Hubungan kadar selenium ibu hamil dengan kejadian janin tumbuh lambat
SUTANTO, Doddy Budi L, Prof.dr. Djaswadi Dsuki, MPH.,PhD.Sp.OG
2004 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran KlinikLatar Belakang: Defisiensi selenium telah terbukti meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada kehamilan. Penelitian terdahulu membuktikan bahwa defisiensi selenium berhubungan dengan abortus, kejadian neural tube defect, serta preeklampsia. Selenium adalah kofaktor enzim antioksidan glutation peroksidase (GPx) yang berperan sebagai penghancur lipid peroksida. Defisiensi selenium akan menurunkan aktivitas GPx sehingga timbul stres oksidatif, kerusakan endotel vaskuler, vasokonstriksi dan gangguan penjendalan darah sehingga akau menurunkan perfusi plasenta. Atas dasar tersebut maka defisiensi selenium pada ibu hamil diduga dapat meningkatkan risiko kejadian janin tumbuh lambat (JTL). Tujuan: Untuk mengetahui adakah hubungan antara kadar selenium darah ibu yang rendah dengan kejadian janin tumbuh lambat. Metodologi: Penelitian ini menggunakan rancangan nested case control di daerah kerja 4 puskesmas di Purworejo. Subyek penelitian adalah ibu yang melahirkan bayi janin tumbuh lambat (JTL) pada periode Februari-Juni 2000. Sampel darah diambil pada saat kehamilan trimester III, disimpan dalam bank darah. Pada saat telah didapatkan kasus dan kontrol maka kadar selenium diperiksa dengan metode Alfthan. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program statistik komputer Hasil: Kejadian janin tumbuh lambat pada penelitian ini adalah 14 kasus dari 130 bayi yang dilahirkan (10,8%). Rerata kadar selenium ibu hamil kelompok JTL (n=14) dan kelompok tidak JTL (n=28) tidak berbeda, yaitu sebesar 34,2+0,9 dan 34,7+0,8 dengan p=0,11. Tes kai kuadrat mendapatkan hubungan bermakna antara JTL dan kadar selenium ibu yang kurang dari 34,6 μg/L (OR=5,6; p=0,02). Kadar selenium ibu hamil yang kurang dari 34,6 μg/L akan meningkatkan risiko terjadinya JTL sebanyak 5,6 kali dibandingkan dengan kadar selenium di atas 34,6 μg/L. Simpulan: Kadar selenium ibu hamil yang rendah (<34,6 μg/L) berhubungan dengan kejadian janin tumbuh lambat. Perlu dilakukan penelitian klinis lanjutan untuk mengetahui seberapa besar asupan kadar selenium yang direkomendasikan agar dapat secara efektif mengurangi risiko terjadinya JTL.
Background: Selenium deficiency increases the morbidity and mortality of pregnancy. Previous studies have demonstrated the association between low maternal selenium level with abortions, neural tube defects and preeclampsia. Because the trace element selenium is the main cofactor of glutathione peroxidation that acts as an antioxidant and peroxynitrite scavenger, we assume that there is a correlation between the low selenium level with the occurrence of intrauterine growth restriction (IUGR). Objective: To determine whether low selenium status is associated with a greater risk for IUGR. Methode: A nested case–control study was conducted in four primary health centers in Purworejo. Subjects were pregnant women that gave birth to babies with IUGR between February-June 2000 period. Blood samples were taken from subjects on their third trimester, and kept in the blood bank in the Biochemical Laboratory. After the babies were delivered and after we determined the case and control groups, the samples were then analyzed using Alfthan methode. The data were statistically analyzed by chi square and t-test. Result: Of the 130 pregnant women who participated in the study, 42 were included (14 cases and 28 controls) for the analysis. The overall incidence of IUGR was 10.8%. There is no significant difference between mean selenium serum level in the IUGR group and the control group (p=0.11). Using the chi square analysis, the incidence of IUGR is significantly correlated with mother’s low serum selenium level (OR=5.6; p=0.02). The selenium serum level below 34.6 μg/L was found to increase the incedence of IUGR. Conclusion: In this study, low selenium serum level (<34,6 μg/L) is correlated with the incidence of IUGR. It would be necessary to conduct further studies to determine the amount of selenium intake that might help prevent IUGR.
Kata Kunci : Selenium Ibu Hamil,Janin Tumbuh Lambat, Intra uterine growth restriction, selenium, glutathione peroxidation, lipid peroxidation, oxidative stress