Membangun ruang publik bagi anak secara partisipatif
WICAKSONO, Beta Tony Agus, Drs. Lambang Trijono, MA
2004 | Tesis | S2 SosiologiAnak sebagai bagian dari masyarakat, memiliki berbagai kepentingan dan kebutuhan yang telah melekat sejak mereka lahir. Meskipun demikian perlindungan dan pelaksanaan hak-haknya masih belum bisa dirasakan oleh sebagian anak-anak, sehingga pada 20 Nopember 1989 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menyetujui Konvensi Hak-hak Anak (Convention on The Right of The Child). Pemerintah Indonesia sendiri telah meratifikasinya pada tahun 1990. Pada kenyataannya, hak-hak anak (hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan dan partisipasi) masih belum dapat dirasakan sepenuhnya oleh anak-anak. Di sekitar kita masih seringkali terjadi proses dominasi yang dilakukan oleh orang dewasa (dalam keluarga dan masyarakat) sehingga anak menjadi termarjinalkan. Anak-anak tidak mendapat jaminan perlindungan bagi hidup, proses tumbuh kembang, partisipasi dalam berbagai aspek kehidupannya. Proses dominasi yang dilakukan oleh orang dewasa dapat terlihat misalnya dalam realitas kehidupan anak-anak di Desa Bomo (Dusun Salam dan Dusun Pule). Anak-anak di desa tersebut mengalami proses dominasi yang dilakukan oleh orang dewasa (dalam keluarga dan masyarakat) sehingga mereka tidak memiliki power untuk memperjuangkan berbagai kepentingan dan hak-haknya. Proses dominasi tersebut terjadi dalam berbagai segi kehidupan anak, misalnya hilangnya hak-hak politik anak yang seharusnya mereka terima dalam bentuk partisipasi kegiatan sosial kemasyarakatan, hilangnya kesempatan anak untuk memperoleh hakhaknya (bermain, belajar, tumbuh dan berkembang serta perlindungan) yang seharusnya mereka dapatkan dalam keluarga dan masyarakat. Anak-anak terpaksa harus bekerja yang dihargai ataupun tidak dihargai secara finansial. Anak seringkali diperlakukan dengan tidak adil dan dianggap sebagai bagian anggota keluarga/masyarakat yang eksistensinya tidak diperhitungkan. Anak seringkali menjadi korban berbagai kebijakan pemerintah, masyarakat, dan keluarga yang tidak peduli terhadap anak. Agar anak dapat memperoleh hak dan kepentingannya, diperlukan proses pemberdayaan yang bertujuan mengembangkan distribusi power (kekuasaan) yang lebih adil dan seimbang antara anak dengan orang dewasa (dalam keluarga dan masyarakat). Ada dua hal yang menarik untuk diperhatikan yaitu proses tersebut dilakukan atas dasar keberpihakan (subyektivitas bukan obyektivitas) terhadap pihak yang termarjinalkan. Hal kedua adalah proses tersebut dilakukan secara partisipatif, sehingga berbagai indikator dan proses yang dilakukan berusaha melibatkan sebanyak mungkin partisipasi pihakpihak yang “berkuasa†dan pihak yang “dikuasaiâ€. Proses yang berlangsung tersebut melibatkan pihak dari “luar†(ornop) yang berperan sebagai katalisator dan fasilitator. Proses tersebut dilakukan dengan mengembangkan dialog yang mampu meminimalisir dominasi diantara anak dan orang dewasa (dalam keluarga dan masyarakat) dengan metode-metode partisipatif yang familiar sehingga anak mampu mengemukakan pemikirannya dan orang dewasa dapat memahami berbagai persoalan, kepentingan dan kebutuhan anak. Metode-metode partisipatif tersebut dilakukan dalam tahap-tahap proses analisis masalah, perencanaan kegiatan, dan pelaksanaan kegiatan (termasuk di dalamnya proses evaluasi), sehingga melalui metode tersebut anak dan masyarakat dapat menjadi subyek berbagai upaya pemberdayaan yang dilakukan.
The objective of this participatory research was to study how to build the publicsphere for the marginal children with the participatory methods. The children have no power to get their rights because there were many dominations that family and society have been done. Children cannot get the protection guarantee for living, growing up process, and participation in their entire life aspect. The domination process that being performed by adult can be seen in life reality of children in Bomo Village (Dusun Salam and Dusun Pule) for instance. Children in that village get domination process from adult (in family or society) thus the children will not have power to strive for their importance and rights. The domination processes are happened in any life aspect of children, for example, the lost of politic right of children that supposed they receive in a form participation such as social activity, the opportunity lost of children for getting their rights (playing, studying, growing up, and protection) that they should get them in their family and community. The children are forced to work whether it will be respected by money or not. Children often get unfair treatment and they are just felt as a part of family or community with uncounted existence. Children are often become victim of many policies from government, community, and family who do not care about children. In order that the children will get their right and importance, it is need an empowerment process that has aim for developing the power distribution more fair and equal between child and adult (in family and community). There are two interesting points to be viewed. First, the process will be performed based on subjectivity not objectivity to marginal side. The second one is that process will be done by participation thus many indicators and processes will involve much participation from the “power†holder and the side that being dominated. Indeed, during progress of process there is outsider (NGO), but contribution of the outsider is just a catalyst and facilitator. The process will be performed by developing the dialog that is capable to eliminate the domination between children and adult (in family and society) using the familiar participatory method therefore children have effort to explain their idea and adult can comprehend many problems, importance and child’s necessity. Participatory methods are used in process phases of problem analysis, activity plan, and activity implementation (including evaluation process) thus by using that method, children and community will become a subject for any empowerment efforts.
Kata Kunci : Perlindungan Anak,Ruang Publik, domination, empowerment, participatory methods