Gentrification Process in The Area Around Jalan Kaliurang Bawah, Yogyakarta and Its Impact on Community
FAIZ RAHMATULLAH, Pinurba Parama Pratiyudha, S.Sos, M.A
2024 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Gentrifikasi telah banyak dibicarakan di Indonesia sejak tahun 2000-an. Seiring dengan bermutasinya kapitalisme, gentrifikasi menjadi lebih beragam. Sayangnya, kajian gentrifikasi masih dikungkung oleh konsep gentrifikasi Global North. Oleh karena itu, memang mendesak untuk mencari alternatif atau kritik sesuai dengan kondisi kontekstual kawasan tersebut. Menggunakan pendekatan pascakolonial dengan metode kualitatif, seperti observasi partisipatif, telaah pustaka, dan wawancara mendalam dengan 17 informan (penduduk, pendatang, dan pemilik usaha) di Yogyakarta, penelitian ini menemukan bahwa Indonesia merupakan kawasan yang pernah mengalami penjajahan pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, dan saat ini tengah mengalami penjajahan gaya baru, yaitu gentrifikasi. Gentrifikasi yang terjadi memiliki hubungan dengan praktik pembangunan yang ada, khususnya pembangunan daerah. Kami menyelidiki gentrifikasi di kawasan sekitar Jalan Kaliurang Bawah, yang terletak di Kabupaten Sleman, kawasan peri-urban yang padat penduduk di Yogyakarta. Kami menemukan bahwa gentrifikasi terjadi akibat masuknya mahasiswa, kondisi ekonomi yang tidak merata, dan kebijakan lokal yang berkorelasi dengan agenda pembangunan global. Hal ini mengakibatkan hilangnya situs fisik dan non-fisik dari wilayah ini. Selain itu, gentrifikasi juga berdampak pada mata pencaharian masyarakat, yaitu aspek kesehatan masyarakat, ekonomi, budaya lokal, dan eksklusivitas spasial. Terakhir, penelitian ini juga menemukan dimensi emansipasi sebagai upaya penduduk untuk melawan proses gentrifikasi yang terjadi.
Gentrification has been widely discussed in Indonesia since the 2000s. As capitalism mutates, gentrification becomes more diverse. Unfortunately, gentrification studies are still hegemonic by the Global North’s concept of gentrification. Therefore, it is indeed urgent to find alternatives or critique according to the area's contextual conditions. Using a postcolonial approach with qualitative methods, such as participatory observation, literature review, and in-depth interview with 17 informants (residents, migrant, and business owner) in Yogyakarta, this research found that Indonesia is a region that experienced colonization during the Dutch and Japanese colonial eras, and is currently experiencing “a new way” of colonization, specifically gentrification. Gentrification that occurs has a relationship with existing development practices, especially regional development. We investigate the gentrification in the area around the Lower Side of Kaliurang Street (Jalan Kaliurang Bawah), located in Sleman District, a high-densed peri-urban area in Yogyakarta. We found that gentrification occurred due to the influx of students, uneven economic conditions, and local policies that correlate with global development agenda. These resulted in the loss of physical and non-physical sites from this area. In addition, gentrification also impacts the community's livelihood, namely aspects of public health, economy, local culture, and spatial exclusivity. Lastly, this research also found an emancipation dimension as a resident's effort to "resist" the gentrification process that occurred.
Kata Kunci : gentrification, postcolonial, community livelihood, development, emancipation, Yogyakarta