Laporkan Masalah

Daya Antelmintik Draksi Teroksigenasi Minyak Atsiri Bengle (Zingiber purpureum, Roxb)

I Nyoman Sumasada, Drs. Taroeno, Apt.; Drs. Djoko Suhardjono, MSc, Apt.

1989 | Skripsi | S1 FARMASI

Telah diteliti daya antelmintik fraksi terpinen-4-01, yang menjadi komponen teroksigenasi utama dari minyak atsiri bengle (Zingiber purpureum, Roxb). Uji daya dilakukan terhadap cacing ascaris, Ascaridia galli, Schrank secara in vitro dan in vivo. Fraksi terpinen-4-ol diperoleh dengan cara destilasi fraksi, dengan pengurangan tekanan dari minyak atsiri bengle. Dengan analisis kromatografi gas, diambil fraksi yang berisi terpinen-4-ol dan dilakukan kromatografi kolom dengan fase diam silika gel 60 (70-230 ASTM) dan dieluasi dengan heksana, campuran heksana dietil eter (1+ 1) dan terakhir dengan dietil eter. Analisis kromatografi gas menunjukkan, kadar fraksi terpinen-4-ol hasil adalah 99,8 %. Uji in vitro dilakukan dengan merendam jumlah tertentu cacing di dalam satu seri kadar dari fraksi terpinen-4-01, minyak atsiri bengle, residu destilasi dan piperasin sitrat, sebagai pembanding (n=5). Kemudian diinkubasi selama waktu yang telah ditentukan dan diamati jumlah cacing yang mati pada tiap kadar. LD50 dihitung dengan analisis probit. Potensi relatif masing-masing zat uji dihitung dengan cara membandingkan nilai LD50-nya dengan nilai LD50 piperasin sitrat. Besarnya potensi relatif (Mean ±1.e) dengan P 0,95 dari fraksi terpinen-4-ol, minyak atsiri bengle, dan residu destilasi, berturut-turut: 167,79 ± 47,26 %, 115,854,95 %, dan 105,58 14,58 %. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan potensi relatif di antara zat uji dengan uji varian satu jalan, dilanjutkan uji-t dengan P 0,95. Hasil uji menunjukkan potensi relatif fraksi terpinen-4-ol berbeda sangat nyata dengan minyak atsiri bengle dan residu destilasi. Sedang residu destilasi tidak berbeda nyata dengan minyak atsiri bengle. ? Uji in vivo dilakukan dengan cara memberi perlakuan kepada kelompok ayam (n=6) yang terinfeksi cacing secara buatan pada hari ke-42 setelah diinfeksi telur cacing: kelompok I, 100 mg piperasin sitrat/ekor; kelompok II, 300 mg minyak bengle/ekor; kelompok III, 300 mg fraksi terpinen-4-01/ ekor; kelompok IV, 3 ml larutan glukosalin 5 % sebagai kon- trol; secara oral. Diamata jumlah telur per gram tinja selama 4 hari sebelum dan 4 hari sesudah perlakuan, kemudian dipotong dan dihitung sisa cacing di dalam usus ayam, yaitu jumlah cacing yang tidak berhasil dimatikan oleh obat. Didapat, prosentase penurunan jumlah telur cacing (Mean ±1.e) dengan P 0,95 dari perlakuan piperasin sitrat, minyak atsiri, bengle, dan fraksi terpinen-4-ol berturut-turut: 99,08+1,76%, 27,9148,86 % dan 66,02 ± 24,30 %. Sedang sisa cacing berturut-turut: 0,2 ± 0,4 ekor, 15 15,9 ekor dan 11,8 ± 5,5 ekor. Sisa cacing pada kontrol: 228,8 ekor. Evaluasi hasil ujiin vivo dilakukan membandingkan prosentase penurunan jumlah telur dan sisa cacing di antara perlakuan dengan uji varian satu jalan, dilanjutkan uji-t dengan P 0,95. Hasil uji menunjukkan prosentase penurunan jumlah telur cacing antar ketiga perlakuan: piperasin sitrat, minyak atsiri bengle dan fraksi terpinen-4-01 berbeda secara nyata. Sedang sisa cacing: perlakuan fraksi terpinen-4- ol berbeda nyata dengan kontrol dan berbeda sangat nyata dengan piperasin sitrat, tapi tidak berbeda nyata dengan minyak atsiri bengle; minyak atsiri bengle sendiri tidak berda nyata dengan kontrol. Adapun besarnya cacing yang dapat dimatikan bila dibandingkan terhadap kontrol dengan perlakuan piperasin sitrat, minyak atsiri bengle dan fraksi terpinen-4-ol berturut-turut: 99,23 %, 31,82 % dan 46,36 %.

Kata Kunci : Antelmintik, Bengle, Minyak Atsiri, Teroksigenasi

  1. S1-FAR-1989-INyomanSumasada-abstract.pdf  
  2. S1-FAR-1989-INyomanSumasada-bibliography.pdf  
  3. S1-FAR-1989-INyomanSumasada-tableofcontent.pdf  
  4. S1-FAR-1989-INyomanSumasada-tittle.pdf