Laporkan Masalah

Pengaruh Aspek Kearifan Lokal terhadap Upaya Masyarakat dalam Menghadapi Bencana Erupsi Gunung Merapi (Studi Kasus: Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem)

YASMIN MUFIDA HIDAYAT, Dr. Ir. Tri Mulyani Sunarharum, S.T., IPU.

2024 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Tingginya ancaman dan risiko bencana yang dihadapi masyarakat lereng Gunung Merapi mendorong masyarakat untuk tangguh dan memiliki kesiapsiagaan yang memadai dalam menghadapi bencana erupsi Gunung Merapi. Ketangguhan menjadi salah satu fokus utama dalam RPJMD Kabupaten Sleman tahun 2021-2026, mengingat Kabupaten Sleman rawan akan berbagai macam bencana, termasuk letusan gunung api. Kondisi tersebut memicu penelitian ini untuk melihat ketangguhan masyarakat Kalurahan Purwobinangun yang mencakup Kawasan Rawan Bencana (KRB) I, II, dan III serta intervensi dari kearifan lokal dan kekuatan modal sosial seperti apa yang diterapkan dalam praktik-praktik kesiapsiagaan serta kolaborasi dengan intervensi eksternal. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan abduktif kualitatif, dengan metode pengumpulan data yaitu observasi primer, sekunder, serta wawancara dengan teknik snowball sampling yang kemudian dianalisis dengan metode analisis deskriptif dan analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketangguhan masyarakat Kalurahan Purwobinangun yang tinggi berawal dari kearifan lokal dengan membentuk berbagai forum lokal dari inisiatif masyarakat setempat dan hingga saat ini, kearifan lokal masih dimanfaatkan dalam mitigasi bencana, terutama dengan ilmu titen, yaitu penandaan tanda-tanda awal erupsi dari Gunung Merapi. Pemanfaatan kearifan lokal ini berlaku di KRB I, II dan III. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya kearifan lokal dan inisiatif komunitas dalam membangun ketangguhan masyarakat terhadap bencana alam. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan kebijakan mengenai ketangguhan yang melibatkan kearifan lokal.

The high threat and risk of disasters faced by the communities on the slopes of Mount Merapi encourage the community to be resilient and have adequate preparedness in facing the eruption of Mount Merapi. Resilience is one of the main focuses in the Sleman Regency RPJMD 2021-2026 document, considering that Sleman Regency is prone to various disasters, including volcanic eruptions. This condition triggered this research to look at the resilience of the Purwobinangun sub-district community, which includes Disaster Prone Area (KRB) I, II, and III, as well as cultural interventions in the form of local wisdom and the strength of social capital as applied in preparedness practices and collaboration with external interventions. This research method uses a qualitative abductive approach, with data collection methods namely primary, secondary observation, and interviews with snowball sampling techniques which are then analyzed using descriptive analysis and content analysis methods. The results showed that the high resilience of the community of Purwobinangun began with local wisdom by forming various local forums from the initiative of the local community and until now, local wisdom is still utilized in disaster mitigation, especially with the ilmu titen, which is the recognising of the initial signs of the eruption from Mount Merapi. This utilization of local wisdom applies in KRB I, II, and III. This finding underlines the importance of local wisdom and community initiatives in building community resilience to natural disasters. This research is expected to be a consideration in the formulation of policies regarding resilience involving local wisdom.

Kata Kunci : ketangguhan masyarakat, kearifan lokal, intervensi eksternal, bencana gunung api, Gunung Merapi

  1. S1-2024-460147-abstract.pdf  
  2. S1-2024-460147-bibliography.pdf  
  3. S1-2024-460147-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2024-460147-title.pdf