Laporkan Masalah

KUNTING : PEWAJARAN STUNTING DI DESA PANDANSARI, KECAMATAN PAGUYANGAN, KABUPATEN BREBES

WAHYU LESTARININGSIH, Dr. Atik Triratnawati, M.A.

2024 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA

Stunting telah menjadi masalah kesehatan global yang serius dan kompleks. Merespon kondisi tersebut, pemerintah pusat dan daerah di Indonesia sudah berupaya dalam menanggulangi stunting melalui berbagai program. Misalnya, Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes menjalankan beberapa program inovatif seperti, Gerakan Atasi Stunting Peduli Donasi Telur (GASPOL), Dapur Sehat Atasi Stunting (DAHSAT), dan berbagai edukasi serta penyuluhan. Akan tetapi, di masyarakat masih bertahan pandangan yang mewajarkan stunting yang berakibat kurang maksimalnya program yang sudah dijalankan. Meskipun Pemerintah Kabupaten Brebes telah mengklaim bahwa angka stunting pada balita terus menurun dalam tiga tahun terakhir, tetapi kasus stunting masih banyak ditemui salah satunya di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan stunting dianggap hal biasa di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes.
Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi dengan melakukan studi pustaka, observasi, dan wawancara mendalam. Pengumpulan data etnografi dilakukan di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah pada bulan September – Oktober 2023.
Berdasarkan pertanyaan yang telah diajukan, hasil penelitian ini menunjukan bahwa masyarakat mewajarkan stunting dipengaruhi oleh tingginya kasus stunting, basis pemahaman yang tidak lengkap tentang stunting, masih terdapat anggapan stunting sebagai faktor keturunan, dan terdapat pengetahuan lokal (kunting) yang tidak mengandung konotasi negatif.



Stunting has become a serious and complex global health problem. Responding to these conditions, the central and regional governments in Indonesia have made efforts to tackle stunting through various programs. For instance, the Regional Government of Brebes Regency runs several innovative programs such as Gerakan Atasi Stunting Peduli Donasi Telur (GASPOL), Dapur Sehat Atasi Stunting (DAHSAT), and various educational programs. However, in society, there is still a view that stunting is normal which results in less than optimal programs that have been implemented. Even though the Brebes Regency Government has claimed that the stunting rate among toddlers has continued to decline in the last three years, there are still many cases of stunting, one of which is in Pandansari Village, Paguyangan Subdistrict, Brebes District. This research aims to find out why stunting is considered normal in Pandansari Village, Paguyangan Subdistrict, Brebes District.
This research uses an ethnographic approach by conducting literature studies, observations, and in-depth interviews. Ethnographic data collection was carried out in Pandansari Village, Paguyangan District, Brebes District, Central Java in September – October 2023.
Based on the questions that have been asked, the results of this research show that society's perception of stunting is influenced by the high number of stunting cases, an incomplete understanding of stunting, the belief that stunting is a hereditary factor, and local knowledge (kunting) that does not contain negative connotations.



Kata Kunci : Kata kunci : stunting, pewajaran, program, pengetahuan lokal

  1. S1-2024-455919-abstract.pdf  
  2. S1-2024-455919-bibliography.pdf  
  3. S1-2024-455919-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2024-455919-title.pdf