Analisis atribut seismik terhadap rekahan pada lapangan MYA bagian timur cekungan Sumatra Tengah
Darmiyana, Dr. Budi Eka Nurcahya, M.Si
2024 | Tesis | S2 Ilmu Fisika
Neraca Gas Bumi Indonesia tahun 2018-2027
menyatakan bahwa pasokan migas
cenderung menurun,
sedangkan kebutuhannya
diperkirakan meningkat signifikan pada tahun 2050. Sektor hulu migas Indonesia terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan migas dengan cara mengembangkan lapangan cadangan lama. Area penelitian
Lapangan MYA mulai beroperasi sejak 1976 dan berada di bagian timur Cekungan
Sumatra Tengah. Data yang
digunakan pada penelitian ini berupa data seismik refleksi
dan data sumur dengan target Formasi Telisa. Formasi Telisa dipilih karena
berperan sebagai caprock dan reservoar. Penelitian ini menerapkan
beberapa atribut seismik yaitu curvature, variance dan ant-track untuk
identifikasi rekahan. Pada bidang eksplorasi migas
keberadaan rekahan memiliki peranan penting karena berperan sebagai perangkap
dan migrasi hidrokarbon. Tujuan penelitian ini untuk memberikan rekomendasi
zona potensial hidrokarbon. Berdasarkan analisis hasil penelitian, didapatkan
bahwa pola struktur tinggian berada di barat laut dan tenggara dengan kedalaman
sekitar 250-550 feet. Area tinggian ini diasumsikan sebagai antiklin.
Pola struktur rendahan berada di barat hingga selatan yang berada pada
kedalaman 2100-3100 feet. Area rendahan ini diasumsikan sebagai area
migrasi hidrokarbon menuju antiklin. Patahan besar berupa patahan geser-turun
teridentifikasi dengan arah yang sama dengan antiklin yaitu barat laut-tenggara. Jumlah total rekahan yang diekstrak berjumlah
4.656 dengan deliniasi arah dominan tegak lurus terhadap sumbu antiklin
(hinge
perpendicular fracture). Rekahan
yang berorientasi tegak lurus terhadap sumbu antiklin memudahkan
hidrokarbon bermigrasi dan terakumulasi di area antiklin. Pada Lapangan MYA ini
terdapat 2 zona potensial hidrokarbon yaitu di sebelah barat laut dan tenggara
lapangan penelitian. 2 zona potensial ini direkomendasikan untuk dilakukan
pengembangan dalam kegiatan eksplorasi selanjutnya.
Indonesia's
Natural Gas Balance 2018-2027 states that the supply of oil and gas tends to
decrease, while the demand is expected to increase significantly by 2050.
Indonesia's upstream oil and gas sector continues to strive to meet oil and gas
needs by developing old reserve fields. The MYA field has been in operation
since 1976 and is located in the eastern part of the Central Sumatra Basin. The
data used in this study are reflection seismic data and well data targeting the
Telisa Formation. The Telisa Formation was chosen because it as a caprock and
reservoir. This study applies several seismic attributes, like curvature,
variance and ant-track for fracture identification. In the field of oil and gas
exploration, the existence of fractures has an important role because it acts
as a trap and migration of hydrocarbons. The purpose of this study is to
provide recommendations for potential hydrocarbon zones. Based on the analysis
of the research results, it was found that the highest structure pattern is
located the northwest and southeast with a depth of 250-550 feet. This high
area is assumed to be an anticline. The lowest structure pattern is located
west to south at a depth of 2.100-3.100 feet. This low area is assumed to be
the hydrocarbon migration area towards the anticline. Large shear-down faults
were identified in the same direction as the anticline, which is
northwest-southeast. The total of
extracted fractures is 4,656 with the dominant direction delineation perpendicular
to the anticline axis (hinge perpendicular fracture). Fractures oriented
perpendicular to the anticline axis facilitate hydrocarbons to migrate and
accumulate in the anticline area. In the MYA field, there are 2 potential
hydrocarbon zones, namely in the northwest and southeast of the research field.
These 2 potential zones are recommended for development in further exploration
activities.
Kata Kunci : Atribut Seismik, Cekungan Sumatra Tengah, Formasi Telisa Hidrokarbon, Rekahan