Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Perilaku Swamedikasi Dismenore Primer pada Mahasiswi Universitas Gadjah Mada
FARAH FADIYA ROHMAT, Dr. apt. Nunung Yuniarti, S.F., M.Si. ; Prof. Dr. apt. Susi Ari Kristina, S.Farm., M.Kes.
2024 | Skripsi | FARMASI
Nyeri haid primer (dismenore) merupakan masalah kesehatan yang banyak dialami oleh wanita ketika mengalami menstruasi. Untuk mengatasi rasa nyeri yang timbul, banyak penderita dismenore yang memilih untuk melakukan pengobatan sendiri (swamedikasi). Dalam melakukan swamedikasi, diperlukan pengetahuan yang cukup agar pengobatan yang dilakukan dapat tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran pengetahuan dan perilaku swamedikasi dismenore primer serta hubungan antara keduanya pada kalangan mahasiswa Universitas Gadjah Mada.
Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan subjek penelitian mahasiswi Universitas Gadjah Mada sebanyak 119 responden. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Februari-Maret 2024 menggunakan metode convenience sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner yang telah dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas. Kuesioner penelitian ini dibuat dalam bentuk googleform yang disebarkan secara daring. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif menggunakan uji statistik chi-square dengan taraf kepercayaan 95% (P<0>
Hasil penelitian menunjukkan terdapat 54 (45,5%) responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik dan 65 (54,6%) responden memiliki tingkat pengetahuan yang kurang. Sejumlah 40 (33,6%) responden memiliki perilaku positif dan 79 (66,4%) responden memiliki perilaku yang negatif. Hasil uji chi-square menunjukkan tidak ditemukan hubungan antara asal klaster terhadap tingkat pengetahuan (p-value= 2,137) dan perilaku swamedikasi dismenore primer (p-value= 1,869). Selanjutnya juga tidak ditemukan hubungan antara tahun angkatan terhadap tingkat pengetahuan (p-value= 2,922) dan perilaku swamedikasi dismenore primer (p-value= 1,435). Selain itu, uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan terhadap perilaku swamedikasi dismenore primer (p-value= 0,000). Hasil dari penelitian ini perlu dilakukan evaluasi kembali meliputi penyebaran kuesioner yang lebih luas dan dilakukan penambahan butir pernyataan pada kuesioner sehingga didapatkan informasi terkait swamedikasi yang lebih mendalam. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada tenaga kesehatan di Indonesia dalam meningkatkan edukasi mengenai swamedikasi dismenore primer di masyarakat terutama di kalangan mahasiswi.
Primary dysmenorrhea is a common health problem that most women experience during menstruation. To overcome the pain they feel, most women choose to do self-medication. Sufficient knowledge is needed in self-medication so that the treatment is right. This research aims to determine the description of knowledge level and behavior of primary dysmenorrhea self-medication and their correlation among female students in Universitas Gadjah Mada.
This research uses a cross-sectional study design with 119 Universitas Gadjah Mada undergraduate female students as participants. Samples were taken in February-March 2024 using the convenience sampling method. The instrument of this research is a questionnaire that has gone through validity and reliability tests. This research uses an online questionnaire through Google Forms and distributed. The data were analyzed descriptively then the correlation between the knowledge level and behavior of primary dysmenorrhea self-medication was analyzed using the chi-square statistical test with a confidence level of 95% (P<0>
The research results show that there were 54 (45,5%) respondents who had good knowledge while 65 (54,6%) respondents had poor knowledge. additionally, 40 (33,6%) respondents had positive attitudes while 79 (66,4%) respondents had negative attitudes toward primary dysmenorrhea self-medication. The result of the Chi-square test showed that there was no significant correlation between the level of knowledge (p-value= 2,137) and behavior of primary dysmenorrhea self-medication (p-value= 1,869) with the cluster. Furthermore, there was no significant correlation between the level of knowledge (p-value= 2,922) and behavior of primary dysmenorrhea self-medication (p-value= 1,435) with the year of study. Apart from that, the Chi-square test showed that there was a significant correlation between the level of knowledge and behavior of primary dysmenorrhea self-medication (p-value=0,000). Therefore, the results of this research need to be re-evaluated including distributing the questionnaire more widely and adding items to the questionnaire to obtain more in-depth self-medication information. It is hoped that the results of this research can provide input to health workers in Indonesia, in increasing education about the primary dysmenorrhea self-medication in the community, especially among students.
Kata Kunci : Swamedikasi, Dismenore Primer, Pengetahuan, Perilaku