Evaluasi penggunaan antibiotika pada pasien keganasan hematologi dengan Febrile Neutropenia setelah pemberian kemoterapi di RS Kanker Dharmais Jakarta periode Januari 2002-September 2003
YUNIASTUTI, Dra. Rizka Andalusia, M.Pharm.,Apt
2004 | Tesis | S2 Ilmu FarmasiTelah dilakukan penelitian terhadap 63 episode febrile neutropenia pada pasien keganasan hematologi setelah memperoleh kemoterapi di RS Kanker Dharmais Jakarta periode Januari 2002-September 2003. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insidensi febrile neutropenia serta mengevaluasi penggunaan antibiotika meliputi pola pemilihan; kesesuaian pemilihan antibiotika empirik dengan current guideline dan pola sensitivitas bakteri; dosis dan durasi yang digunakan; efektivitas; kontra indikasi dan efek samping; serta aspek pembiayaan untuk penanganan pasien dengan febrile neutropenia. Jenis penelitian adalah non-eksperimental dengan rancangan studi crosssectional dan pengumpulan data kuantitatif serta kualitatif dari rekam medik pasien rawat inap dilakukan secara retrospektif. Data kemudian dianalisis secara statistik deskriptif dengan menggunakan SPSS (Statistical Product and Service Solutions) versi 10,0. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa insidensi febrile neutropenia pada pasien keganasan hematologi yang memperoleh kemoterapi sebesar 26,8%. Dilihat dari tujuan terapi, dari 63 episode sebanyak 39,7% episode menggunakan antibiotika sebagai profilaksis serta terapi, dan 60,3% menggunakan antibiotika hanya sebagai terapi. Untuk antibiotika yang digunakan sebagai terapi empirik, sebanyak 55,6% adalah kombinasi dan 44,4% regimen tunggal; sebanyak 47,6% antibiotika diberikan secara parenteral, 9,5 % diberikan secara oral dan 42,9% menerima kombinasi antibiotika oral dan injeksi; sebanyak 29,4% antibiotika empirik diresepkan dalam bentuk sediaan generik dan 70,6% dalam sediaan nama dagang. Berdasarkan guideline terbaru yang dikeluarkan oleh IDSA dan NCCN, sebanyak 92,06% pemilihan antibiotika empirik tidak sesuai dengan guideline. Berdasarkan hasil pemeriksaan sensitivitas bakteri, sebanyak 64,7% pemilihan antibiotika tidak sesuai. Sebanyak 80.98% dosis yang digunakan sesuai dengan rekomendasi dalam referensi standar, namun 8,89% episode yang menunjukkan penurunan fungsi ginjal tidak mengalami penyesuaian dosis. Durasi terapi antibiotika berkisar dari 1 hingga 28 hari, terbanyak 4-7 hari (42,94%). Sebesar 47,62% episode memberikan respon klinik yang diinginkan terhadap regimen antibiotika empirik yang digunakan. Kontra indikasi terjadi pada 4,76% episode dan di antara pasien yang diukur klirens kreatininnya, nefrotoksisitas terjadi pada 6,7% episode. Besarnya biaya antibiotika dan non antibiotika yang dikeluarkan oleh pasien febrile neutropenia sangat bervariasi. Pada 48% pasien, biaya antibiotika lebih besar dari biaya non-antibiotika.
A study have been conducted in 63 febrile neutropenic episodes of hematologic malignancy patients receiving chemotherapy at Dharmais Cancer Hospital Jakarta during January 2002 - September 2003. This study was aimed to describe the incidence of febrile neutropenia and also to evaluate the antibiotics usage profile in such condition, including the appropriateness of empirical antibiotics election with the current guidelines and bacterial sensitivity pattern, dosage and duration used, effectiveness, contra indication, side effect, and also cost aspects involved in handling febrile neutropenic patiens. It was a non-experimental cross-sectional study, and carried out retrospectively in collecting quantitative and qualitative data from hospitalized patient medical records. Data were analysed descriptively using SPSS (Statistical Product and Service Solutions) 10,0 version. The result showed that febrile neutropenic insidence in hematologic malignancy patients after receiving chemotherapy equal to 26,8%. Based on the purpose of therapy, among 63 episodes, as much as 39,7% episodes used antibiotics as prophylaxis and therapy, and 60,3% episodes only used antibiotics as therapy. Among the antibiotics which were used as empirical therapy, 55,6% were given in combination while 44,4% in single regimens; as much as 47,6% antibiotics were given parenterally, 9,5 % were given orally and 42,9% were given as combination both orally and injection; as much as 29,4% empirical antibiotics were prescribed in generic dosage form whereas 70,6% in trade name. Pursuant to the newest guideline released by IDSA and NCCN, 92,06% of empirical antibiotics elected were not suitable. Based on the result of bacterial sensitivity test, 64,7% of antibiotic used were inappropriate. As much as 80,98% antibiotics prescribed were suitable with those recommended in standard references but 8,89% episodes from whom creatinin clearance showed renal function impairment, did not have dose adjustment. Length of therapy ranged from 1 day to 28 days, mostly 4-7 days (42,94%). Equal to 47,62% episodes showed good clinical responds to empirical regimen of antibiotics used. Contra indication found in 4,76% episodes and among patients whose clearence creatinin measured, nefrotoxicity appeared in 6,7% episodes. Antibiotics and non antibiotics cost which should be payed for febrile neutropenic episodes were various among patients. In 48% episodes, cost of antibiotics were higher than those of non antibiotics.
Kata Kunci : Obat Antibiotika, Keganasan Hemtologi, Kemoterapi, Drug-Use Evaluation, DUE, antibiotic, febrile neutropenia, chemotherapy, hematologic malignacy.