Pengaruh Komposisi Sampah Organik dan Volume EM4 terhadap Kualitas Kompos Pada Sistem Batch Composting di Agroeduwisata Lestari Mulya
ASIYAH, Dr. Wagiman, S.T.P., M.Si. ; Dr. Ir. Guntarti Tatik Mulyati, M.T.
2024 | Skripsi | TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
Pelepasan gas methana (CH4)
ke atmosfer salah satunya disebabkan oleh penumpukan sampah organik.
Agroeduwisata Lestari Mulya adalah contoh objek wisata yang masih membiarkan
sampah organiknya menumpuk tanpa dikelola. Sampah yang dihasilkan seperti rumput
liar, bonggol pisang, batang pisang dan dedaunan kering dapat ditangani dengan
teknik pengomposan. Sebagai tambahan, diperlukan pupuk starter, air, air cucian
beras, molase dan EM4. Metode yang digunakan pada
penelitian ini yaitu eksperimen dengan 6 kombinasi perlakuan, yaitu A1B1 = variasi sampah organik dengan C/N-ratio awal sebesar 25
dan 260 ml EM4, A1B2
= variasi sampah organik dengan C/N-ratio
awal sebesar 25 dan 520 ml EM4, A2B1 = variasi
sampah organik dengan C/N-ratio awal sebesar 30 dan 260 ml EM4, A2B2 = variasi sampah organik dengan C/N-ratio awal sebesar
30 dan 520 ml EM4,
A3B1 = variasi sampah organik dengan C/N-ratio
awal sebesar 35 dan 260 ml EM4 dan A3B2 = variasi
sampah organik dengan C/N-ratio awal sebesar 35 dan 520 ml EM4. Untuk
mengetahui kualitas kompos telah memenuhi standar SNI 19-7030-2004, dilakukan pengamatan parameter fisik dan pengukuran
terhadap suhu, pH dan kadar air setiap seminggu sekali, kadar karbon (C), nitrogen
(N) dan C/N-ratio setiap dua minggu sekali, dan kadar phosphor
(P) dan kadar kalium (K) pada akhir pengomposan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa perlakuan A1B1 dengan C/N-ratio awal 25 dan 260 ml EM4
adalah perlakuan terbaik setelah dibandingkan dengan standar SNI 19-7030-2004.
Selain itu, kandungan phosphor yang tinggi pada perlakuan A1B1 dibutuhkan
oleh pohon berbuah yang banyak dibudidayakan di Agroeduwisata Lestari Mulya.
One of the reasons
for the release of methane gas (CH4) into the atmosphere is the
accumulation of organic waste. Agroeduwisata Lestari Mulya is an example of a
tourist attraction that still allows organic waste to accumulate without being
managed. The resulting waste such as green grass, banana tubers, banana stems
and dry leaves can be handled using composting techniques. In addition, starter
fertilizer, water, rice washing water, molasses and EM4 are needed. The method
used in this research is an experiment with 6 treatment combinations, namely
A1B1 = variation of organic waste with initial C/N-ratio of 25 and 260 ml of
EM4, A1B2 = variation of organic waste with initial C/N-ratio of 25 and 520 ml
of EM4, A2B1 = variation of organic waste with initial C/N-ratio of 30 and 260
ml of EM4, A2B2 = variation of organic waste with initial C/N-ratio of 30 and 520
ml of EM4, A3B1 = variation of organic waste with initial C/N-ratio of 35 and 260
ml of EM4 and A3B2 = variation of organic waste with initial C/N-ratio of 35
and 520 ml of EM4. To determine whether the quality of the compost meets SNI
19-7030-2004 standards, physical parameters are observed and measurements are
made of temperature, pH and water content once a week, carbon (C), nitrogen (N)
and C/N-ratio once every two weeks, and phosphorus (P) and potassium (K) levels
at the end of composting. The research results showed that A1B1 with an initial
C/N-ratio of 25 and 260 ml EM4 was the best treatment after being
compared with the SNI 19-7030-2004 standard. Apart from that, the high
phosphorus content in the A1B1 treatment is needed by fruit-bearing trees which
are widely cultivated at Agroeduwisata Lestari Mulya.
Kata Kunci : C/N-ratio, EM4, kompos, sampah organik, unsur hara