PENGATURAN HASIL KAYU PADA UNIT MANAJEMEN HUTAN RAKYAT (Studi Kasus Pada Hutan Rakyat Bersertifikat Lestari di Desa Selopuro dan Sumberejo, Kab.Wonogiri, Prop. Jawa Tengah)
Ratna Kurniawati, Dr.Ir. Ris Hadi Purwanto, M.Agr.,Sc.
2007 | Skripsi | S1 KEHUTANANForest cert(fication is one of market that suppose to promote and support forest protection and sustainable forest management. Owing the likely increase on the demand for certified timber, there is a concern on the possible over harvest on certified forest management unit. This research aims to know timber regulation, to estimate allowable harvest using methods Von Mantel in a certified trust management unit. The research was conducted in the two-LEI certified community forest unit in Selopuro and Sumberejo villages. Purpossive sampling employed to estimate the timber stock of the foresr area. The forest area of Sumberejo and Selopuro 38, 11 Ha respectively. The research reveals that the harvesting practice done by forest growers follow the sustainable principles that total harvest must not exceed the allowed level. In Selopuro the allowed harvest levels for teak, mahagony and acacia area 31,11 m3/Ha, 85,90 m3/Ha,and 2.82 m3/Ha respectively. Therefore, the annual allowable cut of Sumberejo forest area [or teak, mahagony and acacia area 2823,45 m3 , 56239,16 m3 , and 5247,46 m. Similarity , the annual allowable cut of selopuro forest the three species are 8174. 77 m3 , 22571.94 m3 , and 741.01 m3 respectively. The annually harvest of the teak and mahagony in Selopuro area 296,35 m3/years and 17 4, 67 m3 /years. Accordingly, the annual actual harvest in Sumberejo area 140, 38 m3 lyears, 1 I 8, 61 m3 /years. This means that the actual harvest do not exceed the allowable harvest, meaning that the current practices follow the sustainable yield principles.
Sertifikasi hutan adalah salah satu pendekatan pasar yang diperkirakan mampu menawarkan mekanisme yang efisien dalam mendukung dan membiayai perlindungan dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Dengan mendapatkan sertifikat lestari, sebuah unit manajemen dipandang telah mengelola hutannya dengan prinsip-prinsip kelestarian. Namun disisi lain, dengan meningkatnya permintaan kayu dari hutan rakyat bersertifikat dikhawatirkan bisa mendorong Unit Manajemen untuk memanen kayu melebihi etatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi kayu pada unit manajemen hutan rakyat bersertifikat, potensi kayu hutan rakyat, menghitung besarnya etat tebangan pada pengelolaan hutan rakyat dan mengevaluasi realisasi tebangan di lokasi penelitian. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling yaitu memilih dengan sengaja daerah yang sesuai dengan kasus yang akan diteliti. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan pada dua desa yaitu Desa Sumberejo dan Kelurahan Selopuro. Dari kedua desa tersebut dipilih tiga Kelompok Tani Hutan Rakyat (KTHR) yang aktif di dalam mengelola hutan rakyat. Untuk tiap lokasi masingmasing diambil lima belas responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengelolaan hutan rakyat bersertifikat di Desa Selopuro dan Sumberejo telah mengikuti prinsip kelestarian dengan menebang sesuai kebutuhan dan tidak melebihi etat. Di Desa Selopuro pemanenan yang diijinkan untuk kayu jati, mahoni dan akasia berturut-turut adalah 31, 11 m3 /Ha, 85,90 m3 /Ha, dan 2.82 m3 /Ha . Di Desa Sumberejo pemanenan yang diijinkan untuk kayu jati, mahoni dan akasia berturut-turut adalah 5,16 m3/Ha, 102,78 m3/Ha, dan 9,59 m3/Ha. Oleh karena itu, jumlah tebangan tahunan yang diijinkan untuk wilayah hutan Selopuro untuk kayu jati, mahoni dan akasia berturut-turut adalah 2823,45 m3, 56239,16 m3, dan 5247,46 m3 • Wilayah hutan Sumberejo untuk ke tiga jenis diatas berturut-turut adalah 8174.77 m3 , 22571.94 m3 , dan 741.01 m3 • Tiap-Tia???? tahun pemanenan kayu jati dan mahoni di wilayah Selopuro sejumlah 296,35 m /tahun dan I 74,67 m3/tahun. Jumlah pemanenan pertahun di wilayah Sumberejo sejumlah 140,38 m3 /tahun, 118,61 m3/tahun. Dari hasil penelitian diatas jumlah pemanenan tidak melebihi etat yang diijinkan, praktek yang dilakukan pengelola hutan saat ini telah mengikuti prinsip basil lestari.
Kata Kunci : certification, community forest, timber regulation, etat.