Dinamika Pernikahan Anak di Desa Sarwodadi, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara
FIRDA RATIH ISNAINI, Dr. Krisdyatmiko, S.Sos., M.Si.
2024 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Pernikahan
anak merupakan masalah kompleks yang masih dihadapi oleh Indonesia. Fenomena
ini menjadi penting karena kaitannya dengan ancaman kekerasan, tidak
tepenuhinya hak anak, rendahnya kesejahteraan anak, hingga buruknya kualitas
generasi mendatang. Sebuah asumsi terkait kesejahteraan yang justru dirasakan
anak setelah menikah pun muncul. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan
untuk mengungkap bagaimana kesejahteraan anak yang melakukan pernikahan di Desa
Sarwodadi, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara.
Penelitian
ini menggunakan jenis kualitatif dengan pendekatan studi kasus sebagai metode
yang sesuai karena mampu mengungkap keunikan dari fenomena di wilayah tersebut.
Konsep dimensi kesejahteraan objektif dan subjektif dipilih sebagai pisau
analisis bagi aspek-aspek kehidupan anak yang melakukan pernikahan. Dalam
pengumpulan data, peneliti mewawancarai lima perempuan yang melakukan
pernikahan sebelum berusia 19 tahun, orang-orang terdekatnya, dan pemangku
kepentingan setempat. Hasilnya kemudian dianalisis menggunakan tiga langkah,
yaitu reduksi data, penyejian data, dan penarikan kesimpulan.
Penelitian ini mengungkap bahwa faktor pendorong terjadinya pernikahan anak adalah kondisi ekonomi keluarga dan putusnya pendidikan, keyakinan anak, dorongan dari orang tua dan mertua, serta praktik melangkahi regulasi. Selanjutnya, hasil temuan dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu sejahtera, tidak selau sejahtera, dan kurang sejahtera. Dimensi objektif menunjukkan belum tercapainya kesejahteraan. Di sisi lain, dimensi subjektif justru menunjukkan tercapainya kesejahteraan. Hal ini menujukkan bahwa secara normatif, anak yang melakukan pernikahan tidak sejahtera, tetapi berhasil menciptakan kesejahteraan subjektifnya sendiri. Penelitian selanjutnya yang dapat dikembangkan diantaranya pengembangan pendekatan kultural dalam mengatasi pernikahan anak, potensi naiknya angka pernikahan illegal, hubungan pernikahan anak dengan maraknya kasus anak stunting, dan kesejahteraan semu dalam pernikahan anak.
Child
marriage remains a complex issue faced by Indonesia. The phenomenon is
significant due to its association with threats of violence, the infringement
of children's rights, low child well-being, and the poor quality of future
generations. An assumption regarding the welfare condition experienced by
children after marriage also arises. Therefore, this study aims to reveal the
well-being of children who marry in Sarwodadi Village, Pejawaran District,
Banjarnegara Regency.
This
study uses a qualitative type with a case study approach as a suitable method
because it can uncover the uniqueness of the phenomenon in the area. The
concept of objective and subjective dimensions of well-being was chosen as an
analytical tool for aspects of the lives of children who marry. In collecting
data, the researcher interviewed five females who married before the age of 19,
their closest people, and local stakeholders. The results were then analyzed
using three steps: data reduction, data presentation, and conclusion drawing
The research reveals that the driving factors behind child marriage are family economic conditions and the interruption of education, children's beliefs, pressure from parents and in-laws, and the practice of bypassing regulations. Furthermore, the findings can be categorized into three groups: well-being, not consistently well-being, and less well-being. The objective dimension indicates that well-being has not been achieved. On the other hand, the subjective dimension shows that well-being has been attained. It indicates that, normatively, children who engage in marriage are not well-being but manage to create their subjective well-being. Further research that can be developed includes the development of cultural approaches to address child marriage, the potential increase in illegal marriages, the relationship between child marriage and the prevalence of stunted children, and the false sense of well-being in child marriages.
Kata Kunci : Pernikahan Anak, Kesejahteraan, Kesejahteraan Multidimensi