Analisis Return on Investment (ROI) Pada Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) Pada Pasien Diabetes Sebagai Dasar Penyusunan Prioritas Kebijakan di Indonesia
Kadek Ida Krisnadewi, Prof. Dr. apt. Susi Ari Kristina, M.Kes
2024 | Disertasi | S3 Ilmu Farmasi
INTISARI
Pemerintah telah melakukan berbagai langkah dalam usaha promotif maupun preventif dalam menanggulangi masalah diabetes di Indonesia diantaranya dengan melaksanakan Program Pencegahan Penyakit Kronis (Prolanis). Pelaksanaan program kesehatan erat kaitannya dengan keberhasilan program dan pertimbangan biaya yang dikeluarkan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan rekomendasi prioritas dari program Prolanis dalam pengendalian diabetes mellitus di Indonesia berdasarkan analisis Return on Investment (ROI).
Penelitian ini dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama yakni penelitian kualitatif dengan rancangan implementation research menggunakan pendekatan action research. Analisis kualitatif dilakukan untuk menggambarkan implementasi program secara aktual melalui domain Consolidated Framework for Implementation Research (CFIR). Penelitian dilakukan melalui wawancara mendalam dengan tim pelaksana kegiatan Prolanis. Tahap kedua dilakukan secara observasional dengan metode cross sectional retrospektif dan cohort retrospektif. Subjek tahap ini ialah pasien klub Prolanis dan non klub Prolanis dengan riwayat diabetes melitus, usia >40 tahun. Pengambilan data berupa data biaya kesakitan akibat diabetes dan biaya intervensi dengan menggunakan kuesioner yang kemudian dilakukan analisis Retun On Investment. Pemilihan lokasi penelitian berdasarkan studi literatur dan dipilih beberapa Puskesmas di Indonesia yakni, Kota Yogyakarta, Kupang, Kabupaten Boalemo, Kota Denpasar, dan Palangka Raya.
Kegiatan rutin Prolanis yang dilakukan di Puskesmas yakni, konsultasi medis, cek laboratorium rutin, aktivitas fisik dan edukasi. Kegiatan home visit dan juga sms-gateway yang seharusnya menjadi bagian kegiatan Prolanis diadaptasikan dengan kegiatan pusling, sms-gateway sebagai upaya pemberikan informasi kesehatan dilakukan melalui grup whats app. Terdapat perbedaan nilai ROI dari setiap regional Kota Palangkara (regional IV) dan Kota Kupang (regional V) menjadi regional dengan nilai ROI yang baik yakni >1. Perbedaan nilai ROI dipengaruhi oleh perbedaan implementasi, jadwal kegiatan serta variasi adaptasi penyaluran kegiatan Prolanis di setiap regional. Biaya intervensi kegiatan Prolanis secara keseluruhan dalam 1 tahun pada 5 regionalisasi JKN yakni sejumlah Rp 460.800.000 (Rp 1.024.000/pasien) untuk konsultasi medis dan cek laboratorium rutin, Rp 144.432.000 (Rp 392.478/pasien) untuk aktivitas fisik dan Rp 33.954.000 (Rp 139.728/pasien) untuk edukasi. Benefit kegiatan Prolanis secara keseluruhan pada 5 regionalisasi JKN yakni sejumlah Rp Rp 433.901.540 (Rp 964.226/pasien) untuk konsultasi medis dan cek laboratorium rutin, Rp 356.084.060 (Rp967.620/pasien) untuk aktivitas fisik dan Rp 226.636.632 (Rp 932.661/pasien) untuk edukasi. Return on Investment kegiatan Prolanis secara keseluruhan pada 5 regionalisasi JKN yakni 0,94 untuk konsultasi medis dan cek laboratorium rutin, 2,62 untuk aktivitas fisik dan 6,67 untuk edukasi. Edukasi menjadi rekomendasi prioritas dalam pengelolaan diabetes dengan nilai ROI sebesar 6,67 yang artinya setiap 1 rupiah yang diinvestasikan pada program memberikan keuntungan sebesar 6,67 rupiah.
Kata kunci : Program kebijakan, diabetes mellitus, return on investment, prolanis
ABSTRACT
The government has taken various steps in promotive and preventive efforts to tackle the problem of diabetes in Indonesia, including implementing the Chronic Disease Prevention Program (Prolanis). The implementation of health programs is closely related to the success of the program and also considerations of costs incurred. This research aims to provide priority recommendations for the Prolanis program in controlling diabetes mellitus in Indonesia based on Return on Investment (ROI) analysis.
This research was carried out in two stages. The first stage is qualitative research with an implementation research plan using an action research approach. Qualitative analysis was carried out to describe actual program implementation through the Consolidated Framework for Implementation Research (CFIR) domain. The research was conducted through in-depth interviews with the Prolanis activity implementation team. The second stage was carried out observationally using retrospective cross sectional and retrospective cohort methods. Subjects in this stage are patients club Prolanis and non klub Prolanis with a history of diabetes mellitus, aged >40 years. Data was collected in the form of data on morbidity costs due to diabetes and intervention costs using a questionnaire with Return on Investment analysis. The selection of research locations was based on literature studies and several health centers in Indonesia were selected, namely, Yogyakarta City, Kupang, Boalemo Regency, Denpasar City, and Palangka Raya.
Prolanis activities carried out at the Community Health Center include medical consultations, routine laboratory checks, physical activity and education. The home visit and SMS-gateway activities which should have been part of Prolanis' activities were adjusted to the pusling, SMS-gateway activities as an effort to provide health information which was carried out via the WhatsApp group. There is a difference in the ROI value of each region, Palangkara City (regional IV) and Kupang City (regional V) being the region with a good ROI value >1. Differences in ROI values are influenced by differences in implementation, activity schedules and variations in adaptation to the distribution of Prolanis activities in each region. The overall cost of Prolanis intervention activities in 1 year in 5 JKN regionalizations is IDR 60,800,000 (IDR 1,024,000/patient) for medical consultations and routine laboratory checks, IDR 144,432,000 (IDR 392,478/patient) for physical activities and Rp. 33,954,000 (IDR 139,728/patient) for education. The overall benefits of Prolanis activities in the 5 JKN regionalizations are Rp. 433,901,540 (IDR 964,226/patient) for medical consultations and routine laboratory checks, IDR 356,084,060 (IDR 967,620/patient) for physical activities and IDR 226,636,632 (IDR 932,661/patient) for education. The overall return on investment for Prolanis activities in the 5 JKN regionalizations is 0.94 for medical consultations and routine laboratory checks, 2.62 for physical activity and 6.67 for education. Education is a priority recommendation in diabetes management with an ROI value of 6.67, which means that every 1 rupiah invested in the program provides a profit of 6.67 rupiah..
Key words: Policy program, diabetes mellitus, return on investment, prolanis
Kata Kunci : Program kebijakan, diabetes mellitus, return on investment, prolanis