<!--[if gte mso 9]><xml>
</xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml>
Normal
0
false
false
false
EN-ID
X-NONE
X-NONE
</xml><![endif]-->Penanaman bawang merah asal biji (true seed of shallot/TSS) pada umumnya akan menghasilkan umbi yang bersifat dominan tunggal, walaupun masih terdapat potensi menghasilkan umbi lebih dari satu. Hal ini menunjukkan adanya potensi dan pengendalian sifat multiplikasi umbi bawang merah, sehingga menjadi dasar pertimbangan dalam mengkaji kemampuan multiplikasi umbi pada bawang merah asal TSS. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menentukan tahapan pembentukan dan perkembangan umbi dua varietas bawang merah (dominan umbi tunggal dan mudah bermultiplikasi) yang berasal dari TSS, (2) menentukan perbedaan metabolit yang dihasilkan antar dua varietas bawang merah (dominan tunggal dan mudah bermultiplikasi) pada awal perkembangan umbi dan panen, (3) menentukan pewarisan sifat multiplikasi umbi bawang merah. Tiga tahapan penelitian yang dilakukan adalah identifikasi pertumbuhan dan perkembangan tanaman bawang merah asal TSS, identifikasi multiplikasi umbi bawang merah berbasis metabolit, dan studi pewarisan sifat multiplikasi umbi bawang merah asal TSS. Varietas Tuk-Tuk dan Sanren F1, memiliki perbedaan dalam hal jumlah umbinya. Tuk-Tuk cenderung menghasilkan umbi dominan tunggal, sedangkan Sanren F1 cenderung menghasilkan umbi bermultiplikasi. Hasil penelitian melalui pengamatan morfologi dan anatomi umbi bawang merah menunjukkan bahwa umbi mulai terbentuk pada umur 10 minggu setelah semai (MSS), dilanjutkan fase pengisian umbi (11 MSS), dan panen (16 MSS). Hasil tersebut kemudian digunakan sebagai dasar dalam menentukan waktu pengambilan sampel pada penelitian berikutnya. Identifikasi multiplikasi umbi bawang merah berbasis metabolit diawali dengan penelitian profil metabolit bawang merah pada saat panen, menggunakan dua pelarut, D2O dan CDCl3, dengan metode 1H-NMR. Metode ini digunakan pula untuk identifikasi multiplikasi umbi bawang merah berbasis metabolit, dengan pengambilan sampel pada tahap pengisian umbi dan panen pada kedua varietas yang diuji. Sanren F1 terdeteksi memiliki kandungan relatif histidin yang lebih tinggi dibandingkan Tuk-Tuk pada tahap pengisian umbi, dan valin yang lebih tinggi dibandingkan Tuk-Tuk pada fase panen. Hasil analisis regresi tetua-anakan (parent offspring regression) menunjukkan nilai heritabilitas karakter jumlah umbi yang tinggi, sehingga karakter ini dapat digunakan sebagai parameter seleksi sifat unggul varietas tanaman<!--[if gte mso 9]><xml>