Laporkan Masalah

Perbandingan efektivitas saboltamol yang diberikan melalui MDI + spasel dengan nebulleser pada anak asma ringan dan sedang

INDRISARI, Ade, dr. Roni Naning, SpAK.,M.Kes

2004 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran Klinik

Asma masih menjadi salah satu penyebab utama datangnya pasien ke rumah sakit dan salah satu alasan tidak masuk sekolah. Prevalensi asma meningkat pada dua dekade ini, derajat asma tidak berkurang yang merupakan masalah utama dalam keberhasilan tatalaksana asma anak. Mengobati bayi dan anak kecil dengan terapi aerosol menimbulkan tantangan yang unik., sehingga peralatan medikasi yang cocok untuk anak-anak kecil terbatas pada alat yang memerlukan keahlian dan kerjasama minimal dengan anak. Dengan demikian nebulizer dan IDT / holding chambers merupakan satu-satunya alat yang cocok digunakan pada anak-anak pada seluruh rentang usia. GINA (2002) hanya merekomendasikan pilihan alat inhaler pada anak asma untuk terapi maintenance. Masih menjadi perdebatan mengenai alat mana yang lebih efisien dan cocok sebagai peralatan aerosol dalam mengatasi asma. Agonis β2 merupakan obat pilihan pertama untuk anak dengan serangan asma. Pemberian agonis adrenergik β melalui aerosol khususnya menimbulkan respon terapi yang sangat cepat; biasanya dalam beberapa menit. Agonis adrenergik β digunakan untuk mengaktivasi reseptor paru yang merelaksasikan otot polos bronkus dan menurunkan resistensi jalan napas. Rancangan penelitian prospective randomised opened-end blinded digunakan dalam penelitian ini. Subyek ditempatkan secara acak berdasarkan tabel random menggunakan randomisasi stratifikasi dengan blok. Skor klinis, denyut jantung, frekuensi napas, temuan pada auskultasi, dan saturasi oksigen dicatat saat datang, 20 menit setelah setiap pengobatan selesai dan 60 menit setelah pengobatan terakhir. Dilakukan pula penilaian efek samping (tremor dan takikardi), perlu tidaknya rawat inap (bila skor klinis >6) dan biaya yang dikeluarkan (direct and indirect cost).Untuk menilai efektivitas terapi, frekuensi napas dan peak flow meter yang merupakan luaran primer digunakan uji t. Untuk menilai korelasi antara skoring efektivitas terapi, frekuensi napas, saturasi oksigen dan peak flow meter dengan variabel-variabel yang mempengaruhi dilakukan uji korelasi bivariate Pearson. Untuk menilai luaran sekunder (efek samping dan biaya) dilakukan uji X2 berupa skala nominal yaitu efek samping (ada tidaknya tremor) dan perlu tidaknya rawat inap. Sedangkan untuk biaya dan efek samping (peningkatan denyut jantung) dilakukan uji t. Estimasi efek terapi dilakukan dengan menghitung NNT. Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan dengan cara pemberian obat yang lebih efektif, murah dan efek samping minimal.

Asthma remains the number one cause of admission to the hospital, and the most common cause of missed time from school. Hospital admission rates for acute asthma exacerbations have increased, and although the annual rate of asthma mortality has stabilized, it is still significantly higher than in the past. Treatment children and infant with aerosol was a unique challenge, so treating children with asthma limited to the medical device that require minimal speciality and partnership with the children. Nebulizer and metered-dose inhaler / holding chamber were the only medical device that suite for children. Global Strategy for Asthma Management and Prevention (2002) only recommends inhaler use for maintenance therapy on asthmatic children. It is still debatable which tools that more efficient and suitable for aerosol device in asthma therapy. β2 agonist is the drug of choice in treatment of asthma attack in children. Giving β adrenergic agonist through aerosol give a very rapid response, usually in few minutes. β adrenergic agonist activate pulmonary receptor that relaxed bronchial smooth muscle and decrease the airway resistance. This study is a prospective randomized opened-end blinded trial. Subject for this study was randomized by random table using stratified random with block. Clinical score, heart rate, respiratory rate, auscultatory findings, and oxygen saturation are recorded at baseline, 20 minutes after each treatment, and 60 minutes after the last treatment. The measurement of side effects (tremor and tachycardi), the need of hospitalization (if the clinical score >6), and cost (direct and indirect cost) was conducted in this study. t- test is used to measure the effectiveness of therapy, respiratory rate, and peak flow meter that is the primary outcome. We use Pearson bivariate correlation test to analyzed correlation between therapy effectiveness scoring, respiratory rate, oxygen saturation and peak flow meter with variabels that influence it and X2 test to t-test for numeric data. Estimation of therapy is measured by using NNT. The result of this study perhaps can increase the quality of service and the way of giving the drug that more effective, cheaper with minimal side effect.

Kata Kunci : Kedokteran Klinik,Terapi Asma,Salbutamol, asthma, children, nebuliser, spacer, salbutamol


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.