Kekuasaan dan Kekerasan Simbolik dalam Diskursus Rekayasa Genetika Tanaman Pangan: Rekonstruksi Teori Bourdieu
Dian Aris Munandar, Dr. Sindung Tjahyadi, M.Hum; Dr. Rizal Mustansyir, M.Hum.
2024 | Skripsi | ILMU FILSAFAT
Ilmuwan biologi terpecah ke dalam dua kubu yang cenderung terjadi dengan wacana rekayasa genetika, terutama ketika diterapkan untuk tanaman dalam upaya mengatasi krisis pangan. Disisi lain, pro-kontra rekayasa genetika tanaman pangan juga disuarakan oleh sebagian aktivis lingkungan, hingga politisi, yang umumnya lebih dekat dengan ilmuwan kontra rekayasa genetika. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana mungkin ilmuwan dalam paradigma empiris yang sama dapat terpecah ke dalam dua kubu yang saling berseberangan. Gagasan Pierre Bourdieu mengenai strukturasi genetik dapat digunakan untuk menelusuri muasal keterpecahan ilmuwan dalam biologi tersebut. Kerangka teori strukturasi genetik yang meliputi habitus, arena, dan modal, memungkinkan suatu penelusuran dan analisis yang melampaui metode dikotomis subjektivisme-objektivisme. Lebih jauh, analisis melalui kerangka teori strukturasi genetik mengarah pada suatu premis Bourdieu mengenai “kekuasaan dan simbol kekerasan”. Penelitian ini menghasilkan identifikasi adanya sub-arena dalam biologi yang cenderung saling bertentangan, sekaligus terdapat arena non-keilmuan biologi yang terlibat dalam diskursus rekayasa genetika tanaman pangan, yakni arena ekonomi-politik. Diskursus genetika tersebut mengarah pada adanya dominasi paradigma reduksionisme pada arena biologi, dan dominasi paradigma neo-liberalisme pada arena ekonomi-politik. Kedua paradigma tersebut bertemu pada narasi besar “upaya mengatasi krisis pangan”.
Kata Kunci : Bourdieu, Sosiologi IPTEK, rekayasa genetika, krisis pangan, biologi