Laporkan Masalah

Kajian pengelolaan jaringan tata air daerah rawa Tebas komplek Kabupaten Sambas Kalimantan Barat

DARYANTO, Ir. Darmanto, Dip.HE.,MSc

2004 | Tesis | S2 Teknik Sipil

Daerah Rawa Tebas Komplek merupakan sawah tadah hujan. Sistem jaringan tata airnya berupa saluran sekunder dan saluran tersier dilengkapi dengan bangunan pintu air dan tanggul. Pintu air berfungsi untuk menahan intrusi air asin dan mengatur keluar masuk air ke lahan pertanian, namun pintu air yang ada tidak dioperasikan sesuai fungsinya sehingga unjuk kerja dari sistem ini belum optimal. Pada musim hujan air mencukupi untuk memenuhi kebutuhan tanaman padi sedang musim kemarau air hujan tidak mencukupi. Lahan yang cocok untuk ditanami padi 8,29 %. Kondisi di daerah penelitian kenyataannya pada musim kemarau petani tetap menanam padi walaupun dalam keadaan kekurangan air dan dapat diketahui dari hasil produksi pertanian menurun sampai 32 % dibandingkan produksi pada musim hujan. Pengelolaan secara efisien dapat mengoptimalkan unjuk kerja dari sistem jaringan tata air yang ada dengan memanfaatkan fungsi pintu air dan saluran. Strategi pengendalian air dilakukan dengan strategi konservasi. Pada musim hujan pintu air lebih banyak dibuka untuk membuang kelebihan air. Pada musim kemarau operasional pintu untuk memenuhi ketersediaan air. Air pasang dari sungai dimanfaatkan untuk mempertahankan tinggi muka air disaluran guna mempertahankan muka air tanah dan menjaga kelengasan tanah. Waktu tersedia untuk pembuangan air dimusim hujan 20-24 jam, setelah 5-6 jam saluran tersier akan kering dan pintu air ditutup untuk menghindari oksidasi pirit. Dengan mempertahankan muka air di saluran pada musim kemarau diupayakan muka air tanah tetap dangkal dan dapat mendekati zone perakaran tanaman padi. Saluran yang dapat memenuhi tinggi muka air 30 cm dibawah permukaan lahan sebanyak 21 saluran dari 42 saluran tersier dengan panjang 20.234 m atau 56,88 % dan dapat melayani lahan seluas 1225,87 Ha atau 58,01 %.

Tebas Komplek swamp area is rainfed rice field. Its Canal network system consist of secondary channels and tertiary channels equipped with water gate and embankment .Water gate function is to prevent the salt water intrusion and regulate water flow to farming field, but those water gate are not well operated and functioned so that system performance was not optimum. During wet season, rainfall was sufficient to fill rice water requirement but in dry season it was not sufficient. The proper field to be cultivate is 8,29 % . In reality in dry season farmers still cultivate and planted their rice although face with condition lack of water and as a result of farming production decreases up to 32 % compare to production in wet season. Efficient water management can optimize the performance of the existing canal network system by optimizing water gates and channel. Water management strategy is based on conservation strategy. In wet season water gates are frequently opened to drain the excess water. In dry season water gate operations are to fill the water supply. Tide water from the river is used to maintain water level in the channel in order to maintain groundwater table and maintain soil’s water contents. Time available for drainage in wet season is 20 to 24 hours, after 5-6 hours tertiary channel will be dry and water gate should be closed to avoid pyrite oxidation. Maintaining water level in the channel in dry season is needed in order to keep the groundwater table stays shallow and close to the root zone of rice vegetation. Channel that can provide 30 cm of water level below the field surface are as much as 21 channels from 42 existing tertiary channel with the length of 20,234 m or 56,88 % and can supply area as much as 1225,87 Ha or 58,01 %

Kata Kunci : Irigasi,Pengelolaan Jaringan Tata Air,rainfed rice field, performance, soil water content, conservation strategy


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.