Sifat-sifat Kuantitatif Fase Starter dan Performa Produksi Telur pada Persilangan Ayam Lokal (F3) serta Korelasinya
YOVITA RAYI DATU DANESWARI, Dr. Ir. Heru Sasongko, M.P. ; Prof. Ir. Dyah Maharani, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM.
2026 | Tesis | S2 Ilmu Peternakan
Ayam lokal berpotensi dikembangkan untuk mendukung kemandirian pangan nasional sebagai sumber protein hewani. Upaya peningkatan produktivitas dapat dilakukan melalui persilangan dengan pola genetik berbeda, sehingga menghasilkan keturunan dengan kombinasi sifat beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbedaan sifat kuantitiatif fase starter (bobot badan dan ukuran tubuh) serta performa produksi telur dari enam pola persilangan ayam lokal, sekaligus menganalisis korelasi antar sifat tersebut sebagai dasar seleksi. Kegiatan penelitian berlangsung pada Januari–Agustus 2025 di Semanu, Gunungkidul. Materi yang digunakan yaitu 183 ekor ayam betina F3 hasil enam persilangan ayam lokal: A (KUB Jatinom X Merawang Sembawa), B (KUB Jatinom X Merawang Bangka), C (KUB Jatinom X Murung Panggang), D (KUB Bogor X Merawang Sembawa), E (KUB Bogor X Merawang Bangka), dan F (KUB Bogor X Murung Panggang). Data yang dikumpulkan meliputi bobot badan dan ukuran tubuh fase starter, serta performa produksi telur. Analisis menggunakan Oneway ANOVA, uji lanjut DMRT, dan uji korelasi Pearson dengan SPSS 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada beberapa sifat kuantitatif dan performa produksi telur antar enam pola persilangan. Pola B merupakan persilangan unggulan karena memiliki bobot badan yang konsisten tinggi selama fase starter, umur bertelur paling cepat (23.65±2.67 minggu) dengan bobot badan pertama bertelur sebesar 2111,2±191,6 g. Korelasi antara sifat kuantitatif fase starter dengan performa produksi telur sangat lemah hingga lemah (r = 0,00-0,399) dan korelasi antara BBPB dengan HDP juga sangat lemah (r = 0,082) sehingga tidak dapat dijadikan variabel yang baik untuk memprediksi produktivitas telur pada ayam lokal.
Local chickens possess significant potential to support national food self-sufficiency as a sustainable source of animal protein. Enhancing their productivity can be achieved through crossbreeding among genetically diverse local strains, enabling the development of superior genotypes. This study aimed to evaluate quantitative traits during the starter phase (body weight and body size) and egg production performance across six local chicken crossing patterns, as well as to analyze the correlations among these traits as a selection basis. The research was conducted from January to August 2025 in Semanu, Gunungkidul, using 183 F3 female chickens derived from six local chicken crossbreeds: A (KUB Jatinom × Merawang Sembawa), B (KUB Jatinom × Merawang Bangka), C (KUB Jatinom × Murung Panggang), D (KUB Bogor × Merawang Sembawa), E (KUB Bogor × Merawang Bangka), and F (KUB Bogor × Murung Panggang). Data were analyzed using one-way ANOVA, Duncan’s Multiple Range Test, and Pearson’s correlation with SPSS 26. The results revealed that the F3 cross of KUB Jatinom × Merawang Bangka (B) exhibited superior performance, characterized by consistently high body weight during the starter phase, the earliest age at first egg (23.65 ± 2.67 weeks), and body weight at first egg is 2111.2 ± 191.6 g. Correlations between starter phase quantitative traits and egg production performance were very weak to weak (r = 0.00–0.399), and the correlation between body weight at first egg and hen-day production was also very weak (r = 0.082). These results indicate that starter phase quantitative traits and body weight at first egg are not reliable predictors of egg productivity in local chickens.
Kata Kunci : Ayam lokal, Bobot badan, Korelasi, Produksi telur, Ukuran tubuh / Body size, Body weight, Correlation, Egg production, Local chicken