Laporkan Masalah

Pengaruh Pemekaran Wilayah dan Variasi Spasial terhadap Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Daerah Tumbuh Lambat

ADINDA BERLIN ANTIKA SARI LAVIDA, Doddy Aditya Iskandar, S.T., M.CP., Ph.D.

2024 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Pemekaran daerah merupakan salah satu bentuk desentralisasi yang masif dilakukan di Indonesia. Namun, beberapa daerah di antaranya justru masuk dalam kategori daerah tumbuh lambat. Tujuan utama berupa meningkatnya kesejahteraan kemudian menjadi pertanyaan. Penelitian ini berupaya mengidentifikasi pengaruh pemekaran wilayah pada 62 daerah yang masuk pada kategori tertinggal dengan mempertimbangkan variasi spasial dengan metode Geographically Weighted Regression (GWR). Melalui penelitian ini didapatkan hasil bahwa kondisi geografis yang heterogen menyebabkan adanya perbedaan pengaruh yang muncul pada tiap-tiap daerah. Secara keseluruhan, kapasitas kelembagaan dan variasi spasial menjadi aset utama yang berperan penting pada peningkatan kesejahteraan melalui pemekaran daerah. Hal ini menjadi temuan penting bagaimana strategi bagi daerah untuk mengejar ketertinggalan tidak hanya berfokus pada peningkatan potensi sumber daya yang dimiliki, tetapi juga pada kapasitas kelembagaan dalam melakukan alokasi yang tepat. Selain itu, variasi spasial yang diamati melalui tingkat konsentrasi penduduk perkotaan menunjukkan pengaruh yang positif terhadap tingkat kesejahteraan. Hal tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi penduduk di wilayah perkotaan mampu berperan sebagai modal utama penggerak ekonomi melalui adanya inovasi dan teknologi yang muncul akibat limpahan pengetahuan. Akibatnya, wilayah akan menghasilkan nilai tambah barang yang berimplikasi pada akselerasi pertumbuhan wilayah. Dua faktor tersebut diharapkan dapat menjadi fokus intervensi daerah tumbuh lambat dengan mempertimbangkan dua pendekatan, yaitu place-based dan people-based. Dengan demikian, daerah tumbuh lambat mampu mengejar ketertinggalannya dan tercipta pembangunan wilayah yang lebih merata.

Regional split is a form of decentralization widely implemented in Indonesia. However, the emergence of some of these regions as underdeveloped raises questions about the effectiveness of regional expansion in enhancing welfare. This study aims to identify the impact of regional split on 62 underdeveloped regions by considering spatial variations using the Geographically Weighted Regression (GWR) method. The results indicate that heterogeneous geographical conditions lead to varying impacts across different regions. Moreover, institutional capacity and spatial variation emerges as a crucial asset in improving welfare through regional split. This finding highlights that strategies for addressing underdevelopment should not solely focus on enhancing potential resource but also on strengthening institutional capacity to ensure effective resource allocation. Furthermore, spatial variations, evidenced by the concentration of urban populations, show a positive influence on welfare levels. This suggests that urban population concentration can function as a primary driver of economic growth, fostering innovation and technology through knowledge spillovers. Consequently, regions can generate added value, thereby accelerating regional development. These two factors are expected to become pivotal focal points for interventions in disadvantage region, employing both place-based and people-based approaches. Consequently, such strategies will empower underdeveloped regions to address their developmental disparities and foster more equitable regional development.

Kata Kunci : pemekaran daerah, daerah tumbuh lambat, desentralisasi, geographically weighted regression, kapasitas kelembagaan, variasi spasial

  1. S1-2024-463195-abstract.pdf  
  2. S1-2024-463195-bibliography.pdf  
  3. S1-2024-463195-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2024-463195-title.pdf