Melacak Interaksi Institusi Formal dan Informal dalam Pengelolaan Sampah di TPST Piyungan, Kabupaten Bantul
Grace Oktavia Audry, Dr. Amalinda Savirani, S.I.P., M.A.
2024 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN
Tulisan ini akan menjawab rumusan masalah bagaimana institusi informal pemulung di TPST Piyungan dapat terbentuk dan bagaimana dinamika relasinya dengan institusi formal pada pengelolaan sampah di TPST Piyungan. Penelitian ini dirancang menggunakan teori institusi informal serta metode kualitatif dengan fokus memperdalam studi kasus. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi pustaka guna menjawab rumusan masalah.
Hasil dari penelitian ini menggambarkan bahwa pergantian pengelola TPST Piyungan mempengaruhi interaksi yang terjadi antara institusi formal dan masyarakat. Ketika interaksi yang terjadi sudah tidak berjalan secara intens, maka ketika kinerja institusi formal dinilai kurang efektif, masyarakat akan memilih ruang informal untuk menyuarakan kepentingannya. Dalam hal ini, relasi yang baik, kesamaan tujuan serta semangat antara masyarakat dengan Komunitas Pemulung Mardiko menyebabkan masyarakat lebih memilih mengandalkannya dalam menuntut solusi akibat dampak pengelolaan TPST Piyungan yang kurang optimal. Dinamika relasi antara Komunitas Pemulung Mardiko sebagai institusi informal dan pengelola TPST Piyungan sebagai aktor formal menggambarkan bahwa relasi kedua institusi bukan merupakan produk akhir, namun dapat berubah menyesuaikan situasi (baik yang sifatnya internal maupun eksternal) serta kepentingan masing-masing institusi. Kendati demikian, kedua institusi memiliki sumber kuasanya masing-masing. Pengelola TPST Piyungan sebagai institusi formal memiliki kuasa penuh dalam ranah negara melalui aturan formal. Di sisi lain, karena wewenang institusi formal dinilai tidak terimplementasikan dengan baik melalui pengelolaan TPST Piyungan yang efektif, masyarakat memilih untuk berkolaborasi dengan Komunitas Pemulung Mardiko sebagai institusi informal guna mencapai tujuannya. Dengan demikian, pada ranah masyarakat, institusi informal dianggap lebih legitimate.
This study aims to address how informal scavenger institutions are formed at TPST Piyungan and to explore the dynamics of their relationship with formal institutions in waste management at the site. The research is grounded in informal institution theory and utilizes qualitative methods, employing a focused case study approach. Data collection involved in-depth interviews, observations, and literature reviews to address the research questions.
The findings depict that changes in TPST Piyungan management influence the interactions between formal institutions and the society. When these interactions become less effective and the performance of formal institutions is perceived as inadequate, the society resorts to informal channels to voice its concerns. Consequently, strong relationships, shared goals, and mutual support between the society and the Mardiko Scavenger Community lead to increased reliance on informal institutions to address the shortcomings of TPST Piyungan's management. The dynamic relationship between the Mardiko Scavenger Community as an informal institution and TPST Piyungan management as a formal actor reveals that their interaction is not static but responsive to internal and external factors and the interests of each institution. Despite this, both institutions wield their own forms of authority. TPST Piyungan management, as a formal institution, holds legal authority within the state framework through formal regulations. Conversely, due to perceived inadequacies in the implementation of formal institutions, particularly in effectively managing TPST Piyungan, the society chooses to collaborate with the Mardiko Scavenger Community, viewing it as an alternative to achieve their goals. Thus, within the society context, informal institutions are considered more legitimate due to their responsiveness and effectiveness in addressing local concerns compared to formal counterparts.
Kata Kunci : Institusi informal, komunitas pemulung, pengelolaan sampah