Laporkan Masalah

Modal sosial dan pengembangan institusi lokal :: Penelitian kinerja Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) P2KP di Desa Semin Kecamatan Semin dan Desa Kepek Kecamatan Saptosari Kabupaten Gunungkidul

JATMIKO, Irawan, Dr. Suharko

2004 | Tesis | S2 Sosiologi

Masalah kemiskinan saat ini dirasakan sudah sangat mendesak ditangani khususnya di wilayah perkotaan, salah satu ciri umum dari kondisi masyarakatnya yang miskin adalah tidak memiliki prasarana dan sarana dasar perumahan dan pemukiman yang memadai, kualitas lingkungan yang kumuh dan tidak layak huni. Pada tahun 1996 jumlah penduduk miskin di perkotaan adalah 7,2 juta orang atau sekitar 9,7% dari total penduduk kota saat itu. Jumlah ini meningkat 3 kali lipat menjadi sebanyak 22,6 juta orang atau sekitar 28,8% pada pertengahan tahun 1998 dan ditambah dengan jutaan orang yang sangat rentan untuk jatuh miskin (BPS, 1998). Beberapa program penanggulangan kemiskinan telah dilakukan namun pendekatan dan cara yang dipilih selama ini pelu diperbaiki dan disempurnakan, yaitu ke arah pengokohan kelembagaan masyarakat. Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) dikembangkan sebagai alternatif penyempurnaan program sebelumnya. Pelaksanaan program sepenuhnya kepada masyarakat melalui wadah yang dibentuk oleh masyarakat sendiri yaitu Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) yang beranggotakan tokoh masyarakat, perwakilan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), dan warga lainnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kontribusi ketersediaan modal sosial terhadap keberhasilan BKM. Lokasi penelitian yaitu BKM Semin dan BKM Kepek Kecamatan Saptosari Kabupaten Gunungkidul. Adapun perumusan masalah dinyatakan sebagai berikut: 1) Bagaimana kinerja BKM P2KP desa Semin dan desa Kepek ? dan 2) Sejauh mana kinerja BKM dipengaruhi oleh modal sosial yang terdapat dan berkembang dalam institusi BKM ?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini melalui pendekatan kualitatif dimana prosedur penelitian menghasilkan data deskriptif dan temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan antara lain: keberadaan institusi BKM pada kenyataanya tidak selalu efektif apabila tidak didukung oleh ketersediaan modal sosial, keberhasilan P2KP belum seluruhnya diimbangi pengakaran dan pengokohan kelembagaan dan kinerja BKM Semin lebih memiliki kemampuan dalam mengembangkan kapasitasnya dibanding BKM Kepek. Rekomendasi yang dihasilkan antara lain perlu dilakukan reorientasi program P2KP kepada masyarakat bahwa P2KP tidak hanya bertujuan kepada perguliran dana dan revitalisasi organisasi dan manajemen BKM serta diperlukan peran pemerintah lokal yang proporsional agar proses pemberdayaan masyarakat dan pembangunan partisipatif dapat lebih efektif.

Recently, poverty problem need urgent solution, especially in urban region. One of common characteristic from its social poverty condition is unavailable of basic infrastructure of adequate settlement and housing, poor quality environment and improper dwell. In the year 1996 impecunious urban resident is amount 7, 2 million people or about 9,7% from total population. Sum up this mount 3 times fold to become as much 22,6 million people or about 28,8% in the middle of the 1998, and also millions people who very susceptible to suffering poverty (BPS, 1998) Several poverty problem-solving programs have been conducted, but the method and approach have been chosen recently have to be improved; repaired and completed, by mean society institution improvement. P2KP (Urban poverty problem-solving programs) have been developed as alternative and improvement of previous programs. Program execution totally managed by society, through BKM (Community Based Organization) which formed from elite figure, delegation from KSM (Community Self-Supporting Group), and others. This research conducted to find out the contribution of availability of social capital to successfulness of BKM. Research Location conducted at BKM Semin and BKM Kepek of Sub district of Saptosari of Regency Gunungkidul. Problems formulation expressed as follows 1) How performance of BKM P2KP of Semin Village and Kepek Village? and 2) How far performance BKM influenced by social capital that is exist and expand in BKM institution? Method used in this research is qualitative approach where research procedure yields the descriptive data and its findings are not obtained by statistical procedure. The research concludes that the existence of BKM institution actually didn’t always effective if isn’t supported by availability of social capital, the successfulness of P2KP didn’t yet entirely followed by empowering and firmness of institutional and performance. BKM Semin having more ability in developing its capacities, if compared by BKM Kepek. Recommendation from this research is the necessity of a reorientation of P2KP program the to society, that P2KP didn’t only aimed to fund rotation and organizational revitalization and BKM management, and the necessity of proportional local government role for effective social empowering and participative development process.

Kata Kunci : Sosiologi,Kemiskinan,Lembaga Sosial BKM, Social capital, local institution Community Based Organization


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.