Kajian sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja pada PT. Primissimma (Industri Garmen) di Sleman, Yogyakarta
YULIANI, Rita, Ir. Sunarno, M.Eng.,PhD
2004 | Tesis | S2 Teknik Elektro (Magister Rekayasa Keselamatan ISalah satu bentuk perlindungan tenaga kerja, dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja di sektor industri adalah penerapan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja. Perwujudannya dengan membentuk organisasi, yang khusus menangani bidang tersebut yaitu Panitia Keselamatan dan Kesehatan Kerja, yang mempunyai program kerjanya antara lain desain peralatan, lingkungan kerja, manajemen dan manusia. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mendapat gambaran tentang profil Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di PT. Primissima Sleman Yogyakarta. Penelitian dilakukan dengan sistem survey, dan populasi yang diambil adalah pekerja PT. Primissima. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi di perusahaan, dengan pengkajian pada tingkat organisasi yaitu manajemen, tingkat pekerja dan tingkat pendukung yaitu peralatan/lingkungan.Dan kesimpulan yang didapat adalah pada tingkat manajemen, indikator pengutamaan keselamatan dalam produksi memiliki nilai 91 % tetapi tindakan manajemen dalam peningkatan keselamatan adalah 77,3 %. Pada tingkat pekerja, indikator pekerja pernah menggunakan alat pelindung diri nilainnya 90,8 % tetapi peran pekerja dalam sosialisasi K3 hanya 56,9 %. Pada tingkat pendukung, indikator pengaman pada alat produksi memiliki nilai 92,4 % tetapi dalam penggunaan sarana perusahaan didapatkan 70,7 %.Kendala-kendala tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor yaitu ekonomi, sosial budaya dan pendidikan pekerja. Sedangkan upaya penyelesaiannya adalah dengan kebijakan K3 khususnya sosialisasi penggunaan alat pelindung diri dan sistem keselamatan lainnya, dilakukan secara rutin dan konsisten. Dari hasil penelitian dapat diberikan saran-saran berupa, sikap yang lebih tanggap lagi dari pihak manajemen tentang kebijakan K3 dalam pelaksanaannya, dan mengupayakan sistem keselamatan dalam proses produksi merupakan tujuan yang utama. Kemudian permasalahan K3 tidak termasuk bagian dari suatu departemen di perusahaan tersebut, tetapi terpisah dan berdiri sendiri sehingga kebijakan yang dihasilkan tidak ada intervensi dari pihak manapun. Selain itu, upaya penegakan hukum lebih dipertegas dalam pensosialisasian K3, karena kedisiplinan penuh dalam penggunaan pelindung diri dan sistem pengamanan alat produksi
One form of the worker security, in the effort to prevent the workplace accident in the industry sector is the implementation of the job safety and wellbeing policy. It involves the formation of organization, which particularly addresses the matter, namely the Working Safety and Wellbeing Committee, which has several programs such as the equipment design, working environment, management and human resource. The research is aimed at describing the profile of job safety and wellbeing management system in PT. Primissima Sleman Yogyakarta. The research was conducted with the survey method and the population was the worker of PT. Primissima. The data collection was accomplished with the interview and observation in the company, paying attention to the management in the organization level and the equipment and environment in the worker and supporting level. The conclusion can be drawn that in the management level, the indicator of safety priority in the production was 91% but the management action in improving the safety was merely 77.3%. In the worker level, the indicator showing the worker uses the self-protection equipment was 90.8% but the role of workers to socialize K3 was merely 56.9%. In the supporting level, the safety indicator of production equipment was 92.4% but in the company facility usage the value was 70.7%. These drawbacks were associated with the various factors such as economic, socio-cultural and the worker education factors. The effort to eliminate the drawback involved the implementation of K3 policy, particularly the socialization of self-protection equipment and other safety system, which was implemented consistently. The suggestions were made on the basis of the result. It suggested that the positive attitude from the management is needed concerning the K3 policy and the implementation of safety system in the production process was the major goal. K3 is not a part of a department in the company, instead it is separated; therefore, there is no intervention to the policy. Furthermore, the law enforcement should be improved in K3 socialization, for it leads to the complete discipline in the self-protection equipment usage and production equipment safety system.
Kata Kunci : keselamatan dan kesehatan kerja, kebijakan manajemen, Occupational Safety and Health, management policy