,64 dan IRR 7,70%, c) Strata m, pesanggem memperoleh pendapatan dari usahatani dan bagi basil kayu sebesar Rp 38.083.614,67/Ha/daur, sedangkan untuk Perhutani NPV sebesai Rp 2.116.971,40/Ha/daur, BCR 0,66 dan IRR 7.79%. Nilai kriteria investasi menunjukkan bahwa penerapan PHBM ini tidak layak untuk dilanjutkan. pada tingkat suku bunga 9,51 % tersebut. Distribusi input dan output pihak yang terlibat kurang mencerminkan keadilan. Pesanggem dengan input faktor produksi sebesar 64% memperoleh bagi basil sebesar 11,25%, sedangkan Perhutani dengan input faktor produksi sebesar 36% memperoleh bagi basil 75%. Oleh karena itu bagi hasil sistem PHBM ini hendaknya berdasarkan kontribusi input faktor produksi yang dikorbankan masing-masing pihak .

PHBM has been applied by KPH Pemalang since year of 2001. PHBM gives wide access to society to join in forest management practice based on benefits and cost sharing. This research objective was to know· the financial profitability of KPH Pemalang by applying PHBM and to know input and output distribution of each entity in concerned. Research was conducted in forest region of BKPH Slarang,. KPH Pemalang with bonita 3,5. Rotation used in analysis is 60 year. Forest farmer samples of Surajaya are 30 with stratification as follows: a) strata I that is forest farmer with 0, l - 0,24 Ha of andil, a number of 14 samples,. b) strata II that is forest farmer with 0,25 - 0.49 Ha of andil a number of 11 samples, c) strata III that is forest farmer with 0,5 Ha and up of andil a number of 5 samples. Analysis method used is economic analysis with concept of present value. Invesment criteria used are Net Present Value. Benefit-Cost Ratio???? and Internal Rate Of Return. The result of research at 9,51 % rate of interest level can be described as follows: a) Strata I, forest farmer will get income of benefit sharing and farm effort equal to Rp 8.387.545,79/Ha/rotation, while Perhutani equal to NPV Rp - 423.394,28/Ha/daur, BCR 0,66 dan IRR 7, 79%, b) Strata II, forest funner will get income of benefit sharing and farm effort equal to Rp 16.935.896,78/Ha/ rotation, while Perhutani equal to NPV Rp - 897.411,74/Ha/rotation, BCR 0,64 dan IRR 7,70%, c) Strata III, forest farmer will get income of benefit sharing and farm effort equal to Rp 38.083.614,67/Ha/ rotation while Perhutani equal to NPV Rp - 2.116.971,40/Ha/rotation, BCR 0,66 dan IRR 7.79%. lnvesment criteria indicate that applying PHBM is improper to continue at 9,51 % rate of interest level. Input and output distribution of each entity in concerned does not reflect the equity. Forest farmer with factors of production input equal to 64% get benefit sharing equal to 11,25%, while Perhutani with factors of production input equal to 36% gets benefit sharing equal to 75%. Therefore sharing system of PHBM shall be based on factors of production input contributed by each entity.

Kata Kunci : PHBM, daur, andil, present value, usahatani

  1. Abstract.pdf  
  2. Bibliography.pdf  
  3. Table_of_Content.pdf  
  4. Title.pdf