Laporkan Masalah

Nilai anak dan jumlah anak yang diinginkan pada buruh wanita pemetik teh di perkebunan Bedakah kecamatan Kertek kabupaten Wonosobo

Dian Wiwahani, Drs. Kasto, M.A.

1986 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Penulisan ini menyajikan hasil penelitian dengan obyek penelitian nilai anak, yang bertujuan untuk mengetahui pan¬dangan orang tua terhadap nilai anak, baik nilai positif maupun nilai negatif dan pengaruhnya terhadap besarnya ke¬luarga yang diinginkan, serta untuk mengetahui pengaruh fak¬tor-faktor demografi ekonomi terhadap besarnya keluarga yang diinginkan. Faktor-faktor itu adalah usia, usia kawin perta¬ma, jumlah anak masih hidup, jumlah anak yang telah mati, tingkat pendapatan dan jarak dari rumah ke tempat kerja. Daerah penelitian ditentukan secara purposive sampling, yaitu daerah pegunungan di sekitar perkebunan teh Bedakah kecamatan Kertek kabupaten Wonosobo, dengan responden ibu rumah tangga yang berusia 15 - 44 tahun, yang berstatus kawin, serta bermata pencaharian sebagai buruh pemetik teh. Dari 150 orang diambil 120 orang sebagai responden secara random, ditambah suami responden. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder, sedangkan analisanya menggunakan analisa tabel. Dari hasil penelitian diperoleh, rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup adalah 2,3. Jika dilihat dari sudut keuntungan mempunyai anak, sebagian besar (49,2%) menyatakan anak sebagai jaminan dihari tua; sedangkan kerugian mempunyai anak yang menonjol (48,3%) adalah tuntutan fisik yaitu anak merepotkon orang tua dalam bekerja. Rata-rata jumlah anak yang diinginkan 2,7; dengan preferensi anak laki-laki lebih banyak disukai daripada anak perempuan. Pada umumnya respon¬den setuju terhadap keluarga berencana, dan dalam prakteknya 83,3% (100 responden) pernah memakai salah satu alat kontra¬sepsi, dan dari 100 responden yang saat ini masih memakai sebanyak 78% (78 responden). Jumlah anak yang diinginkan/besarnya keluarga yang di-inginkan dipengaruhi oleh usia, usia kawin pertama, jumlah anak masih hidup(AMH), jumlah anak yang telah mati, tingkat pendapatan serta jarak dari rumah ke tempat kerja. Pada usia semakin tua terdapat kecenderungan tidak menambah anak lagi. Usia kawin pertama, jumlah anak masih hidup (AMH), masing¬masing terhadap jumlah anak yang diinginkan, menunjukkan si¬fat hubungan yang negatif, sedangkan jumlah anak yang telah mati, tingkat pendapatan dan jarak dari rumah ke tempat ker¬ja, menunjukkan sifat hubungan yang positif terhadap jumlah anak yang diinginkan. Pandangan nilai anak memberikan manfaat ekonomi bagi orang tua, dan memberikan bantuan mengerjakan pekerjaan ru¬mah tangga, bukan merupakan motif untuk menginginkan keluar¬ga besar, bahkan nilai anak ketiga dan seterusnya, nilai ne¬gatif sudah atau mulai dirasakan oleh mereka bahwa anak akan menjadi masalah, tidak saja karena mengganggu kegiatan/kerja sehari-hari tetapi juga faktor ekonomi. Berarti pembentukan norma keluarga kecil mempunyai prospek yang cukup baik.

-

Kata Kunci : Buruh wanita,Demografi,Wonosobo,Jawa Tengah

  1. S1-1986-2274-Dian_Wiwahani_abstract.pdf  
  2. S1-1986-2274-Dian_Wiwahani_bibliography.pdf  
  3. S1-1986-2274-Dian_Wiwahani_tableofcontent.pdf  
  4. S1-1986-2274-Dian_Wiwahani_title.pdf